Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya - Lainnya

Penyuka musik, buku, kuliner, dan film.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Cerpen] Garis Tuhan

29 Juli 2016   15:18 Diperbarui: 30 Juli 2016   03:47 246
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi : www.icr.org

"Iya mam." Anna menjawab dengan pasti.

Anna menggandeng tangan adiknya erat, seakan enggan ia lepaskan. Sekonyong konyong Sheila  menatap Anna,  ia heran dengan apa yang dilakukan kakaknya itu. Anna belum pernah sekalipun menggandeng Sheila seperti sekarang ini. Demi melihat tatapan aneh adiknya, Anna  hanya bisa tersenyum.

"Maafkan aku ya, bila selama ini aku selalu membuat kamu kesal. Aku berjanji mulai saat ini aku tidak akan menjadi kakak yang menyebalkan buat kamu, dik."

"Kakak tidak pernah menjadi orang yang menyebalkan kok. Aku senang mempunyai seorang kakak seperti kak Anna."

Anna tersenyum lega, namun sesaat kemudian ia merasakan ketegangan yang sangat. Di tempat inilah, Sheila mengalami kecelakaan ketika Anna membiarkan adiknya itu pergi ke tempat les nya seorang diri. Kini Anna waspada di setiap langkah yang ia buat. Tiba tiba sebuah kendaraan berwarna putih yang melaju tak terkendali muncul dari tikungan lalu naik ke trotoar. Dengan sigap Anna mendorong Sheila masuk ke sebuah toko yang pintunya terbuka lebar.

Sementara, di luar sana, kendaraan yang ternyata dikemudikan seorang gadis belia itu berhenti seketika karena menabrak pohon yang berdiri di depan toko tempat Anna dan Sheila berlindung. Anna bernafas lega, ia memeluk adiknya erat. Namun kelegaan hatinya tidak lah lama. Karena beberapa jam kemudian, Anna mendengar berita yang sangat mengejutkan. Sheila yang tengah bermain sepeda di jalanan komplek sepulang dari les nya menjadi korban tabrak lari. Air mata kembali membasahi pipi Anna.

Setiap kali Anna melepas kacamata itu, semakin banyak kesedihan yang berkumpul dalam dirinya. Entah berapa kali ia melompati waktu dengan hasrat menyelamatkan adiknya, namun semuanya berakhir dengan simbahan air mata.

***

Anna bersimpuh di sisi nisan adiknya. Anna sadar ia tidak bisa merubah apa yang telah di gariskan Tuhan. Ia harus bisa menerima semua ini dengan lapang dada.

"Aku menyayangi mu, dik. Namun ternyata Tuhan jauh lebih menyayangi mu.”

Anna merasa semua nya telah cukup. Ia meletakkan kacamata berukir itu di samping vas bunga tanah liat yang kini berisi  bunga krisan aneka warna. Dan ketika keesokan harinya ia datang kembali ke makam adik nya, kacamata yang telah memberi nya banyak pelajaran itu telah menghilang tanpa bekas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun