Mohon tunggu...
Suripman
Suripman Mohon Tunggu... Akuntan - Karyawan Swasta

Rakyat biasa, yang mencoba melihat kehidupan bangsa dari sebuah sudut negeri tercinta. Tanpa prasangka, tanpa memihak, mengalir apa adanya.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Dahan Tua yang Menunggu Patah

2 November 2022   09:22 Diperbarui: 2 November 2022   09:33 95
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.mongabay.co.id/2015/12/08/foto-12-pohon-pohon-tertua-dari-seluruh-dunia/

entah sudah berapa lama
tumpukkan itu terus ditimbun
dengan daun-daun yang dulu rimbun
kering sudah, tersisa batang nestapa

dulu, di awal petikan pertama
kita duduk bersama, seperti saudara
semua bersahaja, segalanya indah

membangun harapan
pada peta masa depan
menyusun rencana senja penuh keindahan

tapi, lihatlah kini
timbunan itu menggunung tinggi
engkau terpendam, bahkan tak lagi mampu melihat diri sendiri

aku berkali-kali ingin menolongmu
agar keluar dari timbunan itu
tapi, mendengarpun kau tak lagi mampu

di wajahmu ada api kengerian
yang coba kau padamkan dengan kepura-puraan
tapi bahagia tak pernah ada pada tiap senyum yang kau paksakan.

aku tahu ada pergumulan
antara kepentingan dan kesadaran
namun, engkau memilih untuk membunuh kepedulian

aku tak lagi bisa melihatmu
mendekat sedikitpun bahkan tak mampu
timbunan itu telah menjadi ular yang menelanmu

maka, seperti dahan tua
punggungmu melengkung menahan beban
kehausan dunia, membuat engkau dibutakan
engkau hanya menunggu patah! takkan lama!

Jakarta, 2 November 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun