Mohon tunggu...
Nurulloh
Nurulloh Mohon Tunggu... Building Kompasiana

Ordinary Citizen

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Thamrin Sonata Akan Terus Memperkaya Pembacanya

3 September 2019   18:55 Diperbarui: 3 September 2019   20:52 0 31 18 Mohon Tunggu...
Thamrin Sonata Akan Terus Memperkaya Pembacanya
Pertemuan terkahir saya dengan Pak Thamrin Sonata (alm) di Cisarua, Jawa Barat/Muthiah Alhasany

Menulis bukan tentang menghasilkan uang, menjadi terkenal, berkencan, bercinta, atau berteman. Pada akhirnya, ini tentang memperkaya kehidupan orang-orang yang akan membaca karya Anda, dan juga memperkaya kehidupan Anda sendiri. --Stephen King

Apa yang dikatakan King dalam buku "On Writing: A Memoir of the Craft" di atas seperti rima dalam perjalanan hidup seorang penulis yang berhasil menyekap memori pembacanya meski penulis tersebut telah berpulang. 

Kabar duka atas berpulangnya Kompasianer Thamrin Sonata siang ini cukup mengejutkan saya dan beberapa Kompasianer yang mengenalnya. Pasalnya, alm. masih sempat berinteraksi dengan rekan sesama Kompasianer beberapa hari sebelumnya, bahkan ada yang mengatakan belum genap 24 jam ia masih berkomunikasi via whatsapp.

Kompasianer Thamrin Sonata (alm) saya kenal sebagai blogger yang tidak hanya produktif dalam membuat artikel, tapi juga aktif berkegiatan secara offline. Tak ayal banyak yang mengenalnya, apalagi alm. seringkali membantu Kompasianer lain dalam misi penerbitan buku.

Di setiap kesempatan, alm. rasanya tidak pernah melewatkan untuk menyapa yang lain. Bahkan, hampir di tiap kesempatan, saya dan alm. selalu terlibat obrolan serius tapi santai. Mulai dari sekadar brainstorming hingga kesempatan baginya untuk memberikan masukan kepada Kompasiana.

Alm. mulai bergabung di Kompasiana sejak 22 September 2012 dan menayangkan konten perdananya pada tanggal yang sama dengan judul "Bahasa Pilihan Kita" serta ditutup dengan karya terakhirnya yang berjudul "Perburuan Novel dalam Mem'bumi Manusia'kan Film Negeri Dewek" pada 11 Agustus 2019.

Total konten yang telah ditayangkan berjumlah 1.125 artikel dengan total pembaca 615 ribu. Akunnya di Kompasiana pun sudah berlabel "terverifikasi" (centang biru). Sebuah apresiasi yang diberikan Kompasiana kepadanya.

[BACA JUGA: Obituari Thamrin Sonata, Perpustakaan Berjalan dari Kompasiana]

Seluruh konten yang ditayangkan sudah barang pasti tidak pernah sepi komentar dan rating. Ada sekitar 9 ribu komentar dan 9 ribu penilaian (rating) yang diberikan pembacanya di seluruh artikel milik alm.. Ini cara melihat bagaimana seorang kreator yang interaktif dan responsif. Tidak sekadar posting lalu pergi.

Selain sebagai inisiator Komunitas Kutu Buku, alm. kerap didapuk sebagai editor buku hasil karya Kompasianer. Sebuah hal wajar ketika orang-orang yang mengenalnya terkaget-kaget ketika mendengar kabar duka ini. 

Kurang lebih mirip dengan kabar duka ketika Kompasianer Tubagus Encep (alm) meninggal dunia pada 10 Juli 2018.

Kini, jiwa dan raga seorang Kompasianer Thamrin Sonata (alm) tidak bisa lagi dirasa dan disapa. Tetapi bukan berarti alm. berhenti memberikan nilai kehidupan bagi orang lain.

Karyanya di Kompasiana masih bisa memperkaya kehidupan Kompasianer lain, seperti kata King!

Selamat jalan Pak!