Humaniora

Alih Kode Campur Kode pada Individu yang Berbahasa Jawa di Lingkungan Sunda

12 Januari 2018   20:08 Diperbarui: 12 Januari 2018   20:20 233 0 0
Alih Kode Campur Kode pada Individu yang Berbahasa Jawa di Lingkungan Sunda
sumber ilustrasi: okezone news


JUDUL: ALIH KODE CAMPUR KODE PADA INDIVIDU YANG BERBAHASA JAWA DI LINGKUNGAN SUNDA

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara multilingual, terdapat lebih dari dua bahasa yang digunakan peduduknya. Menurut badan pengembangan dan pembinaan bahasa di

Indonesia tercatat ada 707 bahasa yang dituturkan sekitar 221 juta penduduk yang

dibagi menjadi tiga macam bahasa yakni bahasa Indonesia (nasional), bahasa daerah, dan bahasa asing. Ketiga macam bahasa memiliki peran dan kedudukannya masing-masing dalam kegiatan komunikasi. Bahasa Indonesia merupakan bahasa negara atau nasional hal ini tertuang dalam UUD 1945, bab XV, pasal 36. Bahasa daerah digunakan pada situasi adat atau interaksi di dalam forum nonformal. Bahasa asing digunakan pada acara formal internasional, nonformal internasional, dan  dalam kegiatan berinteraksi.

Keragaman bahasa yang terjadi pada masyarakat Indonesia ini dapat menyebabkan timbulnya masyarakat bilingualisme atau kedwibahasaan. Bilingualisme atau kedwibahasaan ialah kemampuan seseorang menggunakan dua bahasa atau lebih. Kedwibahasaan ini dapat mengakibatkan terjadinya alih kode dan campur kode. 

Alih kode adalah gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi (Appel dalam Chaer dan Agustina, 1995:141). Sedangkan campur kode ialah pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten. Peristiwa bahasa ini sering terjadi dilingkungan sekolah, kantin, pasar terutama di lingkungan kampus. Karena mahasiwa yang menimba ilmu bukan hanya dari satu daerah, tetapi dari berbagai daerah. Sehingga bahasa daerah yang dimiliki oleh mahasiwa berbeda pula. Seperti bahasa jawa yang digunakan mahasiswa asal Brebes. Karena letak geografis berbatasan dengan daerah jawa, ada mahsiswa yang tinggal di perbayasan bisa menguasai bahasa jawa, meskipun bahasa Ibu memakai bahasa sunda. Sering terjadi alih kode maupun campur kode, antara mahsiswa asal brebes dengan mahasiswa asal Majalengka dengan menggunakan bahasa jawa. Karena mereka menganggap dengan menggunakan bahasa jawa dapat mempermudah komunikasi dan menjadikan mereka lebih akrab.

Penulis merasa penting meneliti alih kode dan campur kode karena hal ini lazim   dilakukan oleh masyarakat dalam berkomunikasi dan merupakan fenomena bahasa  yang menarik. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis menemukan peristiwa alih kode dan campur kode yang terjadi pada individu yang berbahasa Jawa di lingkungan yang berbahasa Sunda.

B. Rumusan Masalah

Secara lebih khusus masalah yang akan dikaji dirumuskan sebagai berikut:

a. Bagaimana wujud alih kode dan campur kode pada individu yang berbahasa Jawa di lingkungan Sunda?

b. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya alih kode dan campur kode pada individu yang berbahasa Jawa di lingkungan Sunda?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hal-hal berikut:

a. Wujud alih kode dan campur kode pada indiividuu berbahasa Jawa.

b. Untuk mengetahui factor-faktor yang menyebabkan  terjadinya alih kode dan campur kode pada individu yanga berbahasa Jawa

D. Kajian  Teoritik

a. Sosiolinguistik

Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidakterlepas dari kegiatan sosial, bermasyarakat. Kegiatan sosial tersebut dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya ialah berkomunikasi. Komunikasi merupakan kegiatan penyampaian informasi yang dilakukan dengan sengaja yang medianya  adalah bahasa (Yule, 2015: 17). Peristiwa komunikasi merupakan salah satu hal  yang harus terpenuhi sebagai makhluk sosial karena, dalam memenuhi  kebutuhannya mereka perlu berkomunikasi. Pada proses komunikasi, manusia menggunakan bahasa.

Sosiolinguistik mengkaji penggunaan bahasa di dalam masyarakat. Ditinjau dari nama, sosiolinguistik menyangkut sosiologi dan linguistik, karena itu sosiolinguistik mempunyai kaitan erat dengan kedua kajian tersebut. Sosio adalah masyarakat dan linguistikadalah kajian bahasa. Jadi, sosiolonguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan (Sumarsono, 2014: 1). 

Nababan (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 3) mengemukakan sosiolinguistik sebagai pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan sedangkan Kridalaksana (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 3) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para bahasawan dengan ciri, fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa. Jadi, dapat disimpulkan  bahwa sosiolinguistik merupakan kajian antardisipliner yang mengkaji berbagai ciri, variasi, dan gejala yang ada di dalam masyarakat.

b. Bilingualisme atau Kedwibahasaan

Masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki kemampuan menggunakan dua bahasa atau lebih. Mereka menguasai bahasa pertama dan bahasa Indonesia ataupun sebaliknya dalam penggunaannya di masyarakat tutur. Penggunaan kedua bahasa ini dilakukan secara bergantian.Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa masyarakat tersebut mengalami kedwibahasaan.Kedwibahasaan atau bilingualisme adalah penggunaan dua bahasa atau lebih oleh seseorang atau suatu masyarakat (Kridalaksana, 2008:36).

Chaer dan Agustina (2010: 84) mengatakan bahwa kedwibahasaan atau bilingualisme merupakan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa.Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih  secara bergantian (Weinreich dalam Aslinda dan Syafyahya, 2014: 23). Di samping itu Macmanara (dalam Rokhman 2011: 20) mengatakan bahwa kedwibahasaan mengacu kepada pemilikkan kemampuan sekurang-kurangnya B1 dan B2, meskipun kemampuan dalam B2 hanya sampai batas minimal, sementara itu Mackey (dalam Aslinda dan Syafyahya, 2014: 24) mengatakan bahwa kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang.

Kedwibahasaan merupakan pemilikan kemampuan menggunakan dua bahasa, sedangkan pengguna dua bahasa ialah dwibahasawan atau bilingual.Seseorang yang terlibat dalam praktik penggunaan dua bahasa secara bergantian merupakan dwibahasawan (Weinreich dalam Aslinda dan Syafyahya, 2014:26). Tahu akan dua bahasa atau lebih merupakan bilingual atau dwibahasawan (Haugen dalam Chaer dan Agustina, 2010: 86).

Berdasarkan paparan para ahli di atas mengenai batasan kedwibahasaan, maka peneliti mengacu pada batasan yang dipaparkan oleh Macmanara yakni kepemilikan kemampuan sekurang-kurangnya dua bahasa pada seseorang serta kemampuan B2 tidak harus sebaik kemampuan B1. Batasan tersebut dinilai menghimpun dan memperjelas batasan dari para ahli yang lain, yakni penggunaan dua bahasa dan penggunaannya digunakan secara bergantian. Sedangkan dwibahasawan merupakan pemilikkan kemampuan menggunakan dua bahasa atau lebih.

Lingkungan sosial merupakan wadah masyarakat tutur.Dalam lingkungan sosial terjadi interaksi antar penutur.Interaksi ini dapat menimbulkan gejala bahasa,terutama dimilikinya dwibahasawan.Beberapa akibat dari kedwibahasaan dapat menimbulkan kevariasian bahasa, interferensi, integrasi, alih kode, campur kode, dan yang lainnya. Timbulnya gejala alih kode dan campur kode akibat kedwibahasaan  yang sangat erat dan sering dijumpai dalam kehidupan terutama dalam gelar wicara yakni alih kode dan campur kode.

c. Alih Kode

Kode merupakan perpindahan bahasa. Perpindahan bahasa terjadi pada pembicara, hampa suara, dan pada lawan bicara.Kode-kode itu harus dimengerti oleh kedua belah pihak (Pateda, 1987: 83). Sedangkan, Kridalaksana (2008: 127) mendeskripsikan bahwa kode (code) ialah 1) lambang atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu. Bahasa manusia adalah sejenis kode; 2) sistem bahasa dalam suatu masyarakat; dan 3) variasi tertentu dalam suatu bahasa.

Alih kode (code switching) adalah penggunaan variasi bahasa lain atau bahasa lain dalam satu peristiwa bahasa sebagai strategi untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena adanya pertisipan lain (Kridalaksana, 2008: 9).Suwito (dalam Rokhman, 2011: 37) menyatakan bahwa alih kode merupakan peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain. Sedangkan menurut Appel (dalam Aslinda dan Syafyahya, 2014: 85) menyatakan bahwa alih kode adalah gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubah situasi. Dengan demikian, alih kode merupakan gejala peralihan pemakaian bahasa yang terjadi karena berubahnya situasi.

Contoh peristiwa alih kode yang dikutip dari Aslinda dan Syafyahya (2014: 86) sebagai berikut.

Latar belakang : Kompleks perumahan Balimbiang Padang.

Para Pembicara : Ibu-ibu rumah tangga. Ibu Las dan Ibu Leni orang  Minangkabau, Ibu Lin orang Sulawesi yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Topik  : Listrik mati.

Sebab alih kode  :Kehadiran Ibu Lin dalam peristiwa tutur

Peristiwa tutur :

Ibu Las  : Ibu Len jam bara cako malam lampu iduik, awaklah lalok  sajak jam sambilan ("Ibu Leni pukul berapa lampu tadi malam hidup, saya sudah tidur sejak pukul sembilan").

Ibu Leni  : Samo awak tu, awaklah lalo pulo sajak sanjo, malah sajakpukua salapan, awak sakik kapalo ("sama kita itu, saya sudah tidur pula sejak sore, malah semenjak pukul delapan karena saya sakit kepala. Bagaimana dengan ibu Lin tahu pukul berapa lampu hidup tadi malam?").  (pertanyaan diajukan kepada ibu Lin).

Ibu Lin  : Tahu Buk, kira-kira pukul sepuluh lebih.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa alih kode terjadi karena hadirnya orang ketiga. Alih kode tersebut terjadi dari bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia. Ibu Leni beralih kode ke dalam bahasa Indonesia karena mitra tuturnya Ibu Lin (orang Sulawesi) tidak mengerti bahasa Minangkabau.

- Bentuk-Bentuk Alih Kode

Alih kode merupakan gejala peralihan bahasa dan gaya yang terdapat dalam satu bahasa (Hymes dalam Aslinda dan Syafyahya, 2014: 85). Soewito (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 114) membedakan alih kode menjadi dua macam, yaitu alih kode intern dan alaih kode ekstern. Alih kode intern adalah alih kode yang berlangsung antarbahasa sendiri, seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, atau sebaliknya. Sedangkan, alih kode ekstern adalah alih kode yang terjadi antara bahasa sendiri dengan bahasa asing, seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, atau sebaliknya.

Contoh alih kode intern yang dikutip dari Soewito (dalam Chaer dan Agustina, (2010: 110) berikut ini.

Sekretaris : Apakah Bapak sudah jadi membuat lampiran surat ini?

Majikan : O, ya, sudah. Inilah!

Sekretaris : Terima kasih.

Majikan : Surat ini berisi permintaan borongan untuk memperbaiki kantor sebelah. Saya sudah kenal dia. Orangnya baik, banyak relasi, dan tidak banyak mencari untung.Lha saiki yen usahane pengin maju kudu wani ngono.(Sekarang jika usahanya ingin maju harus berani bertindak demikian.).

Sekretaris : Panci nganten, Pak. (Memang begitu, Pak.)

Majikan : Panci ngaten priye? (Memang begitu bagaimana?)

Sekretaris : Tengesipun mbok modalipun kados menapa, menawi  (Maksudnya betapapun besarnya modal kalau ...)

Majikan : Menawa ora akeh hubungane lan olehe mbathi kakehan, usahane ora bakal dadi. Ngono karepmu? (Kalau tidak banyak hubungan, dan terlalu banyak mengambil untung usahanya tidak akan jadi. Begitu maksudmu?) Sekretaris : Lha inggih ngaten! (Memang begitu, bukan?)

Majikan : O, ya, apa surat untuk Jakarta kemarin sudah jadi dikirim?

Sekretaris : Sudah, Pak. Bersamaan dengan surat Pak Ridwan dengan kilat khusus.

 Dialog percakapan antara majikan dengan sekretarisnya di atas merupakan contoh alih kode intern. Peristiwa alih kode di atas adalah peralihan bahasa Jawa ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Alih kode itu terjadi karena adanya perubahan situasi dan pokok pembicaraan. Ketika mereka berbicara tentang masalah surat-menyurat, mereka menggunakan bahasa yang formal, bahasa Indonesia. Namun, ketika mereka berubah pokok pembicaraannya menjadi hal yang bersifat pribadi, mereka beralih dari sebelumnya menggunakan bahasa Indonesia menjadi bahasa Jawa. Kemudian mereka beralih lagi dari menggunakan bahasa jawa menjadi bahasa Indonesia karena topik pembicaraan bersifat formal.

Contoh alih kode ekstern.

A dan B sedang bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia, tiba-tiba datang seseorang turis menanyakan sesuatu menggunakan bahasa Inggris.Kebetulan A dan B dapat berbicara dengan bahasa Inggris.Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang menggunakan bahasa Inggris.Setelah turis merasa cukup, turispun melanjutkan perjalanannya. Setelah turis tersebut pergi, A dan Bkembali bercakap-cakap menggunakan bahasa Indonesia. Peristiwa di atas merupakan contoh peristiwa alih kode ekstern, yakni peralihan kode atau bahasa dari bahasa sendiri ke bahasa asing. Peristiwa di atas ialah peralihan antara bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dan sebaliknya. Ketika pembicaraan dengan teman menggunakan bahasa Indonesia sedang dilakukan, kemudian situasi berubah karena hadirnya orang ketiga yang hanya memahami bahasa Inggris, maka merekapun baralih menggunakan bahasa Inggris atau asing.

- Faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode

Chaer dan Agustina (2010: 108) mengemukakan penyebab terjadinya alih kode sebagai berikut.

a). Pembicara atau Penutur

Seorang pembicara atau penutur seringkali melakukan alih kode untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat dari tindakannya itu.Alih kode biasanya dilakukan oleh penutung dengan sadar.

b). Pendengar atau Lawan Tutur

Lawan bicara atau lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode, misalnya karena si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur itu.Dalam hal ini biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur kurang atau agak kurang karena memang mungkin bukan bahasa pertamanya. Jika si lawan tutur itu berlatar belakang bahasa yang sama dengan penutur maka alih kode yang terjadi hanya berupa peralihan varian (baik regional maupun sosial), ragam, gaya, atau register.

c). Perubahan Situasi dengan Hadirnya Orang Ketiga

Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur menyebabkan terjadinya alih kode. Hadirnya orang ketiga menentukan perubahan bahasa dan varian yang akan digunakan. 4. Perubahan dari Formal ke Informal

Peubahan situasi dalam pembicaraan dapat menyebabkan alih kode.Peralihan dari situasi formal menjadi informal mengakibatkan beralih pula bahasa atau ragam yang digunakan.Misalnya dalam situasi lingkungan kampus, terdapat dua mahasiswa berbincang menggunakan ragam santai, kemudian hadir dosen sehingga perbincangan di dalam kelas menjadi formal.

d). Perubahan Topik Pembicaraan

Berubahnya topik pembicaraan dapat juga mengakibatkan terjadinya alih kode.Contohnya pada percakapan antara majikan dan asistennya di atas. Saat mereka bercakap-cakap mengenai hal formal (surat), mereka menggunakan bahasa Indonesia. Namun, ketika topik pembicaraan beralih pada hal yang bersifat pribadi (pribadi orang yang disurati), mereka beralih menggunakan bahasa Jawa.

Aslinda dan Syafyahya (2014: 85) menyebutkan beberapafaktor penyebab terjadinya alih kode diantaranya: 1) siapa yang berbicara, 2) dengan bahasa apa, 3) kepada siapa, 4) kapan, dan 5) dengan tujuan apa. Dalam berbagai kepustakaan linguistik, secara umum penyebab terjadinya alih kode antara lain: 1) pembicara/ penutur, 2) pendengar/ lawan tutur, 3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, 4) perubahan dari formal ke informal/ sebaliknya, dan 5) perubahan topik pembicaraan.

d. Campur Kode

Campur kode merupakan pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten (Kachru dalam Rokhman, 2011: 38). Kemudian Rokhman(2011:39) berpendapat bahwa campur kode merupakan pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain, dimana unsur-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi tersendiri. Kalau seseorang menggunakan satu kata atau frase dari suatu bahasa maka itu disebut campur kode (Fasold dalam Chaer dan Agustina, 2010: 115).

Berikut ini adalah contoh peristiwa campur kode yang dikutip dari Chaer dan Agustina (2010: 124).

1) Mereka akan married bulan depan.

2) Nah karena saya sudah kadhung apiksama dia, ya saya tanda tangan saja. (Nah karena saya sudah benar-benar baik dengan dia,maka saya tanda tangani saja).

3) Ya apa boleh buat, better laat dan noit. (Ya apa boleh buat, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali).Pimpinan kelompok itu selalu mengatakan education is necessaryfor life. (Pimpinan kelompok itu selalu mengatakan, bahwa pendidikan perlu dalam kehidupan).

Contoh-contoh di atas merupakan peristiwa campur kode, yakni penyisipan bahasa satu ke dalam bahasa yang lain. Pada contoh pertama, terjadi penyisipan kata bahasa Inggris ke dalam struktur bahasa Indonesia.Hal inilah yang disebut campur kode.Begitu pula pada kalimat kedua yakni yerjadi penyisipan frasa bahasa Jawa ke dalam struktur bahasa Indonesia.

- Faktor Penyebab Terjadinya Campur Kode 

Campur kode merupakan penyisipan suatu bahasa ke dalam bahasa lain yang lebih dominan dalam suatu wacana. Faktor terjadinya campur kode bermacam-macam. Mulai dari keterbatasan kata dalam bahasa Indonesia sehingga penutur menggunakan sisipan bahasa lain sebagai pengganti. Terdapat dua faktor penyebab terjadinya campur kode menurut Suwito (1983: 77) yakni sebagai berikut.

1) Latar Belakang Sikap Penutur Latar belakang sikap penutur ini berhubungan dengan karakter penutur, seperti latar sosial, tingkat pendidikan, atau rasa keagamaan. Misalnya, penutur yang memiliki latar belakang sosial yang sama dengan mitra tuturnya dapat melakukan campur kode ketika berkomunikasi. Hal ini dapat dilakukan agar suasana pembicaraan menjadi akrab.

2) Kebahasaan

Latar belakang kebahasaan atau kemampuan berbahasa juga menjadi penyebab seseorang melakukan campur kode, baik penutur maupun mitra tuturnya.Selain itu keinginan untuk menjelaskan maksud atau menafsirkan sesuatu juga dapat menjadi salah satu faktor yang ikut melatarbelakangi penutur melakukan campur kode.

E. Hasil Penelitian

Penelitian mengenai alih kode campur kode pada individu yang menggunakan bahasa Jawa, individu yang berbahasa Jawa dengan individu yang berbahasa Sunda. Namun, individu yang berbahasa Sunda tinggal diperbatasan Majalengka-Cirebon sehingga mampu berbahasa Jawa terjadi dalam situasi non formal. Dalam situasi seperti itu mereka lebih memilih menggunakan bahasa jawa.

Dalam percakapan sehari-hari di kelas maupun di luar, individu yang berbahasa Jawa dan individu yang berbahasa Sunda. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat tutur dan sering beralih dan bercampur kedalam bahasa Jawa ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, peritiwa berbahasa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sehingga terjadi alih kode dan campur kode.

Alih kode yang berupa peralihan dari bahasa Indoensia ke dalam bahasa Jawa ditemukan dalam percakapan 1 di bawah ini:

Eva : Mba tugas pak Oteng udah belum?                           

Fitri: Durunglah, susah banget.

Eva: Biasane durung?

Fitri: susah, aku ora paham sama tugase.

Eva : Jadi tugase kuh kita buat penelitian kecil gitu.

Fitri : Iyah ngerti kuane sihh, tapi aku durung paham sistematikae.

Percakapan di atas merupakan alih kode, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Individu yang berbahasa Sunda namanya Eva dan individu yang berbahasa Jawa namanya Fitri. Dalam percakapan tersebut awalnya Eva bertanya dengan bahasa Indonesia, namun Fitri menjawab dengan bahasa Jawa. Pada percakapan "durunglah, susah banget" jika dalam bahasa Indonesia maknanya "belum, karena susah " dari sana Eva mulai meengikuti Fitri menggunakan bahasa Jawa. "aku ora paham sama tugase" memiliki makna bahwa Fitri tidak mengerti dengan tugasnya. 

Fitri menggunakan bahasa Jawa karena Eva bisa berbahasa jawa. Sehingga penyebab terjadi alih kode di dalam percakapan di atas yaitu penutur dan lawan tutur sama memahami bahasa Jawa. Keakrabanpun lebih mudah terjalin.  Percakapan tersebut termasuk alih kode intern, yaitu peristiwa peralihan bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Terlihat jelas dalam percakapan di atas Eva yang letak geografisnya di daerah perbatasan, dia mampu berkomunikasi dengan bahasa Jawa walaupun bahasa ibunya adalah bahasa Sunda. Karena lingkungan yang membuat Eva menguasai bahasa Jawa.

 Fitri tidak akan berkomunikasi dengan Bahasa Jawa kalau Eva tidak mengerti bahasa Jawa, pasti Fitiri berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, yang dapat dipahami oleh semua orang. Akan beda percakapan jika, hadirnya orang ke 3. Eva dan Fitri tidak akan menggunakan bahasa Jawa, sebab ada orang ketiga yang tidak memahaminya.

Selain percakapan di atas, alih kode campur kode terjadi pada percakapan berikut ini:

Fitri: ke kantin yuk?

            Eva: Isun lagi langka duit, aku arepan ning ke pepustakaan aja!

            Fitri: Engko isun kang bayarin.

            Fitri: Kesuwun tapi isun arepan baca buku ning perpustakaan bae!

            Eva: Aku ikut kamu deh ke perpustakaan.

 Peristiwa alih kode yang terjadi di dalam percakpan di atas, ada beberapa percakapan menggunakan bahasa Jawa. Makna '"Isun lagi langka duit, aku arepan ning ke perpustakaan aja", aku lagi tidak punya uang, aku mau ke perpustakaan saja. Ucap Eva. Termasuk alih kode intern. Percakapn selanjutnya "Engko isun kan bayarin" mempunyai makna nanti aku yang bayarin kata Fitri. Ketika percakapan mulai menggunakan bahasa Jawa Eva membalas pembicaraan Fitri dengan bahasa Indonesia. Disanalah terjadi peristiwa alih kode.

Campur kode pada individu yang berbahasa Jawa terdapat dalam percakapan di bawah ini:

Eva: Va sebentar lagi kan UAS, kamu udah siap belum?

Fitri: ya ora siap kudu siap. Kita jalani saja!

Eva: Aku takut kalau nanati aku ora bisa jawab.

Fitri: Mangkane kita persiapkan dari sekarang.

Eva: Kalau belajar sihh uwis aku wis berlatih banyak soal.

Fitri: Tidak Cuma belajar tapi juga persiapan mental. Kamu harus percaya diri.

Data tersebut merupakan tuturan antara individu yang berbahasa Jawa dengan bahasa Sunda. Karena dalam tuturan di atas, terdapat kata berbahasa Jawa dalam satu percakapan.  Dalam campur kode ni hanya selipan berupa kata yang menggunakan bahasa Jawa, seperti Kata Ora menggantikan kata tidak. Dianggap kata Ora yang tepat digunakan dalam percakapan tersebut. 

Penyebab terjadinya campur kode dalam percakapan di atas ada dua kata yang menggunakan bahasa Jawa yaitu Ora, dan Uwis. Selipan kata tersebut bisa juga dari bahasa daerah ke bahasa asing atau bahkan sebaliknya. Namun, dalam penggunaannya bahasa Jawa yang dipaaki dalam percakapan di atas.

F. Kesimpulan

Wujud alih kode pada individu yang berbahasa Jawa berupa alih kode intern. Peralihan bahasa tersebut dari bahasa Indoensia ke bahasa Jawa dan sebaliknya. Wujud campur kode dari penelitian di atas terdapat kaa sisipan berbahasa jawa.

Penyebab terjadinnya alih kode dalam percakapan di atas adalah penutur dan lawan tutur memiliki latar belakang yang sama, sedangkan penyebab terjadinya campur kode karena latar belakang bahasa Jawa sehingga ada sisipan kata dari bahasa Jawa.

Peristiwa alih kode dan campur kode yang terjadi pada individu yang berbahasa Jawa, pada situasi yang tidak formal. Karena dalam situasi formal bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Penelitian ini hanya fokus pada satu individu saja, tidak mencakup mahasiswa yang ada di kelas atau yang lebih luas cakupannya yaitu kampus. Sebab peristiwa alih kode campur kode yang diteliti hanya pada satu individu yang berbahasa Jawa yang mempunyai nama samaran Fitri.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Yule, George. 2015. Kajian Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sumarsono. 2014. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Rokhman, Fathur. 2013. Sosiolinguistik (Suatu pendekatan pembelajaran

bahasa dalam masyarakat multikultural). Yogyakarta: Graha Ilmu.

Aslinda dan Leni Syafyahya. 2014. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika  Aditama.

Pateda, Mansoer. 1987. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa Bandung.