Mohon tunggu...
Rudy Subagio
Rudy Subagio Mohon Tunggu... Lainnya - Just ordinary people, photograph and outdoors enthusiast, business and strategy learner..

Hope for the Best...Prepare for the Worst ...and Take what Comes. - anonymous- . . rudy.subagio@gmail.com . . Smada Kediri, m32 ITS, MM48 Unair

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Ketika Flexing yang Dilakukan "Crazy Rich" Menjadi Senjata Makan Tuan

25 Maret 2022   22:43 Diperbarui: 26 Maret 2022   07:59 1570
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto Juragan 99, Sumber: instagram @juragan_99 via kompas.com

Fenomena flexing akhir-akhir ini menjadi trending dan viral dimana-mana terutama setelah para affiliator yang sebelumnya melakukan flexing akhirnya ditangkap dan menjadi tersangka pada kasus penipuan berkedok trading binary option.

Flexing sederhananya adalah pamer. Flexing asal mulanya merupakan bahasa gaul atau bahasa slang yang digunakan di kalangan ras kulit hitam untuk "menunjukkan keberanian" atau "pamer" sejak tahun 1990-an.

Arti kata flexing saat ini, mengacu kamus Merriam-Webster, adalah memamerkan sesuatu atau yang dimiliki secara mencolok.

Namun arti kata flexing menurut persepsi sebagian besar masyarakat adalah orang yang suka berbohong memiliki banyak kekayaan meski realitanya tidak. Orang yang melakukan flexing adalah orang yang palsu, memalsukan, atau memaksakan gaya hidup dengan motivasi tertentu.

Tidak ada yang salah dengan perilaku atau tindakan pamer karena merupakan salah satu sifat dasar manusia. Namun motivasi yang mendasari orang melakukan flexing yang akan menentukan apakah flexing sebuah kejahatan atau bukan.

Sebagai contoh seseorang yang memiliki kekayaan yang besar, menarik secara fisik, cerdas, atau memiliki keahlian tertentu memamerkan apa yang dipunyainya, tentu saja ini sah-sah saja selama tidak merugikan orang lain bahkan mungkin bisa memotivasi orang lain agar sukses.

Contoh lain adalah seorang influencer yang flexing tas buatan desainer ternama atau barang mewah lain yang bukan kepunyaannya, inipun tidak salah kalau mereka tidak berbohong karena motivasi mereka untuk promosi atau sebagai brand ambasador.

Yang masalah adalah bila ada orang yang menggunakan flexing sebagai media untuk berbohong atau menipu orang lain seperti yang dilakukan oleh para affiliator yang bekerjasama dengan penyedia investasi bodong.

Dan yang perlu disadari, di era teknologi digital saat ini tindakan flexing dipermudah dan difasilitasi oleh berbagai aplikasi pengolah foto dan video dan juga penyedia layanan media sosial seperti Facebook / Meta, Instagram, Youtube, Tik-tok dan masih banyak lagi.

Kita dapat saja berfoto dibalik setir mobil super mewah padahal itu mobil milik showroom mobil mewah. Atau berfoto di depan mobil orang lain yang sedang diparkir atau bergaya di depan rumah orang yang tidak kita kenal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun