Mohon tunggu...
Widodo Judarwanto
Widodo Judarwanto Mohon Tunggu... Dokter - Penulis Kesehatan

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. Telemedicine 085-77777-2765. Focus Of Interest : Asma, Alergi, Anak Mudah Sakit, Kesulitan Makan, Gangguan Makan, Gangguan Berat Badan, Gangguan Belajar, Gangguan Bicara, Gangguan Konsentrasi, Gangguan Emosi, Hiperaktif, Autisme, ADHD dan gangguan perilaku lainnya yang berkaitan dengan alergi makanan.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan dan Pencegahannya

3 Mei 2024   10:43 Diperbarui: 4 Mei 2024   15:23 610
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebagian masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan Gunung Berai pasti akrab dengan masalah bahaya erupsi gunung berapi khususnya di bidang kesehatan. Beberapa dampak kesehatan yang bisa terjadi dan dapat dicegah adalah masalah paru, mata dan kulit 

Abu vulkanik terdiri dari partikel halus batuan vulkanik yang terfragmentasi berukuran diameter kurang dari 2 mm. Abu vulkanik sering kali bersifat panas di dekat gunung berapi, tetapi menjadi dingin jika jatuh pada jarak yang lebih jauh. Hal tersebut terbentuk selama ledakan gunung berapi, dari longsoran batu panas yang mengalir di sisi gunung berapi, atau dari semburan lava cair panas. Tampilan abu bervariasi tergantung pada jenis gunung berapi dan bentuk letusannya.

Oleh karena itu, warnanya dapat bervariasi dari abu-abu muda hingga hitam dan ukurannya dapat bervariasi dari seperti pasir hingga sehalus bedak talk. Abu di udara menghalangi sinar matahari, mengurangi jarak pandang dan terkadang menyebabkan kegelapan total pada siang hari. Partikel-partikel debu vulkanik memainkan peran mendasar sebagai komponen yang paling beracun dalam emisi yang terkait dengan lalu lintas.

Paparan jangka pendek terhadap fraksi yang terdiri dari partikel dengan diameter di bawah 10 mikron (PM10), dan terutama yang berdiameter kurang dari 2,5 mikron (PM2.5), dapat memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada sebelumnya dan meningkatkan kematian dini di antara pasien dengan penyakit kronis.

Paparan yang lebih lama, mungkin hanya beberapa tahun, telah terbukti berkontribusi terhadap peningkatan angka kematian akibat penyakit pernafasan, kardiovaskular, dan kanker. Abu vulkanik dari letusan biasanya mengandung sebagian besar berat PM2.5.

Konsentrasi partikulat di udara ini dapat melebihi batas kualitas udara yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan jika terjadi letusan singkat, dan bertahun-tahun setelah letusan yang lebih lama. Gejala pada penderita asma atau penyakit paru kronis lainnya juga terlihat kambuh setelah terkena abu secara akut

Pada sebagian besar letusan, abu vulkanik hanya menimbulkan sedikit masalah kesehatan, namun menimbulkan banyak kekhawatiran. Masyarakat mungkin lebih takut terhadap bahaya kesehatan akibat abu dan gas vulkanik dibandingkan risiko kematian akibat bahaya yang lebih besar, seperti aliran piroklastik.

Dampak abu terhadap kesehatan

Dampak abu terhadap kesehatan dapat dibagi menjadi beberapa kategori: efek pernafasan, gejala mata, iritasi kulit dan efek tidak langsung. Pada beberapa letusan, partikel abu bisa sangat halus sehingga terhirup jauh ke dalam paru-paru. Dengan paparan yang tinggi, bahkan individu yang sehat pun akan mengalami ketidaknyamanan dada disertai peningkatan batuk dan iritasi. Gejala akut (jangka pendek) yang umum meliputi:

Iritasi dan keluarnya cairan dari hidung (pilek)

Iritasi tenggorokan dan sakit tenggorokan, terkadang disertai batuk kering. Orang dengan keluhan dada yang sudah ada sebelumnya dapat mengalami gejala bronkitis parah yang berlangsung beberapa hari setelah terpapar abu (misalnya, batuk terus-menerus, produksi dahak, mengi, atau sesak napas).

Iritasi saluran napas bagi penderita asma atau bronkitis; Keluhan umum penderita asma antara lain sesak napas, mengi, dan batuk.

Pernapasan menjadi tidak nyaman

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun