Mohon tunggu...
Fais Rokmawar Dani
Fais Rokmawar Dani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang

Menyukai hal-hal seputar tulisan, broadcasting, traveling, dan kuliner.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kangen

4 Desember 2022   16:05 Diperbarui: 4 Desember 2022   16:08 91
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (freepik.com)


Bisa-bisanya seseorang tetap mengirim kangen dalam keadaan sesulit apapun. Dalam segala keterbatasan. Dalam segala perbedaan. Dalam segala hal yang hanya tinggal nama. Kamu, Ji. Kenapa kamu tetap mengirim kangen itu? Lewat angin yang keluar dari celah duniamu. Lalu membaur menjelma angin di duniaku. Dan, sampai. Kangen dalam wujud angin itu sampai di depan rumahku. Saat itu aku sedang berada di kamar. Malas sekali saat mendengar pintu rumah diketuk. Karena aku tahu, itu adalah ulah kangen yang kamu kirimkan.

Aku biarkan suara ketukan yang lama-lama semakin keras. Aku tak ingin kangenmu itu membuatku kembali gila. Kamu tahu, bukan? Kangen itu perlu obat. Kangen itu perlu bertemu. Yang meski setelahnya kangen makin tak tahu diri. Makin menggebu. Makin membuat kita ingin bersatu.

Ji, sudahlah! Tidakkah cukup tiap sudut kota, taman bunga, baju yang kau hadiahkan, sampai warung bakso mi ayam favoritmu itu membuatku kacau. Tidakkah cukup kenangan bersamamu itu membuatku takut. Membuatku tak bisa menerima orang lain selain dirimu. Membuatku tak bisa menatap mata orang lain selain matamu. Kenyataan kita pernah bersama memang sangat membahagiakan. Tapi kamu juga harus terima, kita telah usai. Aku tak sudi ada hubungan lagi denganmu. Aku tak ingin merasa kangen dengan orang yang tak bisa kusentuh. Tak bisa kuharap. Tak bisa kutatap. Makanya, jangan terus-terusan kau kirim kangenmu itu. Memangnya kalau aku gila, kamu mau tanggung jawab?

Mau tanggung jawab pun, kamu tak akan bisa. Kita sangat berbeda sekarang. Jadi, meski sekarang kangenmu sedang berlutut sekalipun, aku tak akan membukakan pintu. Tak akan kubiarkan lagi ia masuk. Tak akan lagi ia membuatku kalut dengan segala rencana-rencana kita, dulu.

Sembilan tahun lagi kita bakal nikah deh kayaknya.

Lah, aku kan mau kuliah dulu.

Ya enggakpapa dong, nikah sambil kuliah, aku biayain kok.

Kamu tertawa. Merangkul pundakku. Saat itu kita duduk-duduk di taman bunga. Kamu sangat cerewet. Kebanyakan ceramah. Aku kurang perhatianlah. Kurang sayang sama kamulah. Padahal sampai sekarang, saat kamu sudah pergi pun, aku tidak lagi melihat lelaki lain. Aku masih setia menunggu kamu. Tidakkah ini sudah cukup membuatmu mengerti sebesar apa rasa sayangku ini?

Ya...jangan menyesal karena meninggalkanku. Aku pun tak marah saat kau acuh tak acuh padaku. Saat kau pergi tanpa berpamitan. Saat di rumah sakit itu. Saat selang-selang itu melilit tubuhmu. Saat matamu menghindariku. Aku sudah mendapat jawabannya. Aku sudah tahu nasib hubungan kita tidak akan mujur. Aku tahu aku akan gila. Akan selalu kangen pada orang yang tak bisa lagi kudapati keberadaannya. Ya, aku tahu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun