Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Essi Nomor 200: Hanya Satu yang Kembali

22 April 2021   05:45 Diperbarui: 22 April 2021   05:57 51 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Essi Nomor 200: Hanya Satu yang Kembali
achristianpilgrim.wordpress.com

Essi 200 -- Hanya Satu Yang Kembali
Tri Budhi Sastrio

Ajaran, pesan dan bahkan cerita yang disampaikan
     Sang Nabi Utusan Sorga,
Benar-benar sederhana serta terang nan benderang
     laksana sinar surya,
Sehingga hanya orang yang merasa amat pintar
     dan sangat pandai saja,
Yang mungkin tidak memahami itu semua, tetapi
     bagi orang sederhana,
Semua pesan, ajaran dan cerita Sang Nabi
     Utusan Sorga jelas benar isinya.
Apa yang diucapkan ya itu pesanNya, apa yang
     dicatat ya itulah SabdaNya.
Tak lebih tak kurang, tak perlu ditafsir-tafsirkan
     segala, hitam putih adanya.
Memang ada ajaran, pesan, dan cerita yang jika
     tahu landasan sejarahnya,
Membuat semuanya lebih mudah dipahami dan
     dicerna, tetapi seandainya
Tidak ada kesempatan belajar atau mendengar
     atau membaca latar budaya
Ketika sang nabi menyampaikan ajaran, pesan,
     dan ceritaNya, ya tetap saja
Semuanya terang benderang, jelas, tegas, lugas,
     penuh otoritas dan kuasa.
Singkat kata ... ya jalankan saja, kalau tidak bisa ...
     jelas sekali masalahnya,
Bukan pada cerita, pesan dan ajaranNya melainkan
     pada diri manusianya.
Ingin tahu penyebabnya? Sederhana saja, karena
     telah disampaikan oleh Dia
Bahwa siapa saja yang tak berani dan bisa
     menyangkal dirinya sendiri, maka
Mereka tidak layak bagi Sang Nabi Utusan Sorga,
     dan sialnya ... atau hebatnya,
Hampir tidak ada pesan, ajaran atau cerita
     yang dapat terlaksana manakala
Manusia tidak berhasil menyangkal dirinya ... yah,
     betapa hebatnya ini sabda.

Terima kasih dan syukur, berterima kasih dan
     bersyukur, jadi masalah juga.
Rasanya tidak berbilang jumlah manusia, jika
     segan mengatakan semuanya,
Yang tidak tahu berterima kasih dan tidak tahu
     beryukur, yang sudah merasa
Memang sangat banyak jumlahnya tetapi yang
     benar-benar melaksanakannya
Rasanya tidak terlalu banyak dan ini sudah lama
     ada bahkan Sang Nabi Sorga
Mengalami sendiri ketika dia menyembuhkan
     sepuluh orang berpenyakit kusta.
Pada para kusta yang jumlahnya satu dasa,
     Sang Nabi Utusan Sorga bersabda
Pergilah dan perlihatkanlah dirimu kepada
     imam-imam ... dan patuhlah mereka.
Berikutnya, ketika mereka berdasa masih di tengah
     marga, tahirlah semuanya.
Kusta sirna, mereka tentu sangatlah gembira
     dan jelas sekali semakin percaya,
Sayangnya, hanya seorang saja, ini pun orang
     Samaria, yang warga kelas tiga,
Yang bergegas kembali menemui Sang Nabi
     Utusan Sorga haturkan bakti puja.
Yah ... hanya si orang rendah dan nista
     dari kaum papa yang warga kelas tiga  
Yang menyempatkan diri kembali dan sampaikan
     terima kasih tidak terhingga,
Sedangkan yang lainnya, yang Yahudi kelasnya,
     lanjutkan perjalanan mereka,
Menghadap imam dan mengabarkan bahwa kusta
     telah sirna, tibalah masanya
Mereka diikutkan upacara tahir kusta tanda telah
     diterima sebagai warga utama,
Warga kelas satu Yahudi, warga yang jelas sekali
     amat sangat terhormat adanya.
Mungkin memang tidak ada yang salah dengan ini
     sembilan orang tahir kusta,
Karena perintah nabi utusan surga pada mereka
     jelas dan gamblang adanya,
Tetapi ya itu tadi ... bagaimana bisa upacara
     tahir kusta jauh lebih berharga
Dibandingkan bakti dan puja pada Sang Nabi
     Utusan Sorga yang tahirkan dosa?

Sang Nabi Utusan Sorga tentu saja tidak
     memerlukan bakti dan puja manusia,
Apalagi jika hanya ucapan terima kasih dan
     rasa syukur yang tak tulus adanya.
Yang paling penting bagi Dia adalah laksanakan
     perintah empati kasih cinta
Pada sesama, bukan pada Dia yang empunya
     seluruh kekuasaan atas dunia.
Hanya saja bagaimana bisa manusia melaksanakan
     itu perintah yang utama
Jika mengucapkan terima kasih dan syukur saja
     tidak piawai melakukannya?
Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah
     menjadi tahir ... tanyaNya,
Di manakah yang sembilan orang itu? ... Tidak
     adakah di antara mereka ...
Yang kembali untuk memuliakan Allah selain
     dari pada orang asing ini? Ya,
Sebuah keluhan yang mungkin tidak akan pernah
     terlontar jika warga utama
Tahu berterima kasih dan bersyukur pada Sang Nabi
     Utusan Penyelamat Dunia.

Apakah ini gambaran dan potret semua orang
     yang bibirnya katakan percaya?
Tentu saja tidak semua, tetapi jika prosentase
     angka yang ada dalam ini cerita
Dapat dijadikan patokan dan pedomannya, yah ...
     sebagian besar yang berkata
Aku percaya ... aku percaya ... ternyata memang
     hanya di bibir saja, karenanya
Percuma saja mereka beribadah kepadaKu karena
     memang hanya di bibir saja
Sementara hatinya berada nun jauh di sana ...
     sebuah peringatan bagi semua.
Peringatan yang keras dan luar biasa benarnya,
     karenanya ayo semuanya saja
Belajarlah berterima kasih dan bersyukur atas
     semua berkah dan karuniaNya.
Boleh sampaikan itu semua dengan bibir terbuka
     tetapi yang paling terutama
Sampaikan semuanya melalui nurani jendela jiwa,
     karena memang dari sana
Ketika rasa terima kasih dan syukur memancar
      penuh pesona, ajaran utama --
Empati dan kasih pada sesama - dapat mulai
     dijalankan sesuai permintaanNya.
Manusia jangan pernah bermimpi dapat laksanakan
     ajaran, pesan dan cerita,
Yang dirangkum dalam banyak sabda jika
     bukan ini yang menjadi landasannya.
 
Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah
     menjadi tahir ... tanyaNya,
Di manakah yang sembilan orang itu? ... Tidak
     adakah di antara mereka ...
Yang kembali untuk memuliakan Allah selain
     dari pada orang asing ini? Ya,
Sebuah keluhan yang mungkin tidak akan pernah
     terlontar jika warga utama
Tahu berterima kasih dan bersyukur pada Sang Nabi
     Utusan Penyelamat Dunia.
Karenanya ayo semuanya saja, tidak apa
     menjadi warga sederhana kelas tiga,
Yang penting bisa ucapkan terima kasih dan syukur
     sambil laksanakan sabda,
Pastilah semua sangat mulia dan tentu berkenan
     kepadaNya, karena setelahnya
Rasanya tidak ada ajaran, perintah, dan sabda
     yang disampaikan dalam cerita,
Yang tidak bisa dilaksanakan dengan hati ringan,
     lapang dan riang gembira.

Essi nomor 200 -- SDA11092012 -- 087853451949

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x