Mohon tunggu...
Katedrarajawen
Katedrarajawen Mohon Tunggu... Anak Kehidupan

Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis. ________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menenun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu [Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Si Mutiara Putih yang Tersia-sia

13 Juli 2020   08:41 Diperbarui: 13 Juli 2020   09:31 82 30 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Si Mutiara Putih yang Tersia-sia
Gambar : Canva/katedrarajawen

Katedrarajawen _Sungguh nikmat terhidang mengundang rasa. Wangiaroma menggoda. Ketika rasa lapar tiba. Sebelum menyantap tak lupa berdoa. 

Petani berpeluh keringat dan asa. Di meja makan kita menikmati tertawa. Nasi terhidang istimewa. Hasil petani berpeluh keringat dan asa. Jerih payah petani di sawah terlupa. 

Si mutiara putih seakan tak berharga. Banyak tersisa dibuang percuma. Di mana rasa syukur yang ada? Berpikir sudah membelinya. Bisa memerlakukan semena-mena. 

Ketika pesta syukuran tiba. Penuh sukacita mengalunkan doa. Nasi hidangan pokok selalu ada. Selalu menjadi tujuan pertama. 

Lagi dan lagi kembali lupa. Nasi-nasi banyak tersisa. Dibuang suka-suka. Acara syukuran jadi tak ada bersyukurnya. Derita petani sekian lama dalam asa seakan tak berharga. 

Sadarkah wahai anak manusia? Walau sebutir nasi saja. Itu sudah terlalu berharga. Sebutir benih padi  asal mula. Tumbuh pohon-pohon padi tak terkira.

Sebutir nasi terbuang percuma. Tak sadar telah menghina. Rasa syukur dalam doa. Jerih payah petani berlinang air mata. Karunia semesta. 

@refleksihati

Inspirasi tulisan Pak Kris Banarto "Menari di Atas Peluh"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x