Mohon tunggu...
Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa Mohon Tunggu... Konsultan - Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Hong Kong

25 Agustus 2019   18:53 Diperbarui: 25 Agustus 2019   19:13 1144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Orang AS menyadari tidak bisa memenangkan perang, jika hanya mengandalkan kemenangan di medan perang. Untuk memenangkan kemenangan perang sepenuhnya, politik harus dimenangkan.

Mengingat pelajaran menyakitkan dari masa lalu, orang AS mengusulkan konsep yang disebut Perang Politik. Perang ini sama sekali baru dan AS masih belum berpengalaman sebelumnya.

Orang AS yang sebelumnya selalu  percaya pada kekuatan militer saja telah mulai memperhatikan peperangan politik, yang juga merupakan hasil tak terhindarkan dari pengalaman berulang mereka dalam apa yang disebut perang melawan terorisme. Dan mereka telah menabrak dinding tidak hanya sekali dan dua kali.

Menghadapi situasi ini, think-tank Rand Corporation mengusulkan agar AS harus belajar melakukan perang politik, jika hanya mengandalkan senjata berteknologi tinggi, penyerangan bom berpemandu presisi, rudal jelajah, menghancurkan titik-titik penting, drone, dengan menggunakan semua peralatan bagus yang dipunyai di tangan. Tapi lawan AS melawan dengan alutsista apa? Secara militer tidak bisa menandingi AS, tetapi mengapa AS tidak bisa menang? Itu karena kekalahan dalam politik. Demikian menurut Rand Corporation.

Bagaimana perang politik ini dilakukan oleh AS?

Penurut pengamat dan analis dunia luar, ada tiga tindakan inti. Pertama, pada politik ada fitur yang tidak kionvensionil. Dapat dikatakan dalam politik kita kadang tidak bisa melihat siapa musuh, tidak jelas siapa musuh.  Dan garis depan tidak jelas.  Bagaimana melakukan perang, maka perlu meminta semua pihak untuk berpartisipasi, bagaimana mengidentifikasi teman dan musuh.

Kedua, mengusulkan ekspedisi diplomasi. Ini sebenarnya cukup beradab, namun sebenarnya adalah "Revolusi Pelangi (berwarna)". Misalnya Revolusi Pelangi Ukaraina, Revolusi Pelangi Georgia, dan Revolusi Pelangi Timur Tengah, semua ini dilakukan AS dengan Ekspedisi Diplomasi.

Dengan mempengaruhi keputusan dan kebijakan pemerintah lain. Membantu penduduk setempat agar mendukung AS, dan menentang mereka yang menentang AS. Yang terbuka atau kelihatan adalah Revolusi Pelangi yang melakukan kudeta, tapi  atas hasutan CIA secara tersembunyi atau di belakang layar.

Ketiga, Aksi politik tersembunyi dan rahasia. Apa itu politik rahasia? Sebanarnya ini adalah membiayai oposisi dan menumbuhkan oposisi.

Hal ini dapat dilihat mengapa Prsiden Turki menjadi sangat marah, karena AS menyemnyikan dan melindungi pepimpin oposisi Turki (Turki percaya bahwa kudeta lalu yang gagal diprakarsai oleh pemimpin gerakan Fethullah Gulen yang tinggal di AS, dan beberapa bahkan menduga bahwa pemerintah AS mendukungnya) di AS dan bertahan untuk tidak akan mengekstradisinya ke Turki.

( baca: Membahas Friksi AS-Turki Terkini)

HALAMAN :
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun