Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Papa dan Ayah] Bintang Jatuh

19 November 2019   06:00 Diperbarui: 19 November 2019   06:04 220
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Tepat sekali. Ayah ingin kita hidup sehat, Sayang. Jangan sampai ada yang kena kanker lagi di keluarga kita."

Wajah Calvin membiru sendu. Silvi sedikit tertunduk. Ah, kanker. Betapa jahatnya penyakit itu. Penyakit yang mengancam nyawa Calvin sewaktu-waktu.

"Ah, maaf. Kok malah sedih-sedihan sih? Kita, kan, mau rayain hari ini. Ayo dimakan, Sayang. Kamu mau makan apa dulu?"

Layaknya sepasang kekasih, mereka saling menyuapi. Silvi memuji kelezatan masakan Calvin. Ayahnya memang berbakat menjadi chef. Kalau Papanya, mana pernah main di dapur? Masak air saja membuat dapur nyaris kebakaran.

"Coba ada Papa ya..." gumam Silvi tanpa sadar.

Kecewa menggumpal di dada Calvin. Mengharapkan Adica membuang waktunya untuk piknik sesulit mengharapkan Miriam Belina menjadi Miss Indonesia. Calvin merasakan betapa besar keinginan Silvi untuk quality time dengan sosok Papa yang dikaguminya.

Sayang sekali, Calvin bukanlah Adica. Paras mereka boleh mirip. Meski demikian, sifat dan kebiasaan mereka berbanding terbalik.

Usai menghabiskan isi keranjang piknik, Calvin dan Silvi bersantai di bukit cantik itu. Bukit sepi sekali. Mungkin karena ini hari kerja dan tanggal tua. Orang enggan jalan-jalan bila berbenturan dengan dua alasan itu. Silvi memanfaatkan sepinya bukit untuk berfoto. Diajaknya Calvin berfoto dalam berbagai gaya.

"Jangan dishare di medsos ya," Calvin tegas melarang.

"Lho kenapa? Ayah kan ganteng. Biar semua teman-teman Silvi iri karena ayahnya Silvi kayak bintang film." bantah Silvi bandel.

Calvin mencubit gemas pinggang Silvi. "Ayah sudah terlanjur nyaman dengan privasi, Sayang. Kamu boleh share di medsos kalau foto sama Papa."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun