Mohon tunggu...
Medi Juniansyah
Medi Juniansyah Mohon Tunggu... Penulis - Menggores Makna, Merangkai Inspirasi

Master of Islamic Religious Education - Writer - Educator - Organizer

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pemilu Serentak dan Paradoks Kesejahteraan: Refleksi atas Kasus KPPS Berguguran

7 Maret 2024   13:42 Diperbarui: 7 Maret 2024   13:48 120
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pemungutan suara - sumber: bing.com (copilot designer)

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan momen penting dalam demokrasi sebuah negara. Di Indonesia, penyelenggaraan Pemilu Serentak merupakan sebuah tantangan besar bagi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas untuk memastikan jalannya proses demokrasi tersebut. Namun, di balik gemerlapnya proses demokrasi, terdapat aspek yang sering kali terabaikan, yaitu kesejahteraan dan keamanan petugas KPPS. Dalam beberapa kasus, bahkan ada petugas KPPS yang meninggal dunia akibat beban kerja yang berat dan kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan mereka.

Pertanyaan yang muncul adalah: Apakah masalah ini harus dievaluasi? Dan jika ya, bagaimana cara terbaik untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan para petugas KPPS di masa depan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tinjau beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab terjadinya kasus petugas KPPS yang meninggal dunia.

Pertama-tama, adalah beban kerja yang berat. Petugas KPPS bertanggung jawab untuk memastikan proses pemungutan suara berjalan lancar dari awal hingga akhir. Mereka harus hadir sejak pagi hingga malam hari, bahkan hingga proses penghitungan suara selesai. Beban kerja yang tinggi ini dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang serius, terutama mengingat kondisi tempat pemungutan suara yang beragam, mulai dari wilayah perkotaan hingga pedalaman.

Kedua, adalah kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan petugas. Meskipun mereka adalah tulang punggung dalam proses demokrasi, namun sering kali kesejahteraan dan keamanan mereka tidak menjadi prioritas utama. Banyak petugas KPPS yang harus bekerja dalam kondisi yang tidak layak, seperti tidak adanya fasilitas kesehatan yang memadai, minimnya istirahat, dan bahkan minimnya perlindungan terhadap mereka dari ancaman eksternal.

Pemilu Serentak yang telah dilaksanakan dua kali di Indonesia seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kondisi petugas KPPS secara menyeluruh. Namun, apakah evaluasi tersebut sudah dilakukan secara serius?

Tanggapan atas kasus meninggalnya petugas KPPS seharusnya menjadi pendorong bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk mengambil tindakan yang tegas. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan memperbaiki sistem penugasan petugas KPPS agar lebih manusiawi. Ini termasuk pemberian jadwal kerja yang lebih teratur, peningkatan fasilitas di tempat pemungutan suara, serta pelatihan dan pendampingan yang memadai bagi para petugas.

Selain itu, diperlukan juga kebijakan yang mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pemilihan umum. Semakin banyak sukarelawan yang siap membantu sebagai petugas KPPS, maka beban kerja dapat terbagi dengan lebih merata, sehingga mengurangi risiko kelelahan dan kecelakaan yang mungkin terjadi.

Namun, perbaikan tidak hanya sebatas pada upaya fisik dan logistik. Pemerintah juga harus memberikan perhatian yang lebih serius terhadap aspek kesejahteraan dan keamanan psikologis para petugas KPPS. Ini termasuk pendampingan psikologis sebelum dan sesudah pelaksanaan Pemilu, serta perlindungan hukum bagi mereka yang mengalami ancaman atau kekerasan dalam menjalankan tugas mereka.

Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa pemilu serentak yang dilakukan di Indonesia seharusnya dievaluasi secara menyeluruh, tidak hanya dari segi kesejahteraan petugas KPPS, tetapi juga dari berbagai aspek lainnya seperti keamanan, transparansi, dan akuntabilitas. Evaluasi yang komprehensif akan membantu mengidentifikasi kelemahan dan kesalahan dalam sistem yang ada, sehingga dapat diambil langkah-langkah perbaikan yang lebih efektif di masa depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun