Mohon tunggu...
SANTOSO Mahargono
SANTOSO Mahargono Mohon Tunggu... Pustakawan - Penggemar Puisi, Cerpen, Pentigraf, Jalan sehat, Lari-lari dan Gowes

Pada mulanya cinta adalah puisi. Baitnya dipetik dari hati yang berbunga

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Kesah Desa pada Hujan

30 November 2019   16:29 Diperbarui: 2 Desember 2019   10:12 67 9 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Di kulit pohon yang basah, kutemukan diriku melekat pada ranting-ranting. Tenggorokanku tak lagi kering. Waktu telah mengisi musim dengan seteguk air, sehingga sore itu anak-anak desa tetap bermain bola. 

Anak-anak tetap gembira, tubuhnya penuh lumpur, dan hujan seperti kyusuk membersihkannya kembali. Kutatap tubuhku yang penuh luka bergetah, apakah mungkin anak-anak itu kelak tak lepas dari dosa-dosa? Seperti pendahulu mereka yang tak pernah pulang kembali ke desa? Ayah ibu mereka tak tahu harus berdo'a apalagi, mengapa anak-anak tak rindu desanya kembali. Seperti kesah yang menganga, perih ditikam hujan.

Sampai menjelang petang, nyanyian katak mengundang anak-anak desa untuk tetap rindu pada desanya. Satu persatu nama anak dipanggilnya, meskipun mereka kini telah menjadi tua di kota, tetaplah ayah ibu mereka menunggu di desa. Kuburan-kuburan yang sepi peziarah juga mulai basah. Nisan penuh lumpur, sehingga tak terbaca lagi siapa nama yang tertera.

Seperti tubuhku yang mulai kuyup, apakah mungkin anak-anak itu kelak selalu mendo'akan leluhur mereka, yang membesarkan pribadi tangguh dengan segenap raga desa.

Desa,
Tidurlah saja, anak-anakmu sudah besar. Tinggalah bersamaku, kenangan yang basah, terluka dan penuh lumpur. Obati saja kesahmu, agar perih segera pulih.

MALANG, 30 NOVEMBER 2019

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan