Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis - Penulis #Peraih Best In Fiction Kompasiana Award 2018#

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Bintang di Langit nan Abu-abu

3 Maret 2020   07:57 Diperbarui: 3 Maret 2020   08:02 432
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Maaf, tadi hujan lumayan deras. Saya butuh hati-hati di jalan."

"Tak apa. Anda sudah ditunggu di dalam."

"Baiklah," jawabnya pendek. 

Hawa dingin menerpa. Ada semacam selasar untuk mencapai ruangan yang dituju. Seseorang yang membukakan pintu tadi hanya membungkam, mengisyaratkan agar mengikuti tanpa banyak pertanyaan. Baiklah. Semua ini ia lakukan demi keinginan yang ia cita-citakan. Meski melewati jalan terjal berliku.

Ia adalah mahasiswa jurusan musik di salah satu universitas di kota ini. Sambil menjalani kuliah yang sudah beberapa semester, ia bekerja sebagai tukang pijat. Bahkan untuk menjadi tukang pijat, ia kursus massage dua bulan lamanya. 

"Ini pekerjaanku, harus profesional." katanya dalam hati.

Ia mempersiapkan semua piranti kebutuhan kerja. Dari peralatan, hingga persiapan mental. Pekerjaannya menuntut kuat. Berbeda dengan pekerjaan lainnya. 

Sebagai seorang pemijat, ia memang beruntung mendapatkan klien yang bisa dibilang diluar rata-rata. Banyak orang terkenal yang menjadi kliennya. Bahkan kadang artis ternama.

"Saya harap nanti anda tak banyak bicara pada bapak. Bicaralah seperlunya." kata orang yang membukakan tadi. Ia mengangguk. "Ya. Aku mengerti. Tak boleh bicara banyak artinya tak banyak pertanyaan." katanya. 

Yang akan dihadapinya adalah orang penting. Ia pasti tak ingin rahasianya diketahui banyak orang. 

Memang pekerjaannya secara personal. Harus datang ke rumah, bertemu langsung. Ia mengerti, biasanya, sebuah rumah menyimpan segala rahasia yang tidak diketahui publik. Meski ia orang populer di luar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun