Mohon tunggu...
Gregorius Nyaming
Gregorius Nyaming Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Hanya seorang anak peladang

Seorang Pastor Katolik yang mengabdikan hidupnya untuk Keuskupan Sintang. Sedang menempuh studi di Universitas Katolik St. Yohanes Paulus II Lublin, Polandia. Email: frang17grego@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Menilik Nilai Luhur Hidup bersama Suku Dayak Desa dalam Tradisi Mansai

27 Agustus 2021   18:01 Diperbarui: 30 Agustus 2021   06:00 520 49 14
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Menilik Nilai Luhur Hidup bersama Suku Dayak Desa dalam Tradisi Mansai
Sungai Utik yang berarti putih, atau jernih dalam Bahasa Dayak Iban. Sungai ini merupakan sumber kehidupan | Foto: Aseanty Pahlevi/Mongabay Indonesia

Mereka yang hidup di bumi Kalimantan, sudah layak dan sepantasnya menghaturkan syukur kepada Tuhan, pencipta semesta alam atas kebaikan-Nya karena telah menganugerahkan alam yang begitu indah, beserta dengan segala isinya yang bisa dinikmati secara gratis.

Sayangnya, di beberapa tempat ragam isi alam itu tidak bisa lagi dinikmati oleh masyarakat karena hutan yang dulu rindang, kini sudah berganti menjadi lahan perkebunan. Sungguh memilukan!

Segala sesuatu yang gratis memang mengandaikan bahwa orang bisa mengambilnya dengan sesuka hati. Namun, tidak demikian dalam masyarakat Dayak Desa

Ada prinsip hidup bersama yang selalu dijadikan pedoman dalam menikmati segala sesuatu yang tersedia di alam.

Dalam artikel berikut ini, saya akan berangkat dari air (sungai) untuk menunjukkan bagaimana masyarakat Dayak Desa menghayati prinsip hidup bersama tersebut.

Seperti ladang (dua artikel saya terakhir), begitu pun sungai memberi inspirasi dalam mengurai dan merenungi makna kehidupan sebagai manusia. Sebab bagi masyarakat Dayak Desa, sungai juga menjadi arena dalam merayakan dan menghidupi kebersamaan.

Ilustrasi warga sedang mansai ikan dan udang | Sumber: Suarasarawak.my
Ilustrasi warga sedang mansai ikan dan udang | Sumber: Suarasarawak.my

Perayaan dan penghayatan atas kebersamaan itu hadir dalam sebuah aktivitas komunal yang dalam masyarakat Dayak Desa dikenal dengan nama "mansai".

Di daerah kita masing-masing, pastilah tradisi mansai ini masih ada. Dan barangkali juga ada dari antara kita yang masih sering dan sangat senang melakukannya.

Sebuah aktivitas yang terlihat biasa-biasa saja memang. Akan tetapi dalam masyarakat Dayak Desa, di balik aktivitas ini terkandung nilai luhur hidup bersama yang tercetus dalam semboyan: KALAU ABIH SAMA AMPIT.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...
Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan