Suandri Ansah
Suandri Ansah Jurnalis

Penulis partikelir | temenngopi.co

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kenapa Teroris Suka "Selfie" di Tengah Aksi Teror?

11 Mei 2018   14:14 Diperbarui: 12 Mei 2018   16:43 5004 10 2
Kenapa Teroris Suka "Selfie" di Tengah Aksi Teror?
Foto: Istimewa --memri.org

Kabut teror di Rumah Tahan Salemba Cabang Mako Brimob berakhir hari Kamis, 10 Mei 2018 pagi. Lima polisi gugur dan satu narapidana teroris tewas akibat bentrokan narapidana dengan petugas yang bermula pada Selasa, 8 Mei 2018 malam. Sebanyak 145 narapidana teroris yang mendekam di sana dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakat Nusa Kambangan

Tanpa mengurangi air mata duka atas gugurnya kesatria polisi yang syahid (insyaallah) di medan tempur, ada selipan peristiwa lucu saat huru-hara di Blok C itu berlangsung. 

Di tengah panasnya situasi, sempat-sempatya napiteroris menayangkan Live TKP lewat fitur siaran Live Instagram dan Facebook. Salah satunya lewat akun instagram @ sem_maliik87. Akun itu sudah tak bisa diakses. Tampaknya, mereka ingin menunjukkan keberhasilan memporak-porandakkan rumah tahanan. Rekaman Live itu lantas menyebar cepat di grup-grup Whatsapp dan media sosial.

Kenapa mereka memilki akses komunikasi berupa telepon seluler? Jangan heran, fasilitas semacam ini mudah didapat di rutan-rutan yang minim pengawasan, penindakan, dan pendisiplinan aturan. Apalagi kalau kenal dekat dengan penjaga, tahanan bisa meminjam darinya. Sekadar untuk bertukar kabar dengan sanak famili dan kerabat. Jika ingin punya handphone sendiri juga bisa. Dengan bayaran tertentu.

tangkapan layar live instagram
tangkapan layar live instagram
Selain live narapidana teroris juga melakukan swafoto sambil memegang senjata. Layaknya abege yang kebelet eksis di dunia maya. Wajahnya ditutupi syal. Tangan yang kosong diacungkan menunjukkan angka satu. 

Di belakangnya bendera ISIS. Pada foto yang lain nampak gaya yang sama dilakukan beramai-ramai. Sepertinya kelompok mereka punya template sendiri ketika berpose di depan kamera. Foto-fotonya bergerak cepat di media sosial. Penulis tidak yakin benar bahwa surga impian mereka. Jangan-jangan pencapaian tertingginya memang hanya ingin difoto seperti itu sambil memegang senjata asli, di tempat-tempat konflik. Biar dibilang "Jihadis" sejati.

Kenapa mereka selalu mempublikasikan aksi terornya?

Foto aksi mereka telanjur tersebar. Tujuannya apalagi kalau bukan mengabarkan teror. Media sosial menjadi lahan subur teroris menanam bibit ketakutan. Kelompok teroris biasa memanfaatkan internet untuk melakukan pengkaderan, penanaman ideologi, hingga tips dan trik melakukan sebuah "amalan". Anonimitas media sosial membuat mereka leluasa bergerak seperti tikus yang mengendap-endap di tengah malam untuk mencuri tempe goreng di dapur. Menarget mangsa di kondisi gulita.

Alasan paling dasar yakni bahwa mereka ingin dilihat kesetiaannya dan keberhasilannya, baik kepada komandannya atau lawan-lawannya. Seperti pada tragedi ini, saat bentrokan pecah mencuat di media penulis menerima sebuah video narapidana teroris sedang menginjak kepala korbannya yang telah tewas. Dalam pembuka videonya terlihat logo Ahmaq News Agency, jaringan media ISIS. Ya, ISIS pusat seperti membenarkan bahwa ini ulah mereka. Kenapa ISIS gemar mengklaim?

Foto: Istimewa --wort.lu
Foto: Istimewa --wort.lu
Analis Terorisme TAPSTRI (The Terror Asymmetrics Project on Strategy, Tactics & Radical Ideology), Chris Sampson mengatakan, pelaku teror secara saksama menyusun gambaran keberhasilan di setiap aksi guna memoles citra tempur mereka. 

Mereka memamerkan segala bentuk serangannya sebagai pesan kemenangan. ISIS disebut sering akurat dalam mengidentifikasi apakah pelaku teror merupakan anggotanya atau bukan. Analis Gerakan Terorisme, Michale S Smith II kepada The Independent mengatakan, untuk menunjukkan bukti baiatnya, seorang peropaganda akan meminta anggotanya meninggalkan "jejak" sebelum benar-benar melakukan serangan.

Media sosial bak hutan belantara, ia memang terbuka, tetapi memiliki sisi gelap di dalamnya. Mengutip Reuters, ISIS tengah mengembangkan platform media sosial sendiri untuk menghindari tekanan dari perusahaan penyedia media sosial yang ada saat ini.

Sebuah operasi keamanan yang dilakukan penegak hukum Uni Eropa menemukan lebih dari 2.000 bahan ekstremis di 52 platform media sosial. Kejaksaan Agung RI menyebut ada sekitar 49.000 akun twitter yang terafiliasi jaringan terorisme. Twitter menjadi platform favorit peneror guna melancarkan aksinya.

Tirto menulis, mantan anggota keamanan nasional Amerika Serikat, Hillary Mann Leverett, pada Februari 2015 menyebut ISIS setiap harinya mengirimkan 90.000 pesan digital di akun media sosial mereka. Termasuk Twitter, video di Youtube, postingan di Facebook, blog dan sejenisnya. J.M. Berger, seorang peneliti di Brookings Institution bahkan mengungkap lebih banyak lagi, 200.000 per hari. John Little, pengamat keamanan dan teknologi di Blogs of War, menyebut ISIS menggunakan video, foto, dan kata-kata propagandis untuk menarik perhatian.

Mereka menyasar abege yang mencari jati diri untuk bergabung. Foto dan video tersebut juga digunakan untuk memulai konflik sektarian antara Sunni-Syiah, atau Muslim-nonmuslim. Kebanyakan dari relawan ini berakhir menjadi "pengantin". Perekrut tinggal merekamnya dari jauh. Unggah lalu mencari "pengantin" baru.

Suandri Ansah