Mohon tunggu...
Rahmat Asmayadi
Rahmat Asmayadi Mohon Tunggu... Guru - Pendaki ⛰

Pengajar💡 yang suka ngeblog✏, jejaring sosial, bola⚽, jalan-jalan, hobi dengan gadget dan teknologi📲~

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Sepotong Hati yang Kesepian

27 September 2019   14:04 Diperbarui: 27 September 2019   14:04 23
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: unsplash.com

Dalam kamar tidurku yang temaram dimana cahaya masuk menembus tirai murahan berwarna hijau muda aku berfikir keras untuk menulis sesuatu. Aku bimbang dan ragu, hasrat menulisku yang keterlaluan tidak sesuai dengan imajinasi dan daya pikirku. Aku menderita sendiri, menyiksa diri dengan harapan. Ketika aku memulai tulisan ini dengan kehampaan dan keputusasaan, aku berharap takdir mendorong jemariku untuk memencet tombol-tombol huruf di keyboard laptopku, membentuk sebuah kata kemudian serangkaian kalimat yang membius benakku dalam kebahagiaan. Namun macet.

Satu kata "Cinta", kali ini aku ingin menyerah pada perasaan itu. Menyusuri jalanan sendirian didera kegembiraan yang memenuhi jiwaku.

Menatap langit sore dan tersenyum. Menjilati es krim rasa cokelat sambil menangis. Menari diiringi lagu cinta yang mendayu. Kemudian tertidur pulas, memimpikanmu. Aku menggenggam hatiku di tangan. Mengikatnya dengan sepotong pita warna merah muda, dengan hati-hati kemudian membungkusnya dalam kertas kado bermotif bunga mawar. Tak lupa sebelumnya menulis pesan di secarik kertas; "Untukmu, sepotong hatiku yang kesepian".

Ketika kulihat seekor burung dari jendela kamar, aku memohon kepadanya untuk mengirimkan kadoku. Pada mulanya dia enggan, bercicuit dengan ketus, namun setelah melihat wajahku yang menyedihkan dia jatuh iba. Burung itu menggigit pita kadoku kemudian kulihat terbang menjauh hingga menjadi setitik hitam di langit dan aku berdoa semoga dia menjatuhkan kado itu di tempat yang tepat.

Kemudian hari-hari bergulir. Aku selalu menatap keluar jendela, berharap burung itu kembali. Ribuan hujan berderai. Kilasan cahaya matahari melesat, yang terkadang menyakitkan. Deru angin yang sendu merintih. Aku menunggu sambil membaca novel dengan tak sabaran. Atau browsing internet; membuka situs-situs tidak jelas, sekedar melihat insta story dan membaca status facebook orang-orang satu persatu untuk membunuh waktu. Terkadang aku dilanda ketakutan bahwa burung itu menabrak tebing atau sesuatu, ditembak seorang pemburu, atau malahan menyelewengkan kadoku.

Kemudian sesuatu melintas dalam pikiranku. Betapa bodohnya! Mengapa tak terpikirkan sebelumnya? Mengapa aku harus menunggu burung itu, mungkin dia tidak akan kembali, bisa saja dia bermigrasi ke benua lain, mengarungi samudra yang luas, untuk menghindari polusi, namun bukan berarti kadoku belum sampai di tangan seorang perempuan yang entah dimana kamu berada sekarang, aku merindukanmu sampai meriang. Sebuah ide berpijar dalam kepalaku seperti lampu. Aku akan menulis di status facebookku:

"Sedang mencari sang pemilik hati ini!"

Aku juga akan upload foto sepotong hatiku yang sudah kufoto sebelumnya dengan kamera handphone-ku, tak lupa dengan pita warna merah mudanya.

Tiba-tiba serentetan ide menembaki otakku, kali ini aku akan menulis cerita cinta, lebih tepatnya kisah sepotong hati yang kesepian. Dipenuhi sukacita, aku mulai memencet tombol-tombol huruf dalam keyboard laptobku dengan gemetar, tak sabaran. . .

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun