Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tuhan, Peluklah Ayah dengan Cahaya Cinta-Mu

27 Mei 2019   06:00 Diperbarui: 27 Mei 2019   06:05 0 38 12 Mohon Tunggu...
Tuhan, Peluklah Ayah dengan Cahaya Cinta-Mu
Pixabay.com

Tuhan, Peluklah Ayah dengan Cahaya CintaMu

Sejak ia pergi dari hidupku

Ku merasa sepi

Dia tinggalkan ku sendiri

Tanpa satu yang pasti


**   

Berat hati Ayah Calvin meninggalkan Jose sendiri. Mau tak mau ia harus pergi. Jika bukan hari ini, kapan lagi?

Ayah Calvin menatap pantulan bayangannya di cermin. Jas Dolce and Gabbananya, berikut dasi Hedva itu, terpasang rapi. Sempurna. Tidak ada yang kurang.

Oh tidak, masih ada satu lagi. Dia beranjak ke meja kecil di samping ranjang. Disingkirkannya cutter, pensil, pisau buah, dan benda-benda tajam lainnya. Jangan sampai Jose menemukan semua alat itu.

Tinggal bagian yang sulit: berpamitan. Jose pasti takkan suka kalau ia bangun nanti. Pelan dan hati-hati, Ayah Calvin naik ke kaki ranjang. Ditatapnya anak tunggalnya penuh kasih sayang. Separuh tubuh Jose tersembunyi di balik selimut.

Sejak semalam Jose tidur di kamar Ayah Calvin. Jadinya, Ayah Calvin tak tidur sendirian lagi. Anak itu mengambil bantal sutra kesayangan Ayahnya. Tak apa, asalkan Jose senang.

"Sayang, Ayah pergi dulu ya. Ayah janji akan kembali secepatnya..." bisik Ayah Calvin.

Diciumnya kening Jose. Hampir berhasil, hampir saja. Jika Ayah Calvin tidak membuat suara berisik saat turun lagi, Jose takkan terbangun kaget.

"Ayah!"

Oh ini sulit, sangat sulit. Lihatlah, Jose terbangun. Anak itu menampilkan puppy eyes dan pillow face-nya.

"Ayaaaah, Jose mimpi buruk lagi!"

Demi mendengar itu, Ayah Calvin tak tega. Ia kembali naik, lalu mengelus-elus kepala Jose.

"Mimpi buruk apa, Sayang?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8