Mohon tunggu...
S Aji
S Aji Mohon Tunggu... Freelancer - Nomad Digital

Udik!

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

"Ojo Dibandingke", Dangdut Koplo dan Sentrum Bernama Istana

18 Agustus 2022   10:25 Diperbarui: 22 Agustus 2022   07:44 592 13 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Farel Prayoga kala menyanyikan "Ojo Dibandingke" di Istana Negara pada saat 17 Agustus| FOTO/Youtube/Sekretariat Presiden via Tirto

Tembang Ojo Dibandingke lewat vokal Farel Prayoga yang melengking tersayat-sayat itu pertama kali menyapa saya di linimasa Twitter. 

Sebagai penikmat dangdut koplo garis angin-anginan dan nyaris tak paham benar akan bahasa Jawa, Ojo Dibandingke yang melengking seperti milik Farel (selalu) terdengar curhat yang akrab. Sebagaimana saat mendengar versi duet Danny Cakman dengan Abah Lala, si pencipta lagu.

Curhat yang akrab itu berasal dari ruang batin orang-orang kecil yang setia berusaha memberikan yang terbaik, tidak ingin menghidupi hari dengan berkompetisi, walau tahu kekalahan adalah satu-satunya yang enggan pergi dari nasibnya.

Berjuang dan kalah memang dua perkara yang niscaya, bagi sebagian manusia mungkin hanyalah koeksistensi belaka. Seperti pergantian siang dan malam. Tapi pergulatan anak manusia tidak pernah bakal semekanis itu. 

Siapakah yang tidak bakal remuk jika pujaan hati yang telah ditemaninya sedemikian lama, dengan segala rupa ketulusan dan kesabaran, harus menghadapi fakta menjadi subyek yang dibanding-bandingkan karena kehadiran yang lain?

Sopo wonge sing ra loro ati. Wes ngancani tekan semene. Nanging kabeh ora ono artine. Raono ajine.

Tentu saja kesedihan atau perasaan kalah seperti yang dikumandangkan Ojo Dibandingke bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan bukan sesuatu yang spesial bagi pengalaman kesedihan yang di-lagukan. Kesedihan seperti ini mungkin juga telah menjadi sesuatu yang memuakan. 

Atau bagi mereka yang keras hati, dingin dan serba rasional, kesedihan seperti ini hanyalah jenis kejatuhan diri yang tolol dan banal. 

Tapi mengapa ia selalu memiliki massa? Ia selalu sukses menyatukan jiwa-jiwa yang merasa terwakili di dalamnya dan tersedu-sedu karena itu? 

Dan yang tak kalah pentingnya, mengapa ia bisa memaksa kekuasaan dan "elitisme" meliriknya? Memanggungkannya di acara sesakral dan semegah upacara 17 Agustus?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan