Mohon tunggu...
Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Mohon Tunggu... Petani - Pegiat ComDev, Petani, Peternak Level Kampung

Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Pentingnya Voter Education bagi Peserta Pemilu Serentak 2024

8 April 2022   16:22 Diperbarui: 9 April 2022   12:30 1402
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan Politik di Aceh dengan tema Kekerasan & Politik Uang. Foto: Humas KPU RI dalam kip.acehprov.go.id

Voter education atau pendidikan untuk pemilih merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan bagi segenap warga negara Indonesia. Terutama,  bagi warga yang telah memiliki hak pilih dalam Pemilihan Umum.

Pendidikan untuk pemilih, dalam cakupan yang lebih luas disebut sebagai pendidikan politik. Cukup banyak referensi yang mendifinisikan apa itu pendidikan politik. Dua referensi yang dapat disampaikan di sini adalah pengertian dari Kartini Kartono  dan satunya lagi dari buku karangan Alfian.

Dalam buku terbitan 2009 berjudul Pendidikan Politik: Sebagai Bagian Pendidikan Orang Dewasa, Kartini Kartono mendifinisikan Pendidikan Politik sebagai suatu upaya yang dilakukan secara sengaja dan sistematis.

Tujuannya adalah untuk membentuk dan memampukan individu yang disasar guna mencapai tujuan politik itu sendiri. Dalam proses pencapaian tersebut, dilakukan dengan penuh tanggung jawab secara moral.

Selanjutnya Alfian (1981) mengemukakan pendapat mengenai Pendidikan Politik dalam bukunya 'Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia'. Pendidikan politik merupakan usaha yang sadar dengan maksud mengubah proses sosialisasi politik masyarakat.

Tujuannya, agar masyarakat paham dan menghayati nilai yang ada pada sistem politik kemudian membangun idealisme mereka. Masyarakat yang telah terbangun idealismenya, tidak akan terjebak dalam politik serba instant dan mudah terpengaruh pada janji-janji manis.

Baik Kartini maupun Alfian, sama-sama menyinggung hubungan pendidikan politik dengan idealisme individu dan masyarakat. Namun, proses pembentukan dan penghayatan terhadap idealisme politik, tak terbentuk begitu saja.

Seseorang perlu mengenalnya terlebih dahulu, menerima, menghayati lalu menjatuhkan pilihan politik berdasarkan nuraninya. Tentu saja, tanpa merasa terpaksa karena tekanan dari pihak manapun. Bebas menentukan sendiri karena berpolitik merupakan hak dari setiap warga negara.

KPU RI. Foto: mediaindonesia.com
KPU RI. Foto: mediaindonesia.com

Mengapa Pendidikan Pemilih Penting?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun