Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Renungan di Serambi Depan

19 Oktober 2018   00:34 Diperbarui: 19 Oktober 2018   00:36 181 3 2

selarik cahaya buram. Jatuh di permukaan daun cemara. Entah cahaya darimana. Jelas bukan dari surga. Sebab surga tak tertera dalam peta.

sekeping kenangan muram. Luruh di buah markisa. Tentang perjalanan yang telah dilakukan. Berikut asam dan getir yang disediakan. Pada setiap persinggahan. Sebagai satu-satunya minuman.

sepasang dahan kamboja. Meruntuhkan bunga-bunga. Di atas pemakaman masa silam. Dengan batu nisan yang digrafir hitam. Penanda tegas. Apa yang telah dilakukan belumlah lunas.

ini malam yang tidak disertai purnama di dalamnya. Hening menjadi perantara terbaik yang ada. Suara yang ditimbulkan hujan. Lebih dan kurangnya adalah gemericik khayalan. Mengendap di tepian ranjang. Menjadi lampu baca ketika menuliskan sajak-sajak usang. Di zaman yang perlahan-lahan mulai tumbang.

itu langit yang berusaha keras mencintai takdirnya. Berlaku membisu. Menyelesaikan penantian akan warna biru. Untuk beberapa lama tubuhnya begitu kelabu. Seperti abu jenazah yang belum dilarung di lautan. Sebagai gambaran belum tuntasnya siklus perjalanan.

ini aku. Merenungi detak nadi waktu. Merasakannya dengan seksama. Mengalir di dalam aorta dengan warna darah yang masih sama. Semenjak pertama kali ruh ditiupkan. Sampai nanti saatnya dikembalikan.

Bogor, 18 Oktober 2018