Mohon tunggu...
ACONG ACONG
ACONG ACONG Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saya menyukai konten atau berita tentang isu pemerintah yang baru

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal Pilihan

Kehidupan Keluarga Buruh Bangunan yang Menerima Bantuan Sosial

12 April 2024   18:40 Diperbarui: 15 April 2024   17:46 123
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Observasi dan wawancara dilaksanankan pada bula febuari-maret 2024 kepada salah satu penerima bantuan sosial yaitu ibu Narti.

 Ibu Narti adalah seorang warga yang tinggal di Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Ibu Narti sekarang sudah berusia 57 tahun. Dalam kehidupannya, bu Narti telah menghadapi beragam perjuangan dan keterbatasan ekonomi. Bu Narti Tidak memiliki pekerjaan, dan juga tidak memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan formal karena keterbatasan ekonomi. Dalam keluarganya, bu Narti adalah sebagai kepala keluarga, dikarenakan suami bu Narti sudah meninggal. Bu Narti mempunyai empat anak; dimana 3 anaknya masih tinggal bersama ibu Narti dan 1 anaknya sudah mempunyai rumah sendiri. Anak pertama bu Narti sudah mepunyai keluarga dan tidak tinggal bersama dengan bu Narti. Untuk anak keduanya bekerja sebagai buruh bangunan dan satu-satunya yang bekerja dirumah bu Narti. Sedangkan anak ketiganya tidak memiliki pekerjaan serta untuk anak keempat masih menempuh Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan belom mempunyai pekerjaan. Anak kedua bu Narti memiliki tanggungan sebanyak tiga orang termasuk dengan ibu Narti yang tinggal bersama di rumah yang dimilikinya.

          Secara ekonomi, total pendapatan bulanan keluarga bu Narti yang tidak menentu, namun rata-rata berada di kisaran Rp 1.500.000 s/d Rp 1.700.000. Bu Narti terkadang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Pengeluaran sehari-hari yang mencapai Rp 50.000, terutama untuk makan yang hanya bisa dilakukan 2 hingga 3 kali sehari dengan menu sederhana seperti yang sering dibeli bu Narti tahu dan tempe, mencerminkan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. serta pengeluaran sekitar Rp 15.000 per hari untuk keperluan jajan anaknya yang masih bersekolah. Meski demikian, dengan adanya pemberian dari anaknya yang pertama berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 400.000 per minggu dapat membantu sedikit dalam pemenuhan kebutuhan keseharian keluarganya.  Keluarga bu Narti, jika ada yang mengalami sakit biasanya mereka membawa ke puskesmas terdekat dan menggunakan kartu  BPJS dari pemerintah, sehingga cukup membayar Rp 3.000 untuk obat yang diberikan oleh pihak puskesmas.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

          Rumah yang ditempati bu Narti dan keluarganya adalah hasil dari program bedah rumah, yang memiliki luas bangunan 5m x 12m dan luas tanah 10m x 15m. Memiliki 3 ruangan diantaranya 1 kamar, 1 ruang tamu dan 1 dapur. Dinding rumah terbuat dari setengah tembok dan kayu, sementara atapnya dari seng, dan lantainya dari kayu papan, menunjukkan kondisi rumah yang sederhana. Meski demikian, bu Narti dan keluarganya masih memiliki akses terhadap fasilitas dasar seperti sumber air mandi dan mencuci mengunakan PDAM, serta mepunyai wc pribadi. Untuk air minum dari air galon, memasak menggunakan gas 3 kg elpiji subsidi dari pemerintah, dan penerangan dari listrik PLN yang bertenaga 1.300 watt, dengan pengeluaran untuk token listrik sebesar Rp 200.000 per bulan. Selain itu, mereka juga memiliki akses terhadap layanan kesehatan di puskesmas dan menggunakan kendaraan berupa 2 motor untuk keperluan sekolah serta untuk keperluan kerja keluarganya. Barang elektronik yang ada dirumah bu Narti berupa barang elektronik seperti 1 TV, 1 kulkas, sound dvd 2 buah dan 3 HP yang digunakan oleh anak-anaknya untuk sekolah dan bekerja. Hp tersebut pertama dibelikan pada saat anaknya melakukan pembelajaran secara daring.

          Bu Narti dan keluarganya adalah penerima bantuan sosial dari Program Keluarga Harapan (PKH) kategori keluarga yang masih sekolah mereka menerima, sebesar Rp 400.000 setiap dua bulan sekali. Pada awalnya keluarga bu narti mendapatkan bantuan berupa sembako, sekarang mendapatkan bantuan berupa uang secara tunai. Bantuan ini, meskipun tidak sepenuhnya menyelesaikan permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh keluarga Budi, setidaknya memberikan sedikit lega dalam memenuhi beberapa kebutuhan pokok mereka. Melalui bantuan ini, Budi dapat sedikit mengurangi beban ekonomi yang dihadapinya, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Halo Lokal Selengkapnya
Lihat Halo Lokal Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun