Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Guru

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Melepas Rindu lewat Puisi Tsunami

28 Desember 2017   12:07 Diperbarui: 28 Desember 2017   12:31 482 3 1
Melepas Rindu lewat Puisi Tsunami
Photo, Blog ACT.id

Oleh Tabrani Yunis

Tanggal 26 Desember  itu, kini menjadi tanggal yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Aceh. Tentu saja bukan hanya masyarakat Aceh, tetapi masyarakat Indonesia dan bahkan masyarakat dunia. Karena pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, Aceh, provinsi yang saat itu masih didera konflik polotik, berdarah dan sangat tertutup saat itu, tiba-tiba dilenda bencana yang sangat dahsyat. 

Gempa bumi berkekuatan 8.9 SR yang diikuti gelombang tsunami itu meluluhlantakan sebagaian besar daerah pesisir Aceh yang menelan korban meninggal lebih dari 200.000 orang, serta menghancurkan semua infrastruktur. Dahsyat tragedi bencana tsunami tersebut merupakan sebuah bentuk perubahan yang sangat revolusif. Bahkan ada banyak orang yang mengira bahwa itu adalah hari kiamat. Tusnami Aceh pun menjadi nestapa yang sangat panjang dan tak terlupakan.

Setelah bencana itu, kemudian masyarakat Aceh khususnya dan mungkin juga masyarakat  Indonesia umumnya kembali mengenang  tragedy bencana tsunami yang memilukan, pada setiap tanggal tersebut. Setiap tahun, hingga kini, setiap tanggal 26 Desember dijadikan sebagai hari untuk mengenang tragedi yang memilukan itu. 

Tahun ini, dua hari lalu, masyarakat Aceh memusatkan kegiatan acara mengenang tragedy itu dipusatkan di daerah Leupung, Aceh Besar, sebuah kecamatan yang kala itu lebih dari setengah jumlah penduduknya hilang dan meninggal akibat tsunami. Untuk memperingati dan mengenang kembali musibah tersebut, banyak cara orang untuk mengenangnya. Ya, pada peringatan 13 tahun bencana tsunami tersebut, banyak sekali cara orang mengingatnya. Ada kegiatan bersama yang dipusatkan di Leupung tersebut, ada pula dengan cara mengadakan zikir dan doa di masjid-masjid. 

Pemerintah Aceh dalam hal ini bahkan menggelar acara zikir Internasional dengan menghadirkan ulama dari 5 negara, termasuk Ustad  Abdul Samad yang saat ini semakin dinantikan banyak orang.  Ada banyak yang datang ke kuburan massal untuk mengirimkan doa da nada pula dengan cara-cara lain, mengadakan acara simulasi bencana, hingga ada yang menggelar acara menari yang kemudian menuai kritikan. Pokoknya, masyarakat Aceh tetap mengenang dan berusaha untuk tidak melupakannya, karena ada kemungkinan orang Aceh akan banyak yang lupa akan bencana itu.

Bagi para penulis yang selama ini menggeluti dunia menulis, maka momentum ini juga menjadi momen yang tidak boleh dilupakan. Para penulis dari berbagai latar belakang, kompetensi dan perspektif, menulis banyak tulisan mengenai tsunami dan 13 tahun bencana tsunami tersebut. Tulisan-tulisan tersebut bisa kita simak dei berbagai media, cetak maupun online, tidak terkecuali Kompasiana.com. Ada banyak tulisan yang mengulas hal ini. Ini pertanda bahwa tidak selayaknya kita melupakan peristiwa itu.

Nah, bagi penulis, sebagai orang yang juga mengalami dan kehilangan orang-orang tercinta serta semua harta benda, setiap kali tanggal 26 Desember itu, ikut merasakan bagaimana gejolak hati dan dan jiwa. Nah, beberapa kali penulis melakukan kegiatan ziarah ke kuburan atau pusara, namun sejak dua tahun lalu, penulis tidak lagi mendatangi atau ziarah ke kuburan. Karena penulis saat itu tidak menemukan jasat anak-anak dan isteri, sehingga penulis tidak tahu di mana pusara mereka. Sama halnya seperti apa yang para yatim dan piatu di Pidie yang tidak tahu mau berziarah kemana.

Mungkin akan banyak yang bertanya, apakah penulis tidak berdoa dan merasa perlu ke pusara mereka? Pasti penulis punya alasan. Salah satunya adalah penulis tidak tahu dan tidak menemukan pusara mereka yang pasti. Sebagai seorang yang bergelut di dunia menulis, penulis pun  berniat untuk berbagi pada hari itu. Namun ada kala mood tidak bisa diajak kompromi.  Namun, seperti biasa, penulis suka merangkai kata-kata dalam untaian kata yang mungkin seperti dikatakan orang untaian itu adalah puisi. Entahlah, karena penulis bukan seorang penyair, namun tidak ada salahnya menyampaikan untaian kata itu sebagai pelipur lara. Ya, sebagai pengobat rindu terhadap anakku  almarhum kedua anakku, Albar Maulana Yunisa dan Amalina Khairunisa serta istriku Salminar, yang semuanya pergi kembali ke hadirat Allah dalam bencana itu. Inilah untaian kata yang aku gubah pada hari 13 tahun bencana tsunami itu. 

Tiga Belas Tahun Tak Berpusara

Oleh Tabrani Yunis

Hari ini, tiga belas tahun sejarah kita

Tiga belas tahun kita terpisah raga

Tiga belas tahun kita tak bersua

Tiga belas tahun tak ada tawa

Tiga belas tahun itu kau dan ibu ada dalam jiwa

Kau pergi bukan untuk ku lupa

Kau pergi hanya raga

Karena jiwa kita selalu bersama

Sering ada dalam doa

Pada setiap rindu menyapa

Menyelinap dalam doa dan asa

Maafkan hari ini aku tak ke pusara

Seperti orang-orang datang berdoa

Bukan aku lupa

Aku tak pernah menemukan purasa

Walau sudah tiga belas tahun terus meraba

Maafkan kalau hari ini aku tidak mencarimu

Karena aku tahu Allah telah menyelamatkanmu

Tidak seperti aku galau tak menentu

Hingga suatu saat kita bertemu

Bila semua amal dan ibadahku mampu membawaku bersamamu

Banda Aceh, 26 Desember 2017

Tentu bukan hanya itu untaian kata yang pernah penulis rangkaikan, berikut merupakan nyanyian hati nurani yang merasa kehilangan orang-orang tercinta. Ya, aku mencoba mengirimkan mereka sepucuk surat. Walau aku tahu, mereka mungkin tidak pernah bisa membacanya.  

Surat Cinta buat Anak dan istriku

Oleh Tabrani Yunis

Maafkan aku,

Kalau tak pernah menuliskan sepucuk surat cinta buat mu anak dan istriku
Bukan tak ada cinta nan membara
Bukan jiwa nan kekeringan
Bukan pula cinta semakin gersang
tak tumbuh dalam jiwa

tapi, anak-anak dan istriku
hari ini, tak pernah lagi cukup air mata tuk menorehkan kata
di warkah nan ku bentang di depan mata

tak cukup lagi kata tuk lukiskan
betapa sesungguhnya cintaku sangat dalam
pada bening mata mu

Betapa rindu menghujam sudut hati
pada ceria senda gurau mu
pada sapaan selamat datang
ketika pintu rumah kau buka dengan jemarimu

Maafkan aku, kalau tak mampu menuliskan surat cinta buat kalian, anak-anak
dan istriku

Tapi, wahai anak-anak dan istriku
hanya untaian doa yang kupanjatkan
keharibaan Allah

Ku mohon dapat disampaikan ke relung hatimu
sebagai ganti sepucuk surat cinta buat mu
Anak-anak dan istriku
yang telah pergi bersama catatan sejarah tsunami

Tabrani Yunis
Banda Aceh, 16 Mai 2005

Seringkali rindu itu sulit untuk diungkapkan. Sering tidak mampu melihat dengan mata telanjang dana menggunakan kaca mata plus atau minus, kecuali melihat dan merabanya dengan hati, karena hati bisa mendekatkan mereka. Lalu, hati menuangkannya dalam kata-kata seperti berikut ini.

  

Hari Rinduku

Oleh Tabrani Yunis

 

Hari ini, kucoba benamkan rinduku dalam  ombak

Biar luluh bersama cintamu

Biar makin dalam

Menusuk kalbu

Hari ini,

Ku coba rangkaikan kata

Semoga jadi doa

Mengantarkan perjalanan kalian pulang ke rumah Ilahi

Hari ini, rindu semakin dalam

Kala wajah mu menjelma

Hiasi  pelupuk mata

Warnai dinding-dinding  hati

Hari ini,

Ku coba lupakan  semua keceriaan

Yang kau semai di sudut hati

Namun sanubari tak kuasa

Membuang keindahan yang pernah ada

Dan tak pernah terganti

Banda Aceh, 20 Mai 2005

Ada fenomena yang tidak biasa penulis alami. Setiap kali melihat laut, selalu saja muncul pertanyaan-pertanyaan yang bertanaya di mana anak-anak dan istriku. Bahkan aku pernah menangis ketika naik kapal laut kala menatap laut. Lebih parah lagi, penulis ikut membenci laut, padahal laut tidak pernah berbuat salah pada kita. Agar rindu dan rasa marah tidak meluap menjadi sesuatu yang membahayakan diri, maka penulis menuangkannya dalam beberapa untaian kata.

Pada Gumpalan Pasir Putih di Babah dua

Pada gumpalan pasir putih di babah dua

Ku ceritakan tentang luka menganga,

Tatkala  laut murka menerjang

ombak  dan gelombang menerkam alam

membawa serta nan ku cinta

Pada pasir putih nan ditampar-tampar gelombang di babah dua

ku mengadu tentang gelombang pasang membawa hilang

buah cinta yang ku sayang

Pada gelombang nan menjilat garis pantai di babah dua

Kubisikan tentang bulir air mata dan tangis lirih nan menyeka mata

Tatkala mata duka tak lagi mampu menatap relung hati

Yang kehilangan buah hati

Kepada ombak dan riak di babah dua kubertanya

Kemana gerangan tlah kau bawa dua buah cinta

Kemana kau bawa pendaming setia

Gumpalan pasir putih

Gelombang dan ombak di babah dua

Mengapa tak pernah rela berikan jawaban?

Banda Aceh 24 Oktober 2007

Suatu ketika, di kala sedang mengikuti training human right di Montreal, Canada di tahun 2012, tiba-tiba saat bangun pagi, kala mendengar suara burung yang bernyanyi di dahan, rasa rindu di waktu pagi datang menggelora. Naluri berkata, maka terungkaplah dalam untaian kata yang sangat singkat.

Rindu di Suatu pagi

Oleh Tabrani Yunis

Rinduku menggumpal

Pada seonggokan katayang pernah kau ucapkankala melanjutkan perjalanan abadidi suatu pagi

Kanada, 10 Juni 2012

Begitulah cara penulis melampiaskan rasa rindu pada mereka yang pernah menjadi bagian hidup selama hidup bersama. Meluapkan rasa rindu lewat tulisan, lewat untaian kata. Alhamdulilah, rasa rindu itu terobati.