Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Essi Nomor 310: Sumpah Kutukan Sang Pendusta

6 Desember 2020   06:23 Diperbarui: 6 Desember 2020   06:27 29 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Essi Nomor 310: Sumpah Kutukan Sang Pendusta
https://xxtokyoxx.weebly.com/

Essi 310  Sumpah Kutukan Sang Pendusta

Akhirnya berhadapan juga Sri Rama dengan Kumbakarna
Dan sebelum adu digdaya dimulai, sang raja suami Sinta
Menyempatkan diri bertanya pada raksasa sakti Alengka.
Engkau ini resi, sakti mandraguna dan pertapa bijaksana,
Bukankah tahu benar siapa itu Dasamuka yang kau bela?
Raja lalim dan angkara bahkan istri orang pun diculiknya.
Kumbakarna yang dipaksa sang adik menghentikan tapa,
Lalu memuntahkan semua makanan lezat karena murka
Dianggap tak mau membela setelah santap semua boga,
Tentu saja paham semua termasuk angkara adik tercinta.
Aku tahu semua wahai raja titisan dewa, aku tahu semua.
Tapi aku tidak membela dia dengan semua angkaranya.
Yang kubela itu adikku tercinta dan juga negaraku mulia.
Raja titisan dewa anggukan kepala, ya ... ada benarnya.
Akhirnya, pertempuran yang menjadi takdir para dewata
Pecah juga dan tidak diperlukan waktu yang terlalu lama
Kumbakarna akhirnya pralaya, tunai sudah tugas utama
Membela adik tercinta juga negara, tugas utama ksatria.

Jadi jika Suardika dan teman-temannya ngotot membela
Sang pendusta yang pada akhirnya kena 8 tahun pidana,
Denda 300 juta, dan denda 57 milyar lebih bagi negara,
Serta harus membayar uang perkara walau 10 ribu saja
Tentu bisa dipahami seperti Rama pahami Kumbakarna.
Suardika bisa berkata yang sedang aku bela teman setia
Bukan kejahatannya, bukan malingnya, bukan dustanya.
Ya ... ya ... ya ... memang begitulah sahabat yang setia.
Tak hanya dikala suka, dikala derita juga tetap membela.
Hanya saja, ini data tambahan bagi para pembela setia,
Kumbakarna itu tak pernah bohong, tidak pernah dusta,
Sedangkan dia ini jangankan nurani dan otak isi kepala
Yang tidak diajak serta terus berdusta, istri dan mertua
Juga dipaksanya berdusta bahkan amat berlama-lama.
Benar-bernar kurang ajar dan durhaka, dasar pendusta.

Lalu yang juga benar-benar membuat orang tak percaya
Apa yang dilakukan si pendusta di ruang sidang perkara.
Hakim ketua memang belum tutup acara di sidang utama
Karena masih memberi waktu bagi jaksa serta terdakwa
Untuk pikir-pikir atau langsung terima dan apa kata dia?
Terdakwa yang juga pendusta, dengan pongah jumawa
Mengajak dan menantang majelis hakim serta tim jaksa
Melakukan sumpah kutukan yang maknanya, bersedia.
Ya bersedia terima laknat kutukan dari yang mahakuasa
Jika ternyata yang diyakini dalam ini sidang salah adanya.
Benar arogan, sombong jumawa serta bodoh luar biasa.
Bukankah yang mahakuasa itu bisa melakukan apa saja
Atau tidak melakukan apa saja pas sesuai kehendakNya?
Lalu bagaimana bisa sosok manusia hina dina di dunia
Harus bersumpah bersedia lebih dulu guna menerima
Laknat, kutukan serta hukuman dari atas langit sana?
Jika yang maha kuasa mau melakukan suatu perkara
Maka Dia tak perlu tunggu persetujuan manusia segala.

Bah ... benar-benar bodoh luar biasa, dan pantas saja
Monas saja murka tidak terkira-kira, ketika si pendusta
Berkata lantang siap gantung kepala di monas ibukota
Jika satu rupiah saja uang hambalang dikorup olehnya.
Sekarang tampaknya tidak hanya monas yang murka,
Yang mahakuasa pun rasa-rasanya jengkel tak terkira
Walau tentu saja selalu ada maaf bagi si pongah dusta.
Uang Hambalang jelas sekali mengalir ke mana-mana
Jadi jelaslah bohong dan dusta luar biasa jika tak ada
Yang masuk ke kocek sang kecoa hina, dah pasti ada.
Cuma herannya bahkan ketika sang kereta rusak roda,
Patah gandarnya, serta ditinggal pergi kuda-kudanya,
Eh masih saja terus berdusta tembus langit dan surga.
Entah apa yang ada dalam otak dan nurani ini manusia
Yang jelas akal sehatnya tentu kabur bersama si dusta.

Ada tertulis dalam kitab suci mulia berisi titah dari surga.
Hendaknya manusia tidak bersumpah demi langit segala
Karena langit itu jelas-jelas tahta mulia yang mahakuasa.
Juga janganlah kau bersumpah atas nama bumi segala,
Karena bumi itu adalah tumpuan kaki yang maha mulia.
Juga janganlah dikau manusia bersumpah demi kepala
Karena bahkan menghitam-putihkan sehelai rukma saja
Kalian sebenarnya tidak mempunyai kuasa, apalagi jika
Tiba-tiba saja dengan pongah jumawa engkau berkata
Akan bersumpah demi nama yang mahakuasa segala.
Manusia hina tidak pantas membawa-bawa nama Dia
Apalagi jika hanya sekedar menutupi rangkaian dusta.

Lalu perintah berikutnya benar-benar amat sederhana.
Jika tidak ya katakan tidak, jika memang ya katakan ya
Lebih dari itu tentu dosa, jadi tidak perlu sumpah segala.
Cukup katakan yang sebenarnya, selesai urusan dunia.
Sayangnya si pendusta tentu belum pernah membaca,
Bahkan andaikata telah membaca, belum tentu percaya.
Sayang sekali, berdusta jelas tak layak dan penuh dosa
Apalagi menyeret-nyeret nama mulia yang mahakuasa,
Semakin dalam kelam jiwa, pelita hati pun sirna cahaya.

Memang delapan tahun penjara baru tingkatan pertama.
Masih ada sejumlah upaya, naik banding, satu di antara.
Tapi jika berkenan dengarkan nasehat orang sederhana.
Terima hukuman lalu segera hentikan rangkaian dusta.
Akui salah dan dosa, berikutnya pasti bisa ungkap noda
Para teman lama ikut terima uang jahat rompak negara.
Kecuali ... yah kecuali memang tidak puas 8 tahun saja,
Dan masih ingin berlama-lama menikmati lantai penjara,
Maka silahkan saja naik ke mahkamah tertinggi negara.
He ... he ... he ... tidak cukupkah pelajaran teman lama,
Yang bukannya berkurang eh malah semakin dalam saja?
Tiba masanya diam seperti pertapa, periksa salah dosa,
Lalu tobat hentikan dusta, mohon pada yang mahakuasa
Memaafkan sumpah kutukan dari seorang pendusta hina.

Tri Budhi Sastrio -- Essi 310 -- SDA25092014

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x