Erny Kusuma
Erny Kusuma Wiraswasta

Penikmat indahnya wisata alam Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Lunas Sehari, Jelajah 5 Coban di Malang

8 November 2018   18:34 Diperbarui: 12 November 2018   11:37 419 4 3
Lunas Sehari, Jelajah 5 Coban di Malang
Menyusuri jalan setapak di rerimbunan belukar (dok.pri)

Pernah liburan ke Malang? Hampir semua yang saya tanya selalu menjawab "sudah" atau "ingin sekali" berkunjung. Umumnya mereka mengenal Malang hanya ingin ke Bromo atau Batu saja. Padahal Malang memiliki wisata yang lengkap dan tentu saja memesona. Entah itu wisata gunung, pantai atau air terjunnya (coban).

Kalau ke gunung, kebanyakan pengunjung tertarik ke Bromo dan Semeru, sedangkan pantai umumnya ke Malang di sepanjang Jalur Lintas Selatan. Disana berjejer pantai-pantai eksotis seperti Balekambang, Ungapan, Bajul Mati, Goa Cina dll. Untuk wisata coban di Malang, mereka hanya mengenal Coban Pelangi yang kadang jadi satu paket dengan wisata Bromo. Atau Coban Rondo di Pujon  yang tak jauh dari lokasi wisata di Batu.

Wisata Alam yang Tak Tersentuh

Wisata di Malang meliputi wilayah Malang Raya terdiri 3 area yakni Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kotif Batu. Kota Malang yang tak memiliki wisata alam ini hanya menyediakan fasilitas untuk penikmat wisata seperti hotel untuk menginap dan kafe sebagai penunjang wisata kuliner. Untuk Kabupaten Malang dan Kotif Batu mempunyai banyak potensi wisata alam dan buatan yang tak sedikit jumlahnya.

Wisata alam yang dikenal di Kabupaten Malang dan Batu selain gunung juga ada coban. Wisata coban yang banyak terselip diantara lembah dan bukit masih banyak yang  tak tersentuh dan belum dikenal. Coban-coban itu sebagian ada di Timur Malang tepatnya di Kecamatan Jabung. Menurut Camat Jabung Bapak Drs Hadi Sucipto, M.Si, ada puluhan coban yang indah dan belum terjamah di wilayahnya. 

Seperti yang berlokasi di Dusun Begawan Desa Pandansari Lor Kecamatan Jabung. Di sana menyimpan pesona keindahan alam yang memukau. Hutan dan lembah hijau membentang menyejukkan hati dan mata. Nah dibentang alam itulah terselip coban-coban memikat dengan curahan air bening yang segar. Nama-nama coban pun unik dan memiliki cerita dibalik namanya. 

Coban Ani-ani (dok.pri)
Coban Ani-ani (dok.pri)
Beberapa waktu lalu saya mencoba menyusuri hutan untuk menjelajah 5 coban yang unik bersama komunitas X-plore Wisata Malang. Hampir 7 jam perjalanan kami pergi pulang untuk bercengkerama dengan beningnya air coban, lekukan sungai berbatu juga segarnya hawa alam terbuka.

Untuk menuju coban-coban tersebut kami harus masuk dari loket resmi Coban Jahe yang dikelola oleh Perhutani Kabupaten Malang. Coban Jahe ini merupakan wisata alam juga tapi untuk menuju kesana tanpa treking karena dekat dengan tempat parkir. Kami membayar HTM 10 ribu rupiah per orang dan parkir motor 5 ribu rupiah. Yuk simak perjalanan kami menuju 5 coban yang masih asri dan alami...

1. Coban Susuh

Menuju ke Coban Susuh dibutuhkan waktu kurang lebih 60 menit dari loket Coban Jahe. Sepanjang perjalanan hanya ada rerimbunan hijau, melewati perkebunan penduduk dan lembah serta menyebrangi sungai berbatu. Jangan tanya tentang alamnya, yang pasti hawanya terasa bersih dan segar. Hehe...

Kebun warga (dok.pri)
Kebun warga (dok.pri)
Dibeberapa titik ada treking yang lumayan curam, hingga kami harus menggunakan tali webing untuk  jalur yang naik ataupun turun. Keringat tentu saja bercucuran tapi tak menjadi soal. Sebab kami memang sudah jauh hari berniat untuk melakukan jelajah ini. Apapun yang kami alami adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan. Dan bagi teman-teman, kalau ingin ikut jelajah coban, pastikan kondisi tubuhmu kudu sehat dan fit ya?

Jalan menurun (dok.pri)
Jalan menurun (dok.pri)
Menyusuri sungai (dok.pri)
Menyusuri sungai (dok.pri)
Coban Susuh mempunyai arti dan cerita lho. Dalam Bahasa Jawa--Susuh berarti semacam tempat tinggal sementara atau tempat untuk bersembunyi. Konon, menurut Maul dan Adam sang guide jelajah coban menuturkan, dulu saat jaman penjajahan Belanda banyak warga dan juga pasukan tentara bersembunyi di area coban. Mereka menghindari kejaran pasukan Belanda. Akhirnya mereka "nyusuh" atau tinggal sementara di hutan sekitar coban.

Penampakan Coban Susuh debit airnya gede meski kemarau (dok.pri)
Penampakan Coban Susuh debit airnya gede meski kemarau (dok.pri)
Akar pohon yang ditumbuhi lumut, bisa jadi latar buat narsis bergelayutan (dok.pri)
Akar pohon yang ditumbuhi lumut, bisa jadi latar buat narsis bergelayutan (dok.pri)
Dari cerita yang berkembang itulah coban tempat nyusuh mereka dinamakan Coban Susuh. Cobannya tak terlalu tinggi kurang lebih 10 meter. Tapi debit airnya besar meski musim kemarau. Airnya bersih dan bening. Disisi kanan dan kirinya bahkan ada akar pohon yang menjuntai dan berlumut warna hijau segar. Akar tersebut malah jadi tempat narsis yang oke sambil untuk bergelayutan. hehe...

2. Coban Kodok

Mendengar nama Coban Kodok, banyak orang termasuk saya mengira, kalau  di coban tersebut banyak terdapat Kodok. Menurut guide memang betul banyak binatang amphibie disana.  Tapi itu dulu saat jaman penjajahan Belanda.  

Nah Coban Kodok ini lokasinya tak jauh dari Coban Susuh.  Jarak tempuhnya hanya sekitar 30 menit saja.  Curah airnya paling kuat sehimgga sekitarnya seperti berkabut.  Kenapa dinamakan Coban Kodok ternyata masih ada kaitannya dengan cerita  Coban Susuh. 

Coban Kodok (dok.pri)
Coban Kodok (dok.pri)
Konon Coban Kodok yang tingginya sekitar 20 meter ini, dulu dihuni banyak kodok. Saat warga dan tentara sembunyi di Coban  Susuh, mereka tentu saja harus survive kan? Jadilah demi mempertahankan hidup,   kodok-kodok itulah jadi santapan  makanan mereka. 

Dari cerita yang berkembang akhirnya coban itu dinamakan Coban Kodok.  Tapi saat saya kesana tak menemukan seekor kodokpun yang nongol disekitar area coban. Mungkin kodok-kodok itu takut ya dijadikan santapan kami? 

3. Coban Sari

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3