Mohon tunggu...
Riri Novianti
Riri Novianti Mohon Tunggu... Pelajar

Pelajar

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Mengenal Beberapa Kebudayaan dan Adat Istiadat di Kota Batam

3 Mei 2020   14:24 Diperbarui: 3 Mei 2020   14:32 1363 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenal Beberapa Kebudayaan dan Adat Istiadat di Kota Batam
Peta Kota Batam

Hai guys! Jadi disini aku akan ngejelasin ke kalian apa saja dan bagaimana sih adat istiadat dan kebudayaan yang ada di tempat asal aku a.k.a kota Batam. Pertama, aku bakal ngejelasin letak geografi dari kota Batam itu sendiri ya!

Jadi, Batam terletak di provinsi Kepulauan Riau dan berbatasan dengan Singapura dan selat Singapura di sebelah Utara, pulau Bintan dan Tanjung Pinang di sebelah Timur, kabupaten Lingga di sebelah Selatan, dan kabupaten Karimun di sebelah Barat. Batam dan Singapura itu deket banget loh! Kalau mau kesana kita hanya menempuh waktu kurang lebih 45 menit! deket banget kan?


Pulau Batam pertama kali di huni oleh orang melayu atau lebih di kenal dengan sebutan orang selat. Seiring berjalannya waktu, dengan tujuan awal untuk menjadikan Batam sebagai Singapura-nya Indonesia, Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri yang menyebabkan banyak sekali perantau dari berbagai daerah datang ke Batam. Selain menjadi daerah industri, gaji yang lumayan tinggi di Batam juga menjadi alasan banyaknya perantau yang datang kesini.


Hal tersebut lah yang menyebabkan Batam memiliki masyarakat yang terdiri dari berbagai suku. Suku yang dominan antara lain adalah suku Melayu, Jawa, Batak, Minangkabau, dan Tionghoa. Namun, karena mereka tinggal di tanah melayu, adat melayu lah yang selalu mereka junjung tinggi. Hal ini terlihat dari bentuk bangunan pemerintahan yang memiliki atap seperti rumah adat Salaso Jatuh Kembar. 

Selain itu, di tanah Melayu juga memiliki tarian untuk mempersembahkan suatu penghormatan pada tamu yang datang. Tari ini disebut tari persembahan. 

Tari ini terdiri dari beberapa orang dengan 1 orang terdepan memegang tepak sirih untuk kemudian diberikan kepada tamu. Suka atau tidak suka, para tamu juga wajib memakan daun sirih yang sudah diberikan para penari. Karena ciri khas dari tarian ini adalah identik dengan pengajuan tepak sirih kepada orang atau tamu yang di hormati.


Kebiasaan yang paling disenangi oleh anak-anak disekitar rumah adalah pada saat malam Ramadhan yaitu tradisi tujuh likur yang dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. 

Biasanya, pemilik rumah akan memasang lampu dengan bahan bakar minyak di pekarangan rumah dan menghias jalan-jalan. Kegiatan ini dimulai pada malam ke 21 dan berlanjut hingga malam penghujung bulan Ramadan. 

Yang lebih istimewanya adalah ketika masuk malam ke 7, malam ganjil. Lampu-lampu tidak hanya di pasang di pekarangan rumah, lampu-lampu pun turut serta menghiasi bahu jalan disekitaran rumah. 

Selain itu, terdapat karya-karya pintu gerbang bercorak islami untuk masjid. Pembuatannya dilakukan oleh para pemuda daerah dan di buat dengan gotong royong. 

Setelah pembuatan pintu gerbang selesai, satu hari sebelum malam tujuh likur akan diadakan doa selamat dan berbuka bersama oleh masyarakat dan pemuda di sekirar gerbang. Namun, seiring perkembangan zaman membuat tradisi ini memudar. Hanya beberapa rumah saja yang masih menghidupi lampu pelita pada hari-hari akhir bulan Ramadhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN