Mohon tunggu...
Syafri Salampessy
Syafri Salampessy Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saya adalah seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Teknologi Yogyakarta. Memiliki minat yang besar dalam dunia sosial, khususnya berfokus pada isu anak dan pemberdayaan masyarakat.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Percaya Diri Memegang Presidensi G20, Realistiskah Indonesia?

15 Januari 2022   22:16 Diperbarui: 19 Januari 2022   05:03 1035 10 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Presiden Joko Widodo menerima Presidensi KTT G20 dari Perdana Menteri Italia Mario Draghi (ANTARA FOTO/LAILY RACHEV via KOMPAS.com)

Tahun 2020 merupakan masa yang berat, bukan hanya bagi Indonesia, melainkan dialami hampir seluruh negara di dunia. Masa yang menuntut semua dari kita untuk menutup pintu, menjaga jarak, dan berdiam diri. Bukan karena untuk mengurangi nilai manusia sebagai makhluk sosial, melainkan ada prioritas kesehatan yang perlu diutamakan. 

Efek domino yang berkembang bukan hanya bagi manusia dalam wilayah tertentu, melainkan dialami negara hingga dunia yang kemudian dinyatakan sakit. 

Setiap negara perlu menutup batas-batasnya, mengurangi interaksi antar negara, hingga dilarangnya kunjungan satu wilayah dengan wilayah lain, seakan kita dituntut dalam waktu singkat untuk masuk dan hidup dalam ruang-ruang virtual. Itulah pandemi Covid-19 sebagai fenomena sejarah baru, yang akan selalu dikenang hingga akhir nanti.

Pandemi yang telah terjadi, memberikan banyak sekali dampak negatif bagi kehidupan masyarakat global. Semua dari kita dituntut untuk melangsungkan aktivitas dari rumah. Dikuranginya interaksi secara langsung antara manusia dengan manusia. Termasuk larangan bepergian yang seharusnya tidak kita terima sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang senang 'silaturahmi'. Hingga pada akhirnya perekonomian global juga diporak-porandakan virus Corona. 

Juni 2020, World Bank bahkan telah memprediksi kemerosotan perekonomian global yang mengalami kontraksi hingga minus 5,2 persen. 

Setiap negara di seluruh dunia harus turut merasakan kemerosotan ekonomi domestik hingga 7% sepanjang 2020. Bank dunia-pun mengungkapkan bahwa kontraksi tersebut adalah resesi yang terburuk sejak perang dunia II (Bank Dunia, 2020).

Fenomena kontraksi perekonomian global tentu tidak menghindarkan diri dari Indonesia. Termasuk negara pelopor terjangkit pandemi Covid-19 di Asia Tenggara, tentu dampak besar terhadap perekonomian juga dirasakan. 

Meskipun, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, tidak lebih buruk dari negara serumpun lainnya tetaplah Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 2,07 persen. Sebagian besar kontraksi yang dialami ini disumbangkan dari ekspor barang dan jasa dengan jumlah 7,70% (Kemenkeu, 2021). 

Efek lainnya juga ditampilkan dari gulung tikarnya 30 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tanah air yang sejatinya adalah salah satu tonggak perekonomian bangsa ini (CNBC Indonesia, 2021). Belum lagi, 3,06 juta karyawan di Indonesia harus dirumahkan akibat pandemi dari SARS-CoV-2 (CNN Indonesia, 2020).

Meskipun demikian, dengan beruntunnya masalah yang dialami Indonesia sepanjang 2020, Jakarta tetap barambisi untuk memegang kuasa Presidensi G-20. Realistis atau tidakkah keputusan tersebut, atau hanya bentuk gengsi yang ingin ditampilkan dalam kancah global.

Menilik kembali, Group of Twenty atau G20 adalah ruang kerangka kerjasama multilateral yang beranggotakan 20 raksasa ekonomi di Dunia. Yang mana 19 negara dan Uni Eropa yang merupakan anggota, telah mewakili lebih dari 60% populasi manusia bumi, merepresentasikan 75% percaturan perdagangan global, dan adalah penyumbang 80% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan