Mohon tunggu...
Nina Sulistiati
Nina Sulistiati Mohon Tunggu... Guru - Belajar Sepanjang Hayat

Pengajar di SMP N 2 Cibadak Kabupaten Sukabumi. Buku Solo: Asa Di Balik Duka Wanondya, Penulis 17 Antologi berbagai genre, antara lain Unforgettable Legend(Legenda yang Tak Terlupakan, Menapak Jejak Sang Pencerah, Menapak Jejak di Geiopark, Simfoni Hati Sang Penyair dll.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Di Bawah Langit Salabintana

20 April 2022   00:39 Diperbarui: 20 April 2022   00:53 348 24 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: Youtube.com

Aku menyusuri kebun teh yang terbentang di kaki gunung Pangrango saat langit jingga yang mempesona, menemani langkah-langkah kakiku.  

Aku melihat kau berdiri tegak di tepi jalan menatap hamparan batang-batang teh laksana permadani. Tiba-tiba angin berhembus kencang dan menerbangkan kerudungmu. Pemandangan indah yang membuai netra hatiku berdenyar-denyar.

Di waktu yang sama berpuluh-puluh burung pipit berbaris rapih tanpa paksaan, terbang mengangkasa. Mereka pulang kembali ke sarang karena hari telah beralih senja.

"Arina, ayo kita pulang! Hari telah mulai gelap," seruku dari kejauhan. Arina hanya tersenyum manis ke arahku.

"Bentar, Kang. Aku masih ingin menikmati senja yang masih tersisa. Entah kapan lagi aku bisa menikmati momen ini," jawab Arina sambil memetik daun-daun teh di depannya.

Aku memandang Arina dengan senyuman getir. Duh ... Gusti nu Agung, haruskah keceriaan itu berakhir dalam balutan takdir-Mu, batinku seraya memandang Arina.

"Kang, dokter sudah menentukan sisa waktuku. Sebulan, dua bulan, tigabulan ...." ujar Arina saat aku datang menengoknya tempo hari.

"Hush ... jangan ngomong begitu, ah. Kamu mah mendahului takdir Allah," timpalku sambil menyerahkan apel yang baru saja kukupas.

"Asli ini, Kang. Dokter memvonis hidupku tidak panjang gara-gara si kanker ini," ujar Arina santai.

Seolah tidak ada beban di hatinya, padahal kanker darah stadium lanjut tengah menggerogoti tubuh mungilnya. Setiap minggu, dia harus cuci darah. Namun, aku tak pernah mendengarnya mengeluh tentang penyakitnya. Tingkat keikhlasan yang sangat tinggi tampak di gerak-geriknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan