Mohon tunggu...
Surobledhek
Surobledhek Mohon Tunggu... Guru - Cukup ini saja
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Memberi tak harap kembali

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerbung | Back Street, Korban Pembunuhan (1)

31 Januari 2020   19:49 Diperbarui: 1 Februari 2020   13:54 334
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
CNN Indonesia Foto | Venezuela Kembali Gelap Gulita

"Banyak banget, Yang. Pokoknya kamu jangan jemput aku di rumah. Kita ketemuan saja di jalan poros. Jangan juga di depan Gang. Mereka mengawasi sampai di depan Gang."

"Sebenarnya aku gak takut sih. Cuma mending menyingkir daripada buat masalah dengan mereka."

Mereka berpisah di depan kampus. Tiwi dijemput ayahnya. Dimas naik motor beda arah.

+++++

Hampir setengah jam Dimas menanti di tempat biasa mereka ketemuan. Tiwi tak juga terlihat tanda-tanda datang. Ditelepon tidak diangkat. Dichatt tidak dibalas. Contreng satu. Artinya gawai Tiwi mati. Apa yang terjadi? Tak ada berita sama sekali.

Satu jam kemudian Dimas pulang. Dongkolnya berkepanjang. Janji pacaran, batal. Terbayang mesra-mesra gagal. Akh, malam minggu tak berjalan seperti biasa. Dimas sungguh kecewa. Ini pertama kali Tiwi mengingkari janji. Padahal selama dua tahun pacaran tak pernah ingkar janji.

Apakah aku ke rumahnya saja ya? Tapi mengapa tidak tadi saja. Sekarang sudah pulang. Masak harus kembali lagi. Sudah mulai malam. Gerimis pula. Biarlah esok pagi saja. Bila sampai esok pagi Tiwi tak ada beritanya, pokoknya aku harus datang ke rumahnya.

+++++

Pagi-pagi, rumah Dimas diketuk orang. Bapak dan ibunya kebetulan lagi liburan ke luar kota. Dimas sendirian. Mata masih mengantuk. Karena ada yang mengetuk, terpaksa Dimas ke luar kamar menghampiri pintu.

"Maaf, Mas. Anda Dimas?"

"Iya, Pak. Ada apa?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun