Mohon tunggu...
Netti Kurniati
Netti Kurniati Mohon Tunggu...

I want to be something, something meaningful and full of meaning

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Bumi Tujuh Purnama

13 Maret 2012   08:17 Diperbarui: 25 Juni 2015   08:08 138 0 1 Mohon Tunggu...

Tunggu aku di purnama ketujuh, rajutlah benang cinta ini selama dan sejauh aku pergi. Hanya itu pintaku, tak banyak. Tugasmu hanya menungguku, menungguku di purnama ketujuh.

Namaku Zee, membacanya bukan seperti bahasa Inggris Zii. Bukan. Aku tak menyukainya. Seperti pengucapan lazim dalam bahasa Indonesia Zee, aku lebih menyukainya. Perempuan biasa yang mempunyai mimpi luar biasa. Merentang dalam jengkal bernama Bumi. Nama yang unik untuk seseorang, pria yang kucintai dalam bentuk dan pengertian berbeda, aku ingin pria ini menjadi penutup dalam kisah hidupku, aku mencintai pria ini dengan cara yang berbeda.
“Aku Zee,” menjabat tangan pria ini ingin berlama namun aku ragu.
“Nama yang unik, tapi aku yakin namaku jauh lebih aneh dari nama pria mana pun di bumi ini,” dia merengkuh jemariku, erat.
Pertemuan pertama yang akan menambah malamku tak kunjung pagi. Dia tidak tampan, tapi aku menyukai caranya menatapku. Aku menyukai caranya memberikan senyum dan aku selalu menyukai saat dia mampu mendengarkan semua ceritaku walau tanpa ada titik dalam setiap kalimatku.
“Seaneh apa namamu,” dudukku mulai gelisah, matanya lekat ke arahku. Aku membenci tatapannya sekaligus berbahagia.
“Bumi,” senyumnya meruntuhkan pertahanan keakuanku.
“Kau turun di mana?” pertanyaan basa-basi yang makin menandakan kegelisahan luar biasa dalam dadaku.
Dia tak menjawab, hanya senyum. Lantas memandang ke arahku lagi-lagi lekat seolah hendak melumatku seketika. Aku melempar pandanganku ke arah lain. Melihat desakkan penumpang yang kian padat, pengap menyeruap. Anehnya aku menyukainya, tubuh kami begitu rapat di dalam angkutan kebanggaan Ibukota Jakarta ini.
“Kita selalu bertemu di sini, entah suatu kebetulan atau bukan, tapi senang berjumpa dan bisa mengenalmu hari ini, ini kartu namaku, aku berharap kau bisa menghubungiku kapan-kapan, sesempatmu,” dia menyerahkan kartu namanya, berdiri dan meninggalkanku di antara desakkan penumpang lainnya, tak ada kelanjutan apa pun. Hanya sampai di situ pertemuan hari itu.
Tunggu aku di purnama ketujuh, pupuklah cinta ini agar dia tetap subur dan biarkan cinta ini yang menemani hari-harimu hingga aku kembali di purnama ketujuh.
Pekerjaan merontokkan seluruh persendianku, setiba di rumah, aku langsung mengunci diri di kamar. Merebahkan tubuh di atas kasur. Lama aku menatap langit-langit kamar, mengelilingi setiap sudutnya. Aku gelisah dalam kegundahan luar biasa, ingin lelap tapi hatiku tak mampu terpejam. Tak mampu diajak ke dalam mimpi. Aku meraih tasku, mencari kartu nama yang diserahkan seorang pria yang sudah sering kujumpai di angkutan itu, tapi baru hari ini kami resmi saling berkenal.
Bumi, seperti namamu. Kau pusat segala semesta, menurutku. Zee.
Pesan singkat dengan kalimat aneh, sempurna terkirim, aku menyesal. Tapi, aku menanti Bumi membalas pesanku. Kian panjang malamku, entah apa yang membuatku ingin mengenal pria ini lebih jauh, tak biasanya aku mempercayai pria sedemikian rupa. Dua jam sudah tak ada balasan, hingga aku kalah oleh rasa kantuk, baju kerja masih menempel di tubuhku, bahkan stoking yang kugunakan masih melekat di kakiku.
Pagi menjemput, aku meraih ponsel yang masih dalam genggamanku. Kulihat layar ponsel, ada satu pesan yang menanti untuk kubaca.
Zee, pagi ini semburat matahari seperti matamu penuh binar. Semoga pagi ini aku bisa menatapnya, lagi.
Seperti ada energi yang mengalir, aku bergegas bersiap ke kantor. Tentunya, berharap dapat bertemu dengannya. Tak biasanya aku mematut diri selama ini di cermin, mana peduli aku dengan penampilan. Tapi, ada hal berbeda pagi ini. Matahari ingin bertemu dengan Bumi. Akan ada cerita berbeda setiap harinya.
Halte ini, penuh sesak dipenuhi pekerja-pekerja sepertiku, aroma yang dikeluarkan tubuh orang-orang ini baur dengan asap dari knalpot kendaraan. Mataku menyapu seluruh halte, aku mencari tubuh besar dan tinggi itu, mencari sepasang mata yang membuat malamku semakin panjang.
“Hei Zee,” ada yang menepuk pundakku.
“Hei, Bumi,” aku gugup menjawab sapaannya.
Kami antre bersama kerumunan penumpang lainnya, aku selalu menyukai tubuh kami yang sedekat dan serapat ini. Dia menggandeng tanganku, saat memasukki kendaraan umum seluruh umat di Jakarta ini. Aku tak menolaknya. Beruntung, kami dapat tempat duduk bersebelahan lagi, pagi ini.
“Sepulang kantor, maukah kau menemaniku menikmati secangkir kopi hangat, aku yang akan mentraktirmu,” Bumi menawarkan hal yang tentu tak akan kutolak sama sekali.
“Ya, kantorku di Sudirman, kita bertemu di mall terdekat, bagaimana?”
Bumi tersenyum, tanda setuju dengan usulku.
Tunggu aku di purnama ketujuh, seperti sinarnya, aku ingin cintamu lebih terang dari setiap purnama.
“Zee, aku selalu suka matamu, secara fisik mereka tak cantik. Tapi, entahlah selalu ada harapan dan pijar kesungguhan di dalamnya, aku menyukainya,” Bumi membuka percakapan sore ini, kami menyeruput kopi bersama menanti senja kesukaanku.
“Oh yah? Aku sendiri tak pernah mempercayai kalau aku memiliki mata seindah yang kau deskripsikan. Aku ingin keliling dunia, mengenal setiap jengkal dunia Tuhan. Kau tahu, aku selalu menyukai hal baru yang membuatku bisa merasakan hidup, hidup yang sesungguhnya,” panjang lebar aku menyerocos, seperti biasa terlihat antusias dan berapi-api.
Bumi menggengam jemariku, sedikit pun aku tak memberikan gerakan aku menolak. Kami baur dalam riuh pengunjung café sore itu, tak banyak kata terucap. Tapi, perasaan ini tak ada yang mampu memaknai. Sore itu, tepat saat senja jatuh di pangkuan malam, hati kami baur dalam diam.
Tunggu aku di purnama ketujuh, percayalah. Aku berjanji, untuk kembali. Hanya untukmu.
Bumi mengantarku hingga ke depan pintu rumah, hanya memastikan aku baik-baik saja. Sepanjang jalan, aku lebih banyak bercerita dan dia menjadi pendengar setia untuk setiap kisah yang kadang menurutku sendiri tak pernah penting.
“Terima kasih untuk hari ini,” Bumi membisikkannya di telingaku dan mengecup keningku.
Aku tersenyum dan kali ini aku tak banyak berucap seperti biasanya, aku hanya menatap punggung Bumi yang ditelan remang malam ini. Malamku kian gelisah, seperti ada janji yang tak terpenuhi dan terselesaikan bila malam datang.
Aku mencintaimu seperti setianya Matahari pada Bumi
Kukirimkan pesan pendek itu untuk Bumi, lagi aku menanti balasan yang dapat membuat malam panjangku lebih menyenangkan. Hingga pagi menjemput, matahari semburat dari kamarku. Pesan balasanku, baru dibalas pagi ini, seperti biasa.
Zee, Aku mencintaimu seperti Bumi mencintai semestanya. Aku tunggu di tempat kemarin sepulang kerja, pagi ini aku pakai kendaraan sendiri.
Pesan yang membuat dadaku buncah dan berdegup tak beraturan, siapa pula wanita yang tak merasakan bahagia seperti ini. Aku jatuh, jatuh pada Bumi, terperosok ke dalam perasaan yang sampai detik ini tak mampu kupahami.
Tunggu aku di purnama ketujuh, percayalah aku selalu menemanimu. Hatiku, hatimu begitu dekat.
Aku tiba duluan di café tempat biasa kami menghabiskan senja, menanti Bumi. Sudah secangkir kopi kuhabiskan mengusir kesendirian. Memperhatikan pengunjung mall yang lalu-lalang. Tak ada yang mampu menarik perhatianku, selain memikirkannya.
“Sayang, maaf aku terlambat,” Bumi mencium keningku.
“Kau mau pesan apa?” aku menawarkan minuman untuk Bumi.
“Tak usah, aku hanya sebentar, semua serba terburu-buru sayang,” Bumi mulai gelisah di tempat duduknya.
Aku hanya menatap matanya lekat, kenapa tiba-tiba aku tak menginginkan pertemuan ini. Bumi tak seperti biasanya seresah ini, biasanya dia sangat tenang dan dapat mengendalikan situasi dengan sempurna. Tapi tidak kali ini.
“Zee, aku harus pindah,” Bumi mengucapkan kalimat itu, yang kudengar samar dan bahkan aku seperti salah dengar.
“Pindah apa?” aku berusaha mengendalikan perasaanku.
“Aku dipindahkan ke Kota Medan selama tiga tahun,”
“Lantas?”
“Kau tahu Zee, aku sangat mencintaimu. Maukah kau menanti kepulanganku. Menungguku selama itu, sampai nanti setelah aku selesai bertugas, kita akan bangun hidup bersama-sama, aku akan meminangmu, tapi setelah kepulanganku,”
“Haruskah aku menunggumu? Yakinkan aku, kalau memang kau adalah puisi terakhir kehidupanku.”
“Zee, tunggulah aku di purnama ketujuh untuk menjumpaimu, tepat di purnama ketujuh aku akan mengikatkan diriku, utuh untukmu. Tugasmu di sini hanya memupuk cinta kita bersama, hanya itu. Tunggu aku di purnama ketujuh,” Bumi meraih jemari dan mengecup tanganku.
“Bumi, aku selalu mencintaimu. Aku akan menunggumu, selalu. Seperti setianya Matahari pada Bumi, aku akan menanti kepulanganmu di purnama ketujuh,” aku menyakinkan Bumi.
Senja hari itu tak cantik seperti biasanya, aku semakin membenci malam yang pekat. Seperti ada janji-janji yang tak tuntas, seperti ada mimpi yang tak terselesaikan. Bumi mengantarku dan mulai malam ini, dia akan jauh dalam rentangan jarak ratusan kilometer dariku. Purnama ketujuh seperti janjinya.
Tunggu aku di purnama ketujuh, yakinlah sepekat apa pun malam, aku di sini selalu melukis langit dengan warna merah seperti hatimu.
Bumi, rindu ini menyesakkanku. Rindu ini lekat seperti getah dan pekat seperti malam, kau selalu berpesan agar aku menunggumu di purnama ketujuh. Aku menanti dengan segala setiaku di sini. Aku menantimu. Malam ini, tepat purnama ketujuh aku meringkuk di kamar, menunggu dering telpon darimu. Kuraih ponsel di bawah bantalku, aku yang akan menelponmu, sekedar memastikan kau kembali ke kota ini.
“Halo,” suara di seberang sana menjawab teleponku, lantas kenapa bukan suaramu, kenapa perempuan yang menyapaku, selarut ini.
“Bumi ada?”
“Maaf, saya isterinya. Ada pesan, Mas Bumi sedang ke luar sebentar.”
Kuletakkan dan kubiarkan ponselku di sebelahku. Masih nada tersambung. Samar kudengar di ujung sana suaranya, Bumi.
Aku masih menunggumu di purnama ketujuh. Dan malam ini tepat purnama ketujuh, pipiku hangat. Aku mencintaimu, seperti setianya matahari pada Bumi.
NK-5 November 2011

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x