Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Administrasi - Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Housewife@Germany, founder My Bag is Your Bag, co founder KOTEKA, teacher, a Tripadvisor level 6, awardee 4 awards from Ambassadress of Hungary, H.E.Wening Esthyprobo Fatandari, M.A 2017, General Consul KJRI Frankfurt, Mr. Acep Somantri 2020; Kompasianer of the year 2020.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen| Sekali Ini Saja

24 Februari 2017   13:47 Diperbarui: 25 Februari 2017   04:00 455
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sejam sudah kuamati. Siluet di depan kaca sana hanya ada satu. Pria yang berani merampok hati Juliana tidak hadir hari ini.

Kuberanikan diri menyeret langkahku menuju rumah nomor 13. Ahhhh, aku lupa. Aku tak punya kunci lagi! Kupukul kepalaku tanpa mampu mengaduh.

Aku ingin masuk. Tanganku yang menggenggam setangkai mawar layu, gemetar memencet bel pintu warna merah hati. Itu warna kesukaan Juliana.

Tuhan! Pencetan tanganku tak mampu menimbulkan bunyi. Pintu tentu saja tidak asal terbuka.

“Guk-guk-guk“ Tangannya mencakar pintu. Memang tidak ada nada bel yang terdengar. Namun rupanya Papsi, anjing penjaga kami itu tahu, aku hendak masuk. Anjing hebat.

“Papsi, diam! Sini ....“ Juliana berusaha menenangkan Papsi. Anjing tinggi besar itu menjauh dari pintu utama dan mendekati Juliana. Penjaga rumahku itu memang patuh. Ia terduduk di antara kedua kaki panjang Juliana, matanya melirik ke arah pintu lagi lalu melengos dan menutup mata. Aku sedih, aku bukan tuannya lagi. Teganya Papsi, mengacuhkanku di luar bersama dinginnya angin malam.

“Juliana ....“ Suaraku kuat memanggil namanya dari depan pintu.

Juliana terhenyak. Ia berlari. Permata hatiku itu pasti mendengar suaraku. Kepalanya melongok, membelah malam. Mencari sosok yang memanggilnya tadi di antara taman batu. Ya, aku! Ini aku, Patrick!

“Patrick?“ Juliana menyebut namaku. Olalaaaa. Seperti ada kupu-kupu yang menari di perutku. Suara biduannya menyejukkan jiwaku yang menghitam.

Sayang, kepalanya masih saja mencari-cari sesuatu yang tidak juga ketemu. Hidungnya mengendus-endus, aku yakin dari bau semerbak mawar ungu yang kubawa sejak berjam-jam yang lalu.

“Juliana?“ Kupanggil lagi namanya. Ya, Tuhan! Piyama favorit itu, mempersilakanku menikmati lekuk tubuhnya, semauku. Seumur hidupku, tak pernah ada komando memeluk tubuhnya yang seksi.  Biasanya, Juliana akan tertawa kecil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun