Mohon tunggu...
Haryanto
Haryanto Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Komunikasi, Praktisi Filantropi dan Peminat Budaya Massa

Masih aktif mengajar komunikasi dan public relations di perguruan tinggi swasta di Jakarta. Juga masih aktif sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan televisi siaran dan ditugaskan untuk mengelola bidang kegiatan corporate social responsibility dan filantropi perusahaan. Beberapa kali membeirkan training mengenai kehumasan dan menulis untuk keperluan skenario, artikel dan fiksi

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Bully dan Pembiaran Negara dalam Juara The Movie

11 April 2016   17:55 Diperbarui: 11 April 2016   20:39 66
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Film adalah ‘alat’ yang lebih ampuh daripada senjata untuk menyuarakan apapun, realitas, kegelisahan, ataupun ketidakadilan,” kata Djenar Maesa Ayu dalam artikel Kompas (10/4) tentang mengapa dia tetap membuat film, meski karya terakhirnya Nay membuatnya kehilangan semua uangnya.

Alat itulah yang digunakan oleh Charles Gozali untuk menyuarakan fenomena bully dalam film karya terbarunya berjudul “Juara The Movie” yang di dukung pemain utama Bisma Karisma mantan personil SM#SH. Meski bully mewarnai  hampir setengah jalan cerita film bergenre drama anak muda ini, tetapi sutradara juga meracik kisah yang ditulis Hilman ‘Lupus’ Hariwijaya dengan pendekatan komedi dan actions yang ngeblend. Di tengah adonan cerita yang mengelus emosi penonton hingga kadang tanpa sadar ikut mbrebesmili, rasa komedi diceletukkan oleh komika Mo Sidik, yang dalam film ini berperan sebagai pembantu Sarah (Cut Mini Teo). Aksi Mo Sidik berhasil membuat fresh jalinan kisah sepanjang film yang kalau dikritisi sebetulnya tidak istimewa betul alias sederhana saja. Tetapi disitulah justru kekuatan film ini. Dalam balutan cerita yang sederhana, ringan, pesan serius disisipkan sang empunya cerita.

Kisahnya terjalin lancar dan ringan. Kisah Bisma anak penjual Mie Ayam yang baru mulai memasuki dunia kuliah dan harus mengalami bully dari seniornnya,  Attar Dkk dalam ajang Masa Orientasi Siswa (MOS).  Kebetulan bertemu dengan Bella senior cantik kekasih Attar, maka cinta segitigapun terjalin. Tak disangka, Attar bukan hanya seniornya di Kampus melainkan juga orang yang punya kaitan dengan matinya ayah Bisma, Karisma sekitar 20 tahun lalu dalam pertarungan judi. Jadilah Bisma yang tak punya kemampuan beladiri secuilpun harus berhadapan dengan hantu masa lalu yang permah mengambil jiwa ayahnya dan meninggalkan kepedihan mendalam di hati mamanya, Sarah.  Kisahpun berpiilin dari romantisme ala kisah cinta tahun 80an, celetukan dan polah Mo Sidik yang kocak dan drama abak-ibu-ayah yang dimainkan dengan apik oleh Cut Mini sebagai Mama Sarah. Perasaan penonton dibawa campur aduk menikmati sajian di layar lebar.  

Karya ketiga Charles Gozali setelah Finding Srimulat ini tampil lebih sederhana daripada karyanya tentang gudang pelawak tradisional bentukan almarhum Teguh yang suaminya almarhumah Djujuk Juariah itu. Saya bilang sederhana karena angle kamera dalam Juara tampil lebih simpel daripada film itu. Tetapi kekuatan komedi yang disampaikan Charles tidak kalah kocak dibandingkan komedi dalam film yang dibintangi Reza Rahadian dan Rianti Cartwright.   

Salah satu keistimewaan karya-karya Charles yang menjadi signaturenya adalah selalu ada pesan baik verbal ataupun subliminal dalam kisahnya. Pada karya-karyanya,  penonton bukan hanya disajikan sebuah cerita melainkan juga titipan pesan dan suara kegelisahan sutradara. Pada film Finding Srimulat,  Charles menyampaikan kegelisahannya pada nasib seni hiburan tradisional termasuk para penggiatnya.  Dalam film Nada Untuk Asa,  Charles menitipkan pesan mengenai kepedulian terhadap penderita HIV AIDS khususnya dan disabilitas lainnya dan dalam Juara The Movie, dia sampaikan keprihatinannya tentang aksi bully di masyarakat yang sudah keterlaluan dan protesnya pada nasib atlet yang terpaksa jadi tenaga keamanan untuk sekadar menyambung hidup karena berpuluh tahun negara tidak merawat mereka yang sudah banyak berjasa.

Pesan seserius itu dituangkan secara menghibur dan menggugah dalam film Juara The Movie, disini juga Charles kembali pada khittahnya yang gagal dia sampaikan pada film Rasa (2011) yaitu pendekatan actions yang secara serius dilakoni Bisma. Dalam film ini,  anak muda itu mampu bermetamorfosa dari sosok personil boyband menjadi pendekar yang secara meyakinkan dapat mengalahkan sosok Kobar (Cecep Arif Rahman). Terkait dengan materi kisah dalam film ini, saya justru menyayangkan pilihan poster utama yang diusung mewakili Juara The Movie karena dalam pandangan saya  poster itu tidak menyampaikan muatan film secara utuh. Berbeda dengan poster teaser yang secara tematik menyampaikan pesan film ini: Love – Family – Honor.

[caption caption="Teaser Poster Juara, sumber: Facebook Juara The Movie. Magma Entertainment"][/caption]

 [caption caption="Teaser poster Juara - Family. Sumber FB Juara Thie Movie, Magma Entertainment."]

[/caption]

 [caption caption="teaser poster juara - honor. sumber: FB Juara the movie, magma entertainment"]

[/caption]

 

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun