Mohon tunggu...
santri abadi
santri abadi Mohon Tunggu... Auditor - akun imi milik santri

Kami akan menyuguhkan komten islami kepada anda

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Terima Kasih Ummuna

1 November 2022   15:52 Diperbarui: 1 November 2022   15:56 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Haru berkaca, bangga terasa, bahagia tak terhingga.

Semua juga pasti terharu, jika tahu pagimu penuh perjuangan, siangmu tak tinggal diam, malammu bukan utk peristirahatan. Namun terus berjuang memimpin NW tercinta, Pemimpin yg tak sekedar memberi perintah, yg bukan hanya berusaha, tp juga berdoa. Apa lagi akan sekedar kata-kata, atw agitasi belaka.

Semua sudah pasti bangga, saat sadar Engkau bukan hanya Pepadu Maulana, tapi juga Pepadu Datok Majid yg nyata. Bahkan perjuanganmu terbukati mendirikan madrasah & majlis agama, yg jumlahnya jauh lbih banyak dari karya pejabat yang pernah ada. Itu terlalu nyata, warga pun tak buta, kecuali mereka yg menutup mata hatinya.

Bangga. Engkau memang tak pernah berhenti keliling kampung mengajak kebaikan, Engkau tak surut menghadapi ona & duri perjuangan, Engkau tak gentar menghadapi siapa pun jika NW & Ayahmu yang dikambinghitamkan.

Bangga, saat perintahmu kadang tak masuk dikepala, tak terbaca logika, tapi terpaksa ku percaya, karena setelah dijalani, ada hasil yg nyata di depan mata.

Bahagia, saat melihatmu tersenyum sukses membela NW Maulana. Meskipun mereka tak akan berhenti berusaha mencincang-habis NW kita, biarkan saja, mereka tak akan bisa. Engkau hanya perlu sejenak mengambil nafas lega, sebelum bergegas melangkah melanjutkannya.

Sungguh bahagia, saat bisa melihatmu sejenak tertidur, walau bukan di ranjang atau sofa, tapi di kursi mobil innova, yang kadang melawati likuan bukit sawit Samarinda, atau bahkan gersangnya jalan Trans Sulawesi yg tentunya tak semulus jalan Trans Jakata.

Maafkan kami, yg belum tahu bagaimana kakimu terkilir lumpur saat ke tempat acara, karena ternyata lokasinya di tengah sawah nan jauh disana. Maafkan kami yg tak tahu biji tasbihmu terus berputar utk berzikir & mendoakan kami. Maafkan kami, yg belum mengerti makna tegas-tandas lantangmu bicara. Maafkan kami, yang terkadang mengiyakanmu di depan saja. Maafkan kami...., itu saja.

Terima kasih telah mengajarkan kami arti perjuangan..

Terima kasih telah mengajarkan kami arti berbakti..

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun