Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Pahami Screen Time dan Play Time untuk Anak

23 Mei 2015   22:19 Diperbarui: 7 Maret 2016   14:35 0 12 6 Mohon Tunggu...
Pahami Screen Time dan Play Time untuk Anak
(ilustrasi: associationnow.com)

[caption id="" align="aligncenter" width="576" caption="(ilustrasi: associationnow.com)"][/caption]

Anak kita yang lahir di era TV flat screen, tablet, smartphone dan laptop tidak bisa dipungkiri akan mengenalnya cepat atau lambat. Ada anak yang mengenalnya, atau dikenalkan pada usia yang dini. Ada pula beberapa orangtua yang begitu ketat, maka screen time pun dibatasi. Screen time (ST), atau waktu menonton dan bermain gadget akan menjadi 'dilema' jika dihadapkan pada play time (PT) yang seharusnya dilakukan anak-anak. Bermain, baik di dalam ruang maupun di luar, adalah cara anak belajar. Banyak orangtua pun, kini memilih screen time lebih lama agar anak mereka juga belajar. Lalu, bagaimana mengatur ST dan PT agar anak tumbuh dengan 'wajar diusianya'. Mendiang Steve Jobs, pendiri Apple pernah diwawancarai jurnalis menyoal anak dan teknologi yang ia ciptakan. Sang jurnalis menyangka anak-anak Steve Jobs juga senang akan karya anaknya. Sedang Jobs dengan datar menjawab "Mereka tidak pernah menggunakannya.

Kami membatasi penggunaan teknologi untuk anak di rumah kami." Hal ini pun terjadi dengan Jonathan Ive, desainer dari iPad. Ia menerapkan batasan yang ketat pada teknologi untuk anak kembarnya yang berusia 10 tahun. Sedang bagi Pierre Laurent, mantan manajer marketing Intel dan Microsoft, dan saat ini developer startup percaya ST bagi anak dilakukan setelah anak berusia 12 tahun. Dan ini yang diterapkan pada anak-anaknya. Karena teknologi akan menyita minat dan waktu anak, memberi anak gadget di usia dini mendatangkan sedikit manfaat. Dan kini, setelah anaknya berusia 12 tahun, ia juga mampu memahami gadget yang ada dengan baik. Sedang Johnny Taylor, developer ari game World of Warrior memilih batasan yang lebih longgar. Karena ia tahu teknologi adalah bagian dari keluarga mereka, sebagai orangtua aktifitas lain pun harus diperhatikan. Dengan iPad, tablet Nexus dimainkan anak-anak mereka, password untuk download disimpan oleh Johnny sendiri. Serupa dengan Anne Wojcicki, istri dari Sergey Brin, memberi gadget pada anak juga harus dengan aturan. Anaknya memiliki iPod touch agar anaknya bisa mengirim pesan saat ia pulang dari sekolah. Game pun haruslah edukasional, seperti BrainPop menurut Anne.

Orangtua, Konsistenlah Dengan Aturan ST dan PT Untuk Anak

Saya sendiri menerapkan aturan yang cukup longgar untuk ST anak saya. Ia diperbolehkan untuk menonton televisi, namun diselingi oleh bermain. Menontonnya pun hanya film-film kartun siang dan sore hari. Waktunya pun tidak dibatasi. Namun putri saya tahu kapan ia harus berhenti menonton. Sedang pagi dan siang ia banyak bermain dan belajar. Bermain baik bersama temannya di rumah atau di luar rumah, atau bersama istri saya. Atau bermain gadget pun hanya malam hari ketika saya di rumah. Baik dengan HP saya atau istri saya. Itupun tidak lebih dari 1 jam. Karena ia kadang bosan sendiri dengan game yang ia mainkan.

Yang kadang dilupakan orangtua adalah, gadget bukan alat pengalih perhatian anak. Kadang saya perhatikan, gadget adalah pengalih perhatian anak saat orangtua sibuk mengobrol di meja makan. Gadget diberikan agar anak duduk diam di meja restoran. Atau saat mereka bersedih, smartphone dengan game lucu pun menjadi pelipur tangis anak. Atau memberi anak tontonan Disney Channel agar anak tidak main diluar rumah. Sedang orangtua sibuk sendiri saat anak menontonnya. Seolah gadget dan televisi adalah 'penyelamat' orangtua. Lalu di mana peran orangtua? Konsistensilah kuncinya. Orangtua pun harus membatasi dirinya pada eksposure dari ST. Pilih waktu menonton TV, bermain gadget atau bekerja di depan laptop saat anak istirahat atau tidur. Saat orangtua dan anak berkumpul, lakukan PT dengan optimal. Melukis, mewarnai atau kegiatan outdoor ada baiknya lebih banyak dilakukan.

Sedang ST sendiri pun, anak baiknya didampingi orangtua mereka. Atur waktunya dan berikan pemahaman tentang apa yang ia mainkan di gadget. Juga, baca dengan teliti game yang hendak diunduh untuk anak kita. Saya sendiri, untuk berinteraksi dengan gadget putri saya hanya diperbolehkan selepas Maghrib. Itupun tidak kami tawarkan ia mau main atau tidak. Jika kami sibuk bermain, maka gadget tidak kami berikan. Atau saat kami pergi, bermain gadget di kendaraan pun tidak kami lakukan. Kami lebih pilih putri kami melihat sekitar dan belajar semua yang ada di jalan raya. Baik kendaraan atau aturan-aturan sederhana di jalan. ST untuk putri kami pun selalu kami dampingi.

Kami menyadari, ST pun adalah bagian dari anak belajar. Karena menjauhkan anak dari teknologi pun sulit. Karena teman-temanya pun diluar secara langsung atau tidak langsung, mengekspos anak saya dengan teknologi. Jadi, ST pun harus bisa membawa manfaat. Semua agar anak tahu mana yang layak atau tidak layak baginya. Karena anak yang 'polos' atas teknologi mugkin jatuhnya akan overuse pada produk teknologi. Menghindarkan anak dari teknologi pun, jalan yang akan sulit ditempuh orangtua di abad 21 saat ini.

Artikel terkait dari saya: Kenalkan Anak Pada Gadget, Why Not?

Referensi: theguardian.com

Salam,

Solo, 23 Mei 2015

10:19 pm