Mohon tunggu...
Vilya Lakstian
Vilya Lakstian Mohon Tunggu...

Penulis adalah Dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Surakarta, Akademi Bahasa Asing Harapan Bangsa, dan International Hospitality Center. Selain mengajar mahasiswa, dia juga mengajar untuk staff hotel, pelayaran, dan pramugari. Penulis adalah lulusan Pascasarjana Prodi Linguistik Deskriptif di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Sarjana Sastra Inggris konsentrasi Linguistik di IAIN Surakarta. Penulis aktif dalam penelitian dan kajian sosial. Penulis juga sering menulis untuk media massa, dan penelitian untuk jurnal. Dalam berbagai kajian bahasa yang telah dilakukannya, linguistik sistemik fungsional menjadi topik yang sering dibahas dan dikembangkan.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Tips Mempersiapkan Diri Menghadapi Puncak Musim Hujan

23 Januari 2015   05:07 Diperbarui: 17 Juni 2015   12:33 80 0 0 Mohon Tunggu...

Pada artikel saya beberapa waktu yang lalu, hujan adalah momen yang indah. Ya. Karena hujan membuat dunia tumbuh. Hal ini juga terjadi pada kita. Dengan tetap bersyukur, diharapkan hujan tetap menjadi sahabat dan bukan bencana.

Di balik dinginnya air hujan, ada beberapa hal yang anda temui saat hujan, bahkan tidak disadari sebelumnya.

“Yaaah.. hujan!”, ekspresi anda ketika sudah dandan rapi, wangi, ganteng atau cantik, tapi tiba-tiba suara gemuruh terdengar, pertanda akan datangnya hujan. Rasa jengkel muncul di hati. Mungkin. Pantas saja kita merasakannya. Persiapan kita sudah lama bersama dengan harapan di tempat tujuan nanti.

Memang berat, tapi perlu untuk mengubah mind set. Hujan sudah lama turun. Sejak kita masih kecil, hujan sudah ada. Ibu dulu juga dengan nikmatnya minum segelas coklat hangat sambil meihat rintik-rintik hujan di dekat jendela dan mendoakan kita yang saat itu masih di dalam kandungannya. Jutaan tahun yang lalu, hujan juga sudah membasahi tubuh hewan-hewan purba. Banyak peneliti juga yakinbahwa turunnya hujan dengan waktu yang lama telah membentuk benua dan samudera pada ratusan juta hingga miliar tahun yang lalu.

JanuARi adalah ‘huJan sepanjAng haRi’ di Indonesia. Kita harus tau bahwa bulan Januari hingga Februari adalah puncaknya musim hujan, khusnya pulau Jawa dan sekitarnya. Kita harus bersahabat dengan hujan. Hal ini telah dilakukan oleh saudara kita di pedesaan. Secara turun-temurun, para petani menggunakan ilmu titen, sehingga mereka bisa memperkirakan datangnya hujan berdasarkan pola-pola hujan yang telah terjadi selama ini. Kalau kita sudah tahu masa-masa hujan itu kapan, kita jadi bisa lebih banyak persiapan sebelum basah kuyup. Misalnya:

oBawa sandal kalau sedang menggunakan sepatu,

oJaket-jaket sudah dicuci dan siap dipakai karena hujan bisa turun tiba-tiba. Kalau bisa siapkan minimal 2 jaket untuk jaga-jaga di rumah ketika langit sudah gelap dan berpotensi hujan ketika kita di jalan nanti, sehingga segera ada jaket pengganti saat sudah sampai di rumah, untuk perjalanan besok,

oJas hujan sudah terlipat rapi di jok. Untuk lebih siap, bawalah plastik untuk menyimpan jas hujan ketika hujan sudah reda setelah kehujanan di jalan. Menurut pengalaman saya selama ini, hujan itu takut dengan jas hujan atau mantel. Waktu hujan deras, kita buru-buru memakainya. Beberapa saat kemudiah, hujan biasanya berkurang, dan reda. Kita bisa melepas dan memasukkannya ke plastik itu. Ya untuk jaga-jaga, kadang hujan suka main-main dengan kita. Setelah jas hujan atau mantel disimpan… eh, hujan lagi.

Di belahan Bumi yang lain, masih banyak yang mengharapkan hujan. Mereka butuh air. Hujan adalah anugerah, bukan beban. Dengarlah rintik air hujan itu bersama doa di dalam hati.

VIDEO PILIHAN