Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

PAN dan PKS adalah Dilema bagi Prabowo

16 April 2018   14:27 Diperbarui: 16 April 2018   14:51 843 23 12
PAN dan PKS adalah Dilema bagi Prabowo
https://poskotanews.com

Dilema Prabowo antara PAN atau PKS di dalam pilpres mendatang, pengalaman masa lalu bersama PAN yang sudah sama-sama dketahui hasilnya. Dulu ada Golkar yang lebih besar suaranya, rela untuk memberikan kursi kepada Hatta Rajasa, ketua umum PAN. Kini dengan konstelasi  yang berubah dengan perpindahan P3 dan Golkar, Gerindra memang masih memiliki cukup peluang, namun susah tentunya memilih PAN seperti dulu, pun PKS mosok ngalah terus terusan.

PKS kini sangat wajar jika mau kursi cawapres karena kemarin sudah memberikan jatah kepada  PAN yang baru belakangan datang. Pun di Jakarta kemarin, memberikan kursinya ke nonpartisan, dua kali gawe cukup besar, mayan prestisius, dan potensi mendulang suara untuk ke depannya. Beberapa hal tentu membuat tidak mudah bagi Prabowo dan Gerindra.

Posisi PKS jelas lebih "setia" di dalam kebersamaan. Tidak pernah sekalipun berseberangan,  termasuk jika tidak mendapatkan apa-apa sama sekali, bukti dua gawe di atas. Dalam isu strategis pun demikian.

"Kesetiaan" dan kebersamaan yang sekian lama, mosok selalu diminta untuk terus mengalah, tentu tidak ada yang mau, meskipun PKS sendiri juga tidak punya pilihan. Dengan suara pada kisaran 6, 79% dengan kursi 40, memang hanya bisa mengandalkan Gerindra saja. Berdua sudah lebih dari ambang minimal.

Kesesuaian di dalam kebersamaan telah terpegang dengan relatif baik, daripada misalnya mengambil PAN yang jelas-jelas sering meninggalkan Gerindra sendirian.  Susahnya adalah;

Suara PAN pun jauh lebih unggul, meskipun tidak jauh-jauh amat. Selisih tidak sampai 1% dari PKS, namun kursi cukup signifikan, ada 9 kursi lebih dari  cukup  syarat minimal. Dengan mepet dan agak longgar tentu lebih nyaman bagi Gerindra bersama dengan PAN.

PAN jauh-jauh hari mewacanakan Zulkifli adalah presiden, bukan wapres, meskipun hal ini bukan harga mati, bahkan cenderung bunuh diri dengan suara sekecil itu kog berani-beraninya capres, sangat mungkin mau turun dan menjadi capres bersama Prabowo.

Peran Amien Rais, tokoh satu ini bisa menjadi malapetaka bagi banyak pihak karena komentar-komentarnya yang bocor tanpa saringan itu. Penuh dengan pemikiraan dan perasaannya sendiri, sehingga malah sering tidak logis apa yang dinyatakan. Bukannya membantu, malah menjadi batu sandungan.

Di sisi lain, memang gerbong Amien Rais tetap cukup besar, meskipun tidak besar-besar amat. Paling tidak, apa yang dinyatakan sering menjadi pembicaraan dan bisa membuat orang bingung mana yang benar atau mana yang perlu diikuti, dan di sinilah, potensi yang membuat Gerindra dan Prabowo sayang jika melepaskan PAN dalam arti khususnya Amien ini.

PKS sendiri memang soal loyalitas dan fanatisme mesin partai tidak ada yang bisa mengalahkan. Tetapi suka atau tidak, mereka dari sembilan nama itu, tidak ada yang menjual sama sekali. Masih kalah jauh baik pamor, tenar, keterpilihan, dan kapasitasnya. Nah tentu Prabowo juga mencari figur yang benar-benar sangat kuat untuk bisa mengubah suara kisaran 7 % menjadi 27 % misalnya.

Sisi  sebelah, kandidat Jokowi dengan banyaknya dukungan, demikian juga mesin partainya juga lebih menjanjikan, sangat perlu kerja keras dari kerja sama Prabowo dengan wakil, atau Gerindra dan partai partnernya.

Jangan terlena dengan Jakarta kemarin, beda kasus, beda kondisi, dan tentu partainya tidak sesolid kini. Di Jakarta banyak partai yang hanya setengah hati. Kini perpecahan itu tidak nampak menonjol, paling hanya pada P3 itu pun oknum seperti Lulung. Artinya upaya mendapatkan bantuan angin sangat kecil.

Potensi itu mendapatkan suara mengambang yang tidak partisan, dan belum yakin untuk memilih Jokowi. Di sanalah peran sosok wakil yang mumpuni, mengenai Prabowo sendiri, sudah susah diharapkan bisa secara signifikan melonjak sangat tinggi. Naik pun tidak akan bisa hingga dua digit, dan peran wakil yang sangat penting yang bisa diharapkan.

Nama-nama moncer seperti Gatot punya resistensi tersendiri. Pun parpol pendukung nyatanya sudah memiliki kader sendiri seperti PKS, atau PAN yang menutup pintu. Apalagi keduanya eks militer, yang malah saling melemahkan.

Atau potensi lain lewat AHY, jika demikian, bersama Demokrat, ruang suara jauh lebih luas. Ada dua nama cukup kuat, namun apakah SBY mau? Itu pertanyaan besarnya, AHY mungkin masih bisa SBY menyatakan "YA", namun suara tidak demikian kuat, pun keduanya militer.

Jika TGB, apakah SBY mau merekomendasikan dengan menepikan puteranya sendiri, ini halangan psikologis yang tidak kecil juga. Sangat susah SBY mau memberikan rekomendasi pada TGB, padahal sosok ini yang cukup bisa menjanjikan.

Kemungkinan lain, PKB. Suara cukup signifikan dengan 9,04% kursi 47 sangat kuat daripada PKS misalnya, suarapun dengan PAN bisa jumawa. Nah kebersamaan PKS bagaimana, akan jadi masalah juga.

Ada nama cukup beken, dan nampaknya juga akan ikut gerbongnya, Yusril, namun nampaknya sangat kecil peluangnya. Nyatanya di Jakarta juga tidak laku.

Mau adil mengambil profesional atau nonpartisan, risiko juga. Cukup dipahami Gerindra dan Prabowo masih susah untuk menyatakan siapa pendampingnya.

Salam