Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Negeri Tulang Belulang (Lolos dari Maut)

30 September 2019   19:06 Diperbarui: 30 September 2019   19:12 63
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Negeri Tulang Belulang (Pertemuan di Ngarai Kematian)

Ran memacu tubuhnya membelah air sungai yang tenang. Tidak jauh di belakangnya puluhan ular berbisa mengejar dengan mengeluarkan suara mendesis-desis. Namun bagaimanapun kuatnya tenaga manusia, kecepatan berenangnya tentu masih di bawah kecepatan ular. Jarak mereka semakin dekat.

Sementara di pinggir sungai, Ben, Tet, dan Rabat memegangi kepala dengan teramat sangat cemas. Masing-masing dari mereka sudah menyiapkan kayu sebesar lengan jika sampai ular-ular itu mencapai daratan. Tongkat-tongkat itu diletakkan di tanah. Dalam pikiran mereka sekarang hanya terlintas bagaimana cara agar Ran selamat.

Dan harapan itu menipis. Jarak antara Ran dan sekawanan ular itu semakin dekat. Mungkin tidak sampai 5 meter lagi. Ran teringat daun pohon yang berguna mengusir kelelawar pemangsa tempo hari. Tapi mana dia sempat lagi. Lagipula ini di dalam air. Tentu aroma daun itu akan segera hilang terbasuh air.

Ran hanya berusaha sekuatnya untuk terus maju. Jarak ke tepian sebenarnya tinggal sekitar 15 meter lagi. Tapi ular-ular yang mengejarnya itu cepat sekali. Tinggal 2 meter lagi. 1 meter. Ran pasrah. Mungkin ini akhir dari petualangannya.

Tepat di saat ular pertama hendak mematuk Ran, tiba-tiba saja sungai tenang itu bergelombang. Entah karena kebetulan atau tidak, arah gelombang itu menuju kawanan ular sehingga kawanan itu terdorong mundur. Ran terselamatkan sementara. Namun ular-ular kembali berenang maju dengan kecepatan tinggi.

Kali ini 3 ekor ular secara bersamaan mengangkat kepala hendak mematuk kaki Ran.

Byuuuurrr......byuuuurrr....claaapp!

Sepersekian detik sebelum taring berbisa itu menancap di kaki Ran, terdengar suara keras air yang naik tinggi. Beberapa ekor binatang besar menyambar 3 ekor ular itu dalam sekali kelebat. Menangkap dan membawanya menjauh.

Berturut-turut kejadian yang sama terulang. Beberapa binatang yang terlihat seperti Kapibara namun berukuran lebih besar menyambar ular-ular itu dan membawanya menjauh, lalu memakannya di atas batu-batu besar di sebelah hulu.

Hingga akhirnya kawanan ular itu kocar-kacir mencoba meloloskan diri dari predator mereka dengan kembali ke tepian tempat mereka berasal dan menancapkan diri lagi ke tanah menjadi rumpun "bambu".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun