Mohon tunggu...
Rizky Ayaturahman
Rizky Ayaturahman Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Mahasiswa Psikologi UIN Malang

Menulis karena ingin menulis

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Yuk Kenali Gejala dan Cara Mengobati Gangguan Obsesif Kompulsif

9 Desember 2019   07:58 Diperbarui: 11 Desember 2019   18:54 253
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sedangkan pada aspek kognitif, CBT menekankan tentang bagaimana sudut pandang dan cara berpikir tentang suatu kejadian. Memperbaiki distorsi kognitif yang menyebabkan emosi negatif muncul.

Cognitive Behavior Therapy CBT dapat mengubah pemikiran negatif yang dimiliki penderita OCD menjadi pemikiran yang bersifat positif, mengkondisikan kecemasan yang ada (Anisa, 2016).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Suryaningrum (2013), CBT efektif untuk mengubah pemikiran obsesif yang irasional menjadi rasional, turunnya keteganagan, dan perilaku kompulsif yang menurun. Teknik-teknik dalam terapi CBT guna mengurangi OCD pada dasarnya dapat diterapkan oleh penderita secara mandiri tanpa bantuan terapis secara terus-menerus.

Sebagai contoh kasus, penggunaan Cognitive Behavior Therapy (CBT) terhadap seseorang yang mengalami OCD perilaku tentang kebersihan yang berlebih, seperti piring atau gelas yang harus benar-benar bersih tanpa ada noda sedikitpun.

Adapun teknik-teknik dalam Cognitive Behavior Therapy (CBT) guna mengurangi gangguan tersebut terbagi menjadi beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut: (1) Relaksasi Imagery, (2) Restrukturisasi Kognitif, (3) Eksposur.

Pertama relaksasi imagery, penderita diminta untuk duduk pada posisi ternyaman, kemudian menghirup udara (bernafas) sedalam-dalamnya dan dihembuskan memalui mulut (dilakukan sebanyak 3X).

Selanjutnya melakukan relaksasi imagery dengan cara memejamkan mata dan membayangkan sedang berada di suatu tempat yang dianggap sebagai tempat ternyaman. 

Kedua restrukturisasi kognitif, yaitu menentang distorsi bahwasanya ketika piring atau gelas terkena cipratan tidak mengindikasikan bahwa makanan atau minuman didalamnya juga kotor dan tidak sehat.

Langkah ketiga eksposur, di mana penderita dihadapkan langsung pada sumber atau hal yang menyebabkan kecemasan seperti makan dengan piring yang terkena cipratan. Eksposur bertujuan untuk mengurangi kecemasan ketika berhadapan dengan sumber kecemasan.

Daftar Pustaka

Anisa, A. (2016). Terapi Perilaku Kognitif untuk Menangani Gangguan Obsesif: Studi Kasus. SEMINAR ASEAN 2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY (pp. 62-68). Malang: Psychology Forum UMM.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun