Mohon tunggu...
Masril H. Rambe
Masril H. Rambe Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Pencinta Kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Menyusuri Sunyi

3 Februari 2023   09:00 Diperbarui: 3 Februari 2023   09:19 119
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

KETIKA aku mulai berangkat pada kesengsaraan, bersama itu pula di kampungku berkumandang orkestra nyanyian alam sudah menyelubungi segenap penduduknya. Dan menyapa mereka satu per satu di pintu, jendela dan pagarnya. Setiap nyanyian menginginkan senyuman pada wajah-wajah yang ditujunya, namun ketika itu di jiwaku adalah tangis yang tersentuh oleh nafas-nafas iramanya.

Lalu hujan turun dan merebahkan sepinya di halaman kampungku yang semakin sunyi. Aku menelusuri tepi sungai, berjalan dalam arus suasananya, mengitari kesempatan dan batu-batu membasah.

Aku bertemu dengan bayang-bayangku di telaga, dengan wajah gemetarnya dalam usikan titik-titik air. Ia tersenyum dan kudengar isi dalam jiwanya.

Ia berkata, "Inilah aku, dengan wajahku yang beku, dan tersenyum pada pandangan ragunya, aku terlihat seperti sosok yang memerankan satu tokoh dalam panggung, dan disaksikan oleh para mata yang menusuk kemisterianku."

Sebuah kemisterian layaknya air hujan yang baru menyibak mendung yang pekat, setelah mereka berdialog tentang bumi dan manusia dan tentang tumbuhan serta sungai. Mendung merupakan ungkapan tersembunyi langit yang menyatakan gumpalan-gumpalan jiwanya terbentuk dengan air mata manusia yang mengisi semua lautan. Atau terbentuk dengan uap nafasnya yang mengharapkan kasih sayang.

Aku menemui kemisterianku, dengan jejak yang coba kucari di tepian sungai ini. Aku merasa kalau dahulu pernah berlalu di atasnya, pada arusnya yang membawaku sampai ke hilir dan telah melihat bongkah-bongkah batu adalah jiwaku yang menunggu segala sesuatu menegur sapanya. Apakah itu benar-benar sudah kualami atau hanya singgah dalam imajinasiku saja, tidaklah begitu perlu. Tapi aku merasakan hubungan dengan suasanaku, dan merasa tepian sungai adalah keheningan yang dekat.

Sendiri adalah kesengsaraan, terlebih jika hidup menemani kemisteriannya dan merasa bahwa dirinya tertutup oleh kabut hitam.

Dan kudatangi kesengsaraanku bila kesunyianku benar-benar tiba, dan pinggiran sungai sungguh telah menunjukkan jalan keterhanyutan yang kukehendaki kepada tempat berkumpulnya seluruh mata air makna-makna.

Kuciptakan sengsara dengan menyongsong wajahku yang terlukis di butir-butir air, tiada seseorang yang lain di sana, tiada kehadiran kecuali bayang-bayang sepi yang memisahkanku dengan suara-suara kampungku, yang saling bercerita. Aku memilih sengsara dengan bertanya kepada semua kemisterian yang menggangguku. Dan ketergangguan itu adalah bahasaku dan siapapun manusia akan terganggu oleh ketidaktahuan. Benarkah kesengsaraan adalah satu alam rahasia, yang memaksa diri untuk bergerak, berfikir, dan memahami. Tapi yang pasti, melangkahi batu-batu dalam sepi adalah keterbuangan, bukannya mencari panorama yang mengasyikkan mata; setidaknya begitulah pengertian untuk waktuku.

Dan sejak kutuju kesengsaraan, aku mulai sering berlari-lari dalam mimpi, dalam nafas nurani dan jiwaku tertatih-tatih di pinggiran kampungku dan nyanyian alam itu menusuk ke jantungku. Siapakah yang menyebutku sengsara, barangkali itu ada dalam pandangan yang masih belum jelas. Dan kesengsaraan adalah makna lain dari kesulitan seseorang dalam mempertahankan keberadaannya.

Untuk mempertahankan keberadaanku terpaksa kulewati pinggiran sungai dan melihat wajahku pada airnya. Ingin kupastikan bentukku, dan melihat cahaya dari mata sunyiku. Hanya satu yang terngiang di sanubari, yakni keberadaan namaku yang sudah dipanggil di kampung kami. Dan memastikan ketokohanku yang ragu-ragu dalam menjalankan tugas-tugasnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun