Mohon tunggu...
Indra Rahadian
Indra Rahadian Mohon Tunggu... Administrasi - Pegawai Swasta

Best In Fiction Kompasiana Award 2021/Penikmat sastra dan kopi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Mimpi Gemala

19 Oktober 2021   15:43 Diperbarui: 19 Oktober 2021   15:45 921
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi seorang gadis kecil menatap kosong. (Foto: aamiraimer Via Pixabay)

Dua puluh tahun lalu, Mbok Jum memulai usaha kedai nasi di lokasi pembangunan kawasan industri. Diboyong ke kota oleh mendiang suaminya yang bekerja sebagai kuli bongkar muat di proyek pemerintah. 

Kala itu ia datang dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik daripada di desa. Menjual segala yang dipunya untuk modal usaha. Pertaruhan yang mahal. Manisnya tak lagi terasa. Kini pahitnya tersisa. 

Lima tahun berjalan, dan setelahnya dihentikan. Dua gedung roboh, dan banyak pekerja yang celaka. Termasuk mendiang suami Mbok Jum. Meski uang duka, tak pernah ia terima. Hanya satu jawaban yang didapatkan. Uang duka urung cair, karena pemilik usaha keburu masuk penjara. 

Dana tersendat dan proyek terbengkalai. Desas-desus berhembus, pembangunan dihentikan karena uang proyek banyak yang dikorupsi. Entah oleh siapa. 

Tak ada yang tertinggal dari proyek mangkrak tersebut, selain cerita dan fisik bangunan setengah jadi. Bobin kayu bekas gulungan kabel, digunakan sebagai meja. Potongan kayu dan seng, dibuat menjadi bedeng. 

Bangunan semi permanen yang Mbok Jum sebut sebagai rumah, sekaligus tempat usaha yang penuh tumpukan sampah. Kedai nasi tinggal cerita. Kini, berkarung-karung botol plastik, menanti diantar ke pengepul. Dan satu dus mie instan, adalah harta yang tersisa. 

"Kelak bila kamu sudah besar dan punya uang banyak, kamu harus bayar baju bekas itu pada Mas Sigit." 

"Aku tak mau jadi besar, Mbok." 

"Ngawur!" Mbok Jum terheran-heran pada jawaban Gemala. Ia menuangkan teh dari cangkir seng ke dalam gelas plastik. 

"Malam ini, tidur di sini saja. Nanti kamu dipukul bapakmu, bila dia tahu payungmu hilang." 

Gemala merebahkan tubuhnya di atas balai bambu beralas kardus. Menutup mata dan membuka angan. Tersenyum. Mengingat kesenangan terakhir di bawah hujan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun