Mohon tunggu...
Ahmad Sugeng Riady
Ahmad Sugeng Riady Mohon Tunggu... Warga menengah ke bawah

Masyarakat biasa merangkap marbot masjid di pinggiran Kota Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bantuan Sosial yang Menelan Korban

10 Juni 2020   10:06 Diperbarui: 10 Juni 2020   10:12 26 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bantuan Sosial yang Menelan Korban
www.medcom.id

Makan memang menjadi kebutuhan pokok manusia, selain pakaian dan tempat tinggal (sandang, pangan, papan). Ketiganya menjadi indikator kemandirian manusia, khususnya di Jawa. Memiliki pakaian dan bisa makan tapi belum memiliki tempat tinggal sendiri, berati ia belum mandiri. Bisa membangun rumah dan pakaiannya bagus, tapi makan susah, berarti ia pelit. Apalagi kalau memiliki rumah bisa makan tapi tidak mau berpakaian, ini bisa dipastikan ia punya penyakit gila.

Di masa pandemi seperti ini, besok ada bahan yang bisa dimakan saja sudah membuat hati tenteram. Mengingat banyak sekali yang sudah tidak lagi memiliki pendapatan karena di-PHK. Belum lagi untuk membayar listrik, cicilan montor, biaya sekolah, membeli kuota untuk kebutuhan pembelajaran, dan seabrek hutang-hutang yang melulu membuat kepala pening jika tidak sengaja mengingatnya.

Maka dari itu, wajar jika sejumlah komunitas dan pemerintah menggalang donasi untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan. Bantuan ini ada yang berupa uang tunai, peralatan medis, dan kebutuhan pangan seperti beras, minyak, mie instan, dan telor. Sebisa mungkin donasi didistribusikan secara merata, tidak ada yang tumpang tindih atau malah terlewatkan.

Namun pemberian bantuan ini kerap kali memakan korban. Justru orang-orang yang seharusnya dibantu supaya bertahan hidup, malah meninggal di tempat. Hilman Latief dalam bukunya "Politik Filantropi Islam di Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013)" merekam tragedi pilu tentang salah satu kegiatan bantuan sosial. Cerita diawali dari Pasuruan Jawa Timur pada tahun 2008, saat itu ada pengusaha sukses yang hendak membagikan zakat kepada orang-orang miskin di sekitar rumahnya. Ia membagikan amplop berisi uang Rp 10.000,- sampai Rp 40.000,-.

Acara yang semula berjalan damai dan tertib, berubah menjadi rusuh saat 5000-7000 orang saling dorong dan menyerbu masuk ke halaman rumah pengusaha tersebut secara bersamaan. diberitakan ada 21 orang yang meninggal dunia dalam kegiatan bantuan sosial berupa zakat itu, dan ratusan orang terluka karena sesak nafas akibat berdesak-desakan.

Tragedi itu kembali terulang kemarin di Desa Patalan, Kecamatan Jetis Bantul. Ny Mardinah (60 tahun) meninggal saat menunggu antrian pembagian Bantuan Sosial Tunai (BST). Kendati hasil pemeriksaan menyatakan bahwa meninggalnya Ny Mardinah karena hipertensi, namun ada sebab lain yang memprihatinkan.

Simak keterangannya: "Selain itu korban ditengarai kelelahan ketika berangkat ke balai desa dan belum sempat sarapan". Keterangan ini dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat dengan judul "Antre Bansos Makan Korban", 10 Juli 2020.

Selain kedua tragedi bantuan sosial ini, saya rasa masih banyak tragedi-tragedi "menyelamatkan dan membantu" justru malah sebaliknya. Entah itu karena kesadaran masyarakat soal budaya antri dan sabar yang sudah hilang, atau mekanisme pemberian bantuan yang kurang persiapan.

Melihat fakta itu, saya teringat diskusi dengan teman kampus di warung kopi. Katanya saat itu, "kalau niat membantu ya dikasih langsung ke rumahnya. Sekalian melihat kondisi rumah dan keluarganya seperti apa. Kan enak, pemerintah atau siapapun yang ingin membantu jadi tahu. Oh ini keluarganya memang sangat perlu bantuan. Oh ini hanya manipulasi, oh yang ini mental pengemis".

Saya hanya mengangguk pelan kemudian bertanya balik, "di sisi lain cara itu mungkin juga efektif supaya distribusinya merata. Ya biar tidak tumpang tindih. Tapi kalau yang manipulasi malah petugasnya sendiri, gimana?". Teman saya membalasnya dengan tersenyum kecut. Demikian.

VIDEO PILIHAN