Mohon tunggu...
syafruddin muhtamar
syafruddin muhtamar Mohon Tunggu... Dosen - Artikel, Esai dan Puisi

Mengajar dan Menulis

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tragedi Tanpa Air Mata

4 April 2022   12:45 Diperbarui: 4 April 2022   13:10 61 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Image : phinemo.com

TRAGEDI TANPA AIR MATA

Seperti daun rontok dari ranting, peradaban jaya Islam terpuruk dari panggung sejarah. Tiada ratapan semesta, tiada cucuran air mata dunia. Tragedi itu sayat perasaan muslim, kini masih luka dan makin dalam.

Seperti siang gantikan malam, peradaban Islam meninggalkan megah zamannya, meringkuk keterpencilan dalam narasi sejarah. Perihkah hatimu, dirundung-malangkah bumi tempat tumbuhnya yang tinggal jejak-tapak nostalgia kini?

Kehidupan adalah kenyataan tanpa air mata, tanpa isak pedih, diam dalam gua makna tak terjangkau. Hidup bergerak dari peristiwa ke peristiwa berbeda, melintasi, melampaui segala derita dan bahagia. Membiarkan musim bertukar waktu dan tempat apa adanya, tidak perduli pada kelahiran atau kematian silih berganti.

Seperti pertapa, kehidupan berjalan untuk kesempurnaan dirinya sendiri. Perubahan zaman dalam keruntuhan dan kebangkitan hanyalah warna yang dilukis untuknya. Kehidupan adalah palung makna tersembunyi dalam labirin hayat di relung-relung terdalamnya.

Seperti daun terpuruk, berganti daun baru yang tumbuh pada musim lain, begitulah peradaban Islam akan mengulangi jaya sejarah pada zaman berbeda.

Kehidupan..., mendekam hikmah dalam mulut  bisu.

 

Sumber: Syafruddin (Shaff) Muhtamar, Nyanyi Lirih 1001 Malam (kumpulan puisi), Penerbit Pustaka Refleksi, 2008.  Puisi ini telah mengalami pengeditan ulang.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan