Mohon tunggu...
Lanang Irawan
Lanang Irawan Mohon Tunggu... Lainnya - Senang membaca dan berbagi tulisan.

Kedipan nyalakan bara, lelapnya pulaskan renjana.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dibunuh Penjual Tanah

18 Juli 2020   07:53 Diperbarui: 18 Juli 2020   10:00 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Lakum. Sini kau! Kau yang paling alim di sini meski lahir belakangan." Ah! Si tua itu memanggilku dengan sebutan itu lagi, Lakum. Aku kadang bingung bersikap, jika dipanggil demikian.

"Karena kau yang paling kecil, hari ini kubawa kau keluar! Awas jangan nakal!" Aku lantas dipangku tangan yang seperti batang singkong itu. Namun, kulihat ibuku gusar, giginya keluar ketika memandang ke sini.

Aku tambah heran ketika kegusaran ibu menular kepada bapak, kepada kakek, dan kini teman-temanku ikut-ikutan. Akhirnya tak mau ketinggalan, aku pun bertingkah seperti mereka di pangkuan si tua.

"He, Lakum, kenapa kau juga ikut-ikutan? Mereka hanya iri karena tidak diajak. Makanya marah-marah." Si tua membuka pintu, membawaku keluar. Tak peduli keluarga dan kawan-kawanku berisik sambil menggoyang-goyang kawat penghalang.

Keluar. Inilah yang aku inginkan sejak lama. Namun, yang kumau bukan hanya seorang diri yang keluar, tapi seluruh bangsaku. Aku memberontak di gendongan si tua, hendak mengajak ibu, bapak, dan kawan pergi bersama.

Sialnya. Tangan si tua itu seperti akar gantung dari satu-satunya pohon di sana--ulet dan liat, aku tak berdaya ketika dipegang kencang-kencang. Kemudian si tua memasuki bangunan beratap hitam penuh lumut. Di depan bangunan ini ada tanah lapang ditanami bunga sana-sini.

"Ini rumahku. Kau, Lakum, makanlah apel ini! Jarang aku memberi monyet apel." Setelah merantai badanku dengan tali yang dibawa, dia memberikan buah hijau. Baunya harum, ketika kugigit banyak cairan keluar. Manis sekali. Si tua ini ternyata tak pelit-pelit juga.

Brak!

Buah yang kupegang hampir mencelat, penutup bangunan yang tadi si tua tutup kini terbuka keras. Dari sini kulihat si tua yang kembali muda masuk dengan beringas. Persis muka kakek dan bapak saat berebut ingin main dengan ibu.

"Tua bangka sialan! Sudah kubilang tanah itu akan kujual, kenapa kau malah menariknya kembali dari makelar?" Bahasa yang tidak pernah kupaham keluar dari mulut si tua versi muda. Membuat si tua yang membawaku bergetar badannya, kemudian berdiri menunjuk muka.

"Anak busuk! Kau tak tahu jika tanah itu kubeli susah payah mengumpulkan hasilku bertopeng monyet. Sekarang kau malah mau menjualnya begitu saja? Monyet kau!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun