Felix Tani
Felix Tani Petani

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Inilah Jenis Kematian yang Diidamkan Orang Batak

16 Maret 2019   11:44 Diperbarui: 16 Maret 2019   14:35 708 18 16
Inilah Jenis Kematian yang Diidamkan Orang Batak
Prosesi Adat Batak jelang pemakaman| Sumber: Tribun Pekanbaru/Hendri

Budaya Batak itu kocak. Bukan hanya cara hidup orang Batak yang dituntunnya, tapi juga cara mereka mati.

Tepatnya budaya Batak ternyata merumuskan cara mati mulai dari yang "paling tidak diidamkan" sampai yang "paling diidamkan".

Dalam praktiknya, orang Batak kemudian selalu berdoa kepada Ompung Mula Jadi Na Bolon, Tuhan Awal dan Akhir yang Maha Besar, agar terhindar dari musibah "kematian yang paling tidak diidamkan", dan semoga dikarunia "kematian yang paling diidamkan".

Jadi, jika orang Batak berdoa pada Tuhan minta usianya dipanjangkan, maka intensinya adalah semoga tiba pada "kematian yang paling diidamkan".

Maka orang Batak kemudian merencanakan dan menjalankan kehidupannya untuk meraih tujuan kematian yang paling diidamkan itu.

Jadi, coba dipikirlah, apakah tidak kocak jika suatu budaya menuntun pemangkunya untuk merancang suatu cara mati terbaik dan terindah baginya?
***
Budaya Batak merumuskan sejumlah jenis kematian, mulai dari status usia janin sampai usia tua, dari yang paling tidak diharapkan sampai yang paling diidamkan.
Sejatinya kematian memang tak pernah diharapkan, kendati sudah diterima sebagai suatu kepastian bagi orang hidup. Tapi budaya Batak membantu pemangkunya untuk merumuskan "kepastian kematian" itu baginya.

Bagi orang Batak, kematian yang paling tidak diinginkan adalah ragam jenis kematian yang menjemput sebelum menikah. Mulai dari kematian dalam kandungan (mate di bortian), kematian saat bayi (mate poso-poso), kematian usia kanak-kanak (mate dakdanak), kematian usia remaja (mate bulung; bulung = daun hijau), dan kematian usia dewasa tapi belum menikah (mate ponggol; ponggol = patah).

Tidak ada upacara adat untuk orang Batak yang mengalami kematian seperti itu. Kecuali bahwa tulang (paman, saudara lelaki ibu) akan menutupkan sehelai ulos pada jenazah bere-nya (keponakan). Begitu saja, cara mati yang tak hendak dikenang.

Tapi tipe kematian kelompok kedua, mati setelah menikah, tidak dengan sendirinya juga diinginkan atau diharapkan. (Ya, siapa pula sebenarnya berharap mati?)

Tiga jenis kematian setelah menikah berikut ini jauh dari doa orang Batak. Pertama, mate punu, meninggal dunia saat belum dikaruniai keturunan. Kedua, mate mangkar, meninggal ketika sudah dikaruniai anak, tetapi anaknya belum ada yang menikah. Ketiga, mate hatungganeon, meninggal ketika sudah ada anaknya menikah tapi belum memberikan cucu untuknya.

Dari tiga jenis kematian itu, mate punu-lah yang paling tidak diharapkan orang Batak. Alasannya, pertama, mate punu adalah cacat sosial karena tidak pernah mencapai hagabeon (banyak keturunan), sehingga dengan demikian juga tak mencapai hasangapon (kehormatan, kemuliaan).

Kedua, dalam kepercayaan lama orang Batak, orang yang mate punu akan ditempatkan di tempat terpencil di akhirat. Di tempat dia akan kesepian seperti semasa hidupnya.

Dua alasan ini untuk sebagian menjelaskan mengapa orang Batak sangat mengharapkan adanya keturunan sebagai hasil perkawinan. Perkawinan tanpa keturunan dipandang sebagai "kegagalan sosial".

Jenis kematian yang diidamkan orang Batak adalah sari matua dan, lebih tinggi lagi, saur matua. Itulah jenis-jenis kematian pada usia tua, ketika seseorang sudah bisa disebut mencapai tiga tujuan hidup orang Batak yaitu hamoraon, hagabeon, hasangapon (banyak harta, banyak keturunan, terhormat).
***
Pada saat upacara pernikahan adat (mangadathon), pihak hula-hula (pemberi istri, termasuk orangtua mempelai perempuan) pasti akan menyampaikan doa dalam bentuk syair (umpasa) berikut:

"Andor hadukka togu-togu ni lombu, andor hatiti togu-togu ni horbo. Saur matua ma hamu pairing-iring pahompu, sahat hu namarnini sahat hu na marnono." Artinya: "Batang merambat jadikan tali penuntun lembu, batang menjalar jadikan tali penuntun kerbau; Semoga kalian berdua panjang umur mengiring banyak cucu dan cicit."

Itu adalah doa agar pasutri baru itu panjang umur hingga saur matua, tiba pada tingkatan kematian yang diidamkan orang Batak.

Tapi mencapai tingkatan saur matua bukanlah soal mudah. Karena mempersyaratkan setidaknya semua anak telah menikah dan memberikan cucu.

Tingkat kesukarannya begini. Jika seseorang menikah pada usia 20 tahun, lalu punya lima orang anak, setidaknya dia perlu mencapai usia 65 tahun untuk mendapatkan cucu dari semua anaknya. Dengan begitu baru bisa diakui saur matua.

Jika dia mengidamkan status saur matua yang lebih tinggi, yaitu saur matua bulung, maka dia perlu setidaknya mencapai usia 85 tahun. Agar mendapatkan cicit dari cucunya yang sudah berkeluarga, sebagai syarat untuk jenis kematian seperti itu.

Lebih tinggi dan lebih sukar lagi adalah saur matua mauli bulung. Ini jenis kematian saur matua bulung, tapi dengan syarat tidak ada keturunannya yang mendahului kematiannya. Ini adalah kualitas kematian paling tinggi, paling mulia, dan sekaligus paling langka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2