Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah - Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Memaknai Kanji dengan Logika Bahasa Indonesia: Sebuah Sim-ak

19 April 2021   06:50 Diperbarui: 19 April 2021   19:52 2163
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Coba renungkan, tulisan 薔薇 bara saja sudah dianggap rumit oleh kebanyakan orang, konon lagi "biang" yang tidak bisa saya ketikkan di sini (ya karena belum ada aksara Unicode-nya). Ini memunculkan sebuah pertanyaan: apakah ada cara untuk mengingat cara menuliskan Kanji? Ada, namanya radikal atau akar kata, yang diciptakan pada era Kaisar Kangxi (1654-1722) dari Dinasti Qing, sehingga dinamakan Radikal Kangxi. Radikal ini berjumlah 214 dan pada 1716 dikaitkan dengan Kamus Kangxi.

Nah, terhitung sejak 1716 s/d 2020 ketika saya mulai menyusun buku Japanese Kanji for Preparation of JLPT N5 to N4 di atas, rentang waktunya sudah 304 tahun lebih dan senarai 214 radikal ini belum direvisi oleh siapa pun. Tapi perlulah?

Menurut saya perlu, karena saya menemukan "radikal-radikal" pembentuk Hanzi yang tidak dimasukkan ke dalam senarai ini, jadi SAYA BUAT SENDIRI RADIKALNYA, dengan menggunakan perangkat lunak High-Logic FontCreator dan mengekspor hasilnya ke sebuah file True Type Font (TTF).

Catatan:
Dulu saya masih menggunakan perangkat lunak Macromedia Fontographer untuk membuat Font Surat Batak, tapi saya tidak menyelesaikannya karena keduluan oleh seorang sarjana Jerman peneliti bahasa, budaya dan sastra Batak, Dr. Ulrich Kozok, yang sekarang juga memakai nama Uli Kozok (Uli diambil dari bahasa Batak yang bermakna: cantik, mirip pula dengan kata: Ulrich) sampai akhirnya lae Uli ini menerbitkan buku Surat Batak.
Sekarang Font Batak Toba ini sudah bervariasi dan bisa diunduh gratis. Saya sempat beberapa kali berkomunikasi via surel dengan Uli, saya menggunakan bahasa Batak tetapi selalu dia balas dengan bahasa Indonesia. Uli, Uli.

Sungguh, kita patut salut dengan kegigihan para peneliti asing sejak dulu, dan yang patut saya sebut di sini selain si Uli adalah Peter Carey, sejarawan Inggris yang sudah menerbitkan buku biografi Pangeran Diponegoro (Sultan Abdul Hamid Heru Cokro Amirul Mukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Sanin).

Lanjut, di sini saya sajikan tangkapan layar Radikal Buatan Johan Japardi, sedikit bocoran buat pembaca:

Dokpri
Dokpri
Jadi, menurut catatan saya, radikal itu terdiri dari:
1. 214 radikal Kangxi.
2. Tambahan berupa varian dari sebagian radikal Kangxi.
3. Tambahan yang saya ambil dari aksara Katakana, misalnya ヰ wi yang membentuk aksara 年 nen (tahun) .
4. Tambahan berupa radikal yang saya buat sendiri.

Masih terkait contoh Kanji di atas, saya pernah merasa eneg ketika menonton sebuah video tentang Kanji di sebuah kanal Youtube milik seorang Youtuber muda, seorang anak (mami) milenial yang dengan sombongnya memamerkan kebolehannya menuliskan Kanji 薔薇 bara (bunga mawar) tadi. Kenapa mesti pamer? Apa karena dia merasa hebat karena bisa menulis aksara dengan guratan "serumit" itu? Pembaca sekalian, itu mah tidak ada apa-apanya dibandingkan "biang." Tapi saya harus berterima kasih kepada adik ini karena melihat kelakuannya saya tertantang untuk lebih cepat lagi menyelesaikan radikal saya.

Filosofi Sim-ak: Sesuatu yang menurut orang sedunia sudah simpel, bila perlu disimplifikasi lebih lanjut untuk mengakselerasi pembelajaran, bisa juga dimaknai sebagai: Rumit atau simpel itu relatif, jadi jika sudah memahami makna simplikasi, kita bisa melanjutkan dengan menjadikan sesuatu lebih simpel dengan mencari contoh dan memahami sesuatu yang paling rumit (dalam hal ini kanji "biang" itu).

Sambil menyelesaikan buku saya, putri saya, Putri Natalia Japardi, mendampingi saya mempelajari isinya, dan kami berencana, entah kapan pun waktunya yang tepat, untuk mengikuti Ujian Kemahiran Bahasa Jepang (Japanese Language Proficiency Test/JLPT), level N5 dan N4 sekaligus, atau langsung N4. Hasil pembelajaran bersama ini sungguh mengagetkan, Putri bisa menulis "biang" dalam 10 detik, tanpa melihat bentuknya. Kok bisa?
Ya dengan berkomunikasi menggunakan radikal yang dimaknai dengan logika Indonesia!

Saya tinggal mengucapkan radikal pembentuk "biang" secara berurutan: atap, delapan, di bawahnya kiri ada bulan kanan pedang, di tengah-tengah kedua radikal ini ada 2 baris, sebarisnya 3 radikal: benang pendek, kata, benang pendek, lalu panjang, kuda, panjang, di bawahnya lagi ada hati, dan semuanya ditutup dengan "berjalan," selesai. Kembali ke 薔薇 bara, "ba" itu cuma: rumput, tanah yang ditengah-tengahnya ada 2 orang, mulut dalam perbatasan, dan "ra" itu cuma: rumput, melangkah, gunung, 1, meja, bangku rusak!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun