Mohon tunggu...
Gus Noy
Gus Noy Mohon Tunggu... Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009, asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Hujan Bunga Mangga

28 November 2018   05:41 Diperbarui: 29 November 2018   09:08 0 4 3 Mohon Tunggu...
Cerpen | Hujan Bunga Mangga
ilustrasi (pixabay/Patounet54)

Di ruangan lain beberapa rekannya masih menikmati kegiatan. Ada yang suntuk di depan layar monitor komputer meja. Ada yang asyik mendengarkan musik bergoyang maumere. Awal malam memang belum memanggil mereka untuk pulang. Satu-dua jam lagi, biasanya, mereka keluar untuk makan malam atau malah pulang.

"Kalau hujan turun begini, orang Timor menyebutnya 'hujan bunga mangga', Bang," jawab Piter.

"Hujan bunga mangga?"

"Ho. Hujan bunga mangga karena terjadi pada masa mangga-mangga sedang berbunga. Hujan deras hanya satu hari. Hari selanjutnya tidak ada hujan lagi sampai musim hujan nanti."

Mungkin itu pula sebabnya tetangga sebelah memperbaiki atap, pikir saya. Bukan cuma sebagai persiapan menyambut musim hujan, melainkan juga mengantisipasi hujan bunga mangga yang terjadi sewaktu-waktu. Ya, contohnya, mungkin sebentar lagi.

Langit malam bersemu putih-kelabu dengan pantulan lampu-lampu kota. Bulan dan bintang tidak terlihat. Angin menggoyang-goyangkan dahan-ranting pohon marungga, nangka, dan srikaya. Udara basah membelai-belai kulit.

"Beta pulang dolo, Bang Oji. Mo pi jemput maitua dari rumah mamanya," pamit Piter sambil bangkit dari kursi ban bekas, dan bergegas ke ruang utama.

"Ya. Hati-hati o."

Pesan "hati-hati lho" bukanlah basa-basi saya apalagi gelagat cuaca akan hujan. Istri Piter sedang hamil dengan masa delapan bulanan. Cikal-bakal anak pertama mereka sedang memasuki masa penyambutan. Dan, menurut hasil USG, jenis kelaminnya laki-laki.

Setelah Piter pulang, saya beranjak untuk mandi. Sebenarnya saya malas mandi. Selain airnya dingin sekali, udara pun sedang basah. Kalau di rumah saya dan sekitarnya di sebagian wilayah Balikpapan Tengah, air dari jaringan PDAM terasa hangat. Saya tidak tahu, mengapa di sekitar lingkungan tempat tinggal saya  airnya hangat. Barangkali, memang, saya tidak perlu tahu. Yang penting saya bisa rajin mandi.

Tetapi sekarang saya sedang berada di Ibu Kota NTT, dan di antara orang-orang. Mau-tidak mau, saya harus menyesuaikan diri. Mandi. Selagi waktunya memungkinkan untuk mandi, ya, saya harus mandi, meskipun selama satu hari ini saya lebih sering duduk untuk merancang bangunan milik Demun. 

Sebelum sampai ke kamar mandi, Odang dan dua rekannya keluar dari ruangan. Kebetulan ruangan Odang berdekatan dengan kamar mandi.

"Kami pulang dulu, Bang," pamit Odang.

"Tinggal siapa saja?"

"Ada Sarwan di ruang belakang."

"Baiklah, mumpung belum hujan. Udaranya sudah basah. Mungkin ada daerah yang sudah hujan."

Mereka segera melangkah ke ruang utama, berbelok ke ruang tamu, menutup pintu, berjalan ke teras, dan menuju tempat parkir. Saya melanjutkan langkah ke kamar mandi. tidak beberapa lama kemudian terdengar suara kendaraan meninggalkan halaman rumah singgah.

Selama mandi dan masih ada orang yang berada di rumah singgah, saya bisa merasa nyaman dan aman sebelum selesai urusan membersihkan diri. Sebab, rumah singgah memang bukan rumah tinggal biasa. Siapa pun bisa tiba-tiba singgah untuk suatu keperluan. Kalau masih ada seseorang yang berjaga-jaga, tentu saja, semua bisa aman-terkendali pada saat saya berada dalam kamar mandi.

Sampai selesai saya mandi, Sarwan masih berada di ruang belakang yang bersebelahan dengan dapur. Biasanya dia sedang membaca atau menulis opini untuk dikirimkan ke media, minimal media lokal semisal Victory News.

Dia satu-satunya yang rajin menulis opini serta tulisannya sering dimuat. Tahun lalu beberapa kali aku memergoki dia sedang membaca koran atau buku. Tidak keliru jika Demun mengajaknya bergabung di rumah singgah. Asalnya Nias, dan di Kupang dia menumpang di rumah pamannya sejak awal hingga kuliah di Undana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4