Mohon tunggu...
Kris Wantoro Sumbayak
Kris Wantoro Sumbayak Mohon Tunggu... Pengamat dan komentator pendidikan, tertarik pada sosbud dan humaniora

dewantoro8id.wordpress.com • Tak limpah materi, tapi membeli buku. Tak pintar, maka terus membaca.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Membeli Buku, Peperangan untuk Mengumpulkan "Jarahan"

20 Mei 2020   01:06 Diperbarui: 20 Mei 2020   01:21 74 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membeli Buku, Peperangan untuk Mengumpulkan "Jarahan"
Koleksi "jarahan" yang belum semua terbaca | KRIS WANTORO

Ribuan tahun lalu, jika dua negara berperang yang menang memboyong jarahan dari lawannya berupa perempuan, anak-anak, emas, perak, hewan ternak, serta mahkota kepala raja. 

Demikian juga halnya dilakukan negara penjajah atas kekayaan dan benda berharga dari negara jajahannya. Seperti keris Diponegoro yang kapan lalu baru dikembalikan oleh Raja Belanda, Willem Alexander saat berkunjung ke Indonesia. Berlian Banjarmasin yang dijarah pemerintah kolonial juga dituntut oleh Kesultanan Banjar.

Ngomong-ngomong tentang perang, saat parlemen seluruh dunia mengokang bedil pada Corona, tuan dan puan DPR kita justru tidak menganggapnya perang. Ops, colek Mbak Nana.

Tanggal 17 lalu kita baru saja merayakan Hari Buku Nasional. Satu sisi kita bangga, dimanifestasikan dengan perpustakaan tertinggi di dunia. Di sisi sebaliknya kita malu, karena ketinggian-yang-paling itu beradu punggung dengan hasrat baca nasional. Programme for Internasional Student Asessment (PISA) 2018 salah satu indikatornya. Di bidang membaca, Indonesia menduduki peringkat enam, dari bawah. Menyejajari telapak kaki Panama pun tak mampu. (bbc.com)

Menyedihkan. Jelas Indonesia belum siap berperang. Apa hubungannya membaca dengan perang? Bagi saya, perang di sini berarti melawan musuh bernama kemalasan, kebodohan, kemiskinan, kesoktahuan dan kekerdilan berpikir. Jika kita tidak melawan, maka kitalah yang menjadi jarahan musuh-musuh itu. Maka satu-satunya cara melumat musuh adalah dengan membaca, membaca, membaca sampai tak ada lagi yang bisa dibaca.

Bagi saya, membeli buku adalah mengumpulkan "jarahan". Sulit menikmati buku jika tidak memilikinya.

Dengan kemampuan berpikir berkapasitas disket, saya lupa kapan pertama kali meraih "jarahan". Kalau tidak salah Oktober 2015---waktu itu sedang mempertaruhkan kepercayaan bapak di tahun terakhir kuliah---saya paksa adik saya ikut melanglang ke Gramedia Jl. Pandanaran Semarang untuk membeli buku biografi Andy F. Noya dan Butet Manurung. Itu pun dengan uang saku pemberian ayah rohani. Perekonomian orang tua menyajikan realita, saya takkan mampu membeli buku. Namun dengan tekad memerangi jajan, saya dapat "jarahan".

Tidak kapok, di ujung batas kewarasan, Desember 2015 saya mengantar saudara KTB (kelompok persekutuan kampus) yang akan pulang ke Nias, sempat mbolang ke Jakarta dua hari. Dibela-belain mampir ke Gramedia untuk membeli biografi Rudy Habibie dan Mohammad Hatta. Bagaimana mau disebut waras, secara waktu itu baru selesai seminar hasil dan belum punya pekerjaan. Membeli buku pakai uang saku pemberian ibu, yang harusnya untuk jaga-jaga dalam perjalanan. Heyaaa... Tak mengapa. Toh dengan melangkahi kemiskinan saya kembali dapat "jarahan".

Peperangan berikutnya, saya dalam proses melamar pekerjaan di sebuah sekolah swasta di Surabaya. Bayangkan, untuk transport naik kereta dan biaya makan saya masih menadahkan tangan pada orang tua, eh, berani-beraninya mampir Gramedia Solo di Jl. Slamet Riyadi. Dapat lagi satu "jarahan".

Tak sampai hitungan bulan, saya diterima bekerja di Surabaya itu. Pas masih miskin saja berani maju "berperang", coba tebak tingkah ketika sudah bekerja? Tentu saja, saya semakin giat membeli buku. Minimal sebulan sekali ke toko buku "mengambil satu jarahan". Belum terhitung jika ada bedah gudang Gramedia di daerah Rungkut Industri, dan pernah sekali ke Big Bad Wolf book di JX International Surabaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x