Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Santet

9 Juli 2018   09:15 Diperbarui: 10 Juli 2018   00:12 2688 26 15
Cerpen | Santet
Ilustrasi: saepulbahriartist.blogspot.com

Berita tentang Satumi terkena santet sudah menyebar. Entah siapa yang pertama kali memviralkannya. Beberapa orang merasa penasaran lalu datang berbondong-bondong menyempatkan diri menjenguk Satumi--gadis berusia duapuluh tahun itu di rumahnya. 

Dan orang-orang yang datang itu semakin percaya begitu melihat keadaan Satumi yang tergolek lemah di atas tempat tidur dengan perut membengkak sebesar balon raksasa.

"Sudah diperiksakan ke dokter, Kang Jum? Siapa tahu Satumi bukan terkena teluh melainkan mengidap suatu penyakit," Riswan, pria muda yang sedang menghabiskan liburan kuliah itu, yang tinggal tak jauh dari rumah Satumi mencoba menepis isu yang beredar dengan menyampaikan pendapatnya. 

"Sudah, Wan. Tapi menurut mantri yang memeriksanya Satumi tidak mengidap penyakit apa-apa," Ayah Satumi yang dipanggil Kang Jum itu menyahut.

"Ke dokter, Kang. Bukan mantri. Dan periksa medis itu tidak cukup satu kali," Riswan masih bersikukuh. Dan Kang Jum tampaknya tidak suka dengan campur tangan pemuda itu. Terlihat jelas dari air mukanya yang semula cerah mendadak berubah murung.

Tidak ingin berdebat dengan pria sepantaran Ayahnya, Riswan akhirnya memutuskan untuk mengalah. Ia pamit pulang. Meninggalkan rumah Satumi. Meski dalam hati pemuda itu tetap tidak yakin bahwa Satumi telah terkena santet seperti yang santer dibicarakan oleh orang-orang seantero kampung.

Sesampai di rumah Riswan mendiskusikan perihal sakitnya Satumi dengan Ayahnya. Haji Sadeli.

"Apakah ilmu semacam itu--maksudku santet, memang ada di muka bumi ini, Ayah?" Riswan membuka percakapan. Haji Sadeli mengangguk.

"Masyarakat kita masih mempercayai hal-hal klenik, Wan. Kita tidak bisa menutup mata," Haji Sadeli menyahut pelan. Ia memahami benar jalan pikiran anak semata wayangnya yang cenderung modern.

"Lantas andai benar Satumi terkena santet, pasti akan ada orang yang dituduh sebagai pelakunya," Riswan menatap Ayahnya. Ia kerap membaca hal-hal demikian. Tentang pengeroyokan terhadap seseorang yang diduga sebagai dukun santet. Walau pada akhirnya tuduhan tersebut tidak terbukti. Namun tak jarang berujung miris karena terlanjur menimbulkan korban yang sebenarnya tidak bersalah. 

Belum juga Haji Sadeli mengiyakan, terdengar suara ribut-ribut dari luar rumah. Riswan segera beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Benarlah. Beberapa pria berumur sudah berdiri di ambang pintu menghadangnya.

"Mana Haji Sadeli? Kami ingin bertemu Ayahmu, Wan! Kami minta baik-baik agar Ayahmu segera mencabut kembali santet yang dikirim kepada Satumi!" salah seorang dari laki-laki yang datang itu berseru lantang. Riswan terhenyak. Lalu menoleh ke belakang, menatap Ayahnya yang masih duduk bersila di atas amben dengan tenang.

***

Sekalipun Riswan dan Haji Sadeli sudah berupaya menjelaskan bahwa tuduhan akan santet itu tidak benar adanya, tapi para pria yang datang itu tetap saja tidak mempercayai ucapan keduanya. Mereka terus mendesak agar Haji Sadeli mengaku.

"Tunggu! Apa kalian bisa membuktikan bahwa Ayahku yang mengirim teluh kepada Satumi? Hati-hati. Menuduh tanpa bukti adalah fitnah! Dan kalian bisa kami tuntut balik!" Riswan mulai kehilangan kesabaran. Para pria itu mendadak terdiam.

"Bisa kalian beri tahu siapa yang memprovokasi tuduhan keji ini?" Riswan menatap tajam satu persatu orang-orang yang berdiri di hadapannya.

"Sudahlah, Wan. Kukira Ayah sudah tahu siapa yang menyuruh orang-orang ini datang ke mari. Sebaiknya kita maafkan saja mereka," Haji Sadeli berdiri. Menyalami satu persatu pria yang memenuhi ruang tamunya.

"Kalian pulanglah. Aku berjanji akan membantu menyembuhkan Satumi jika benar ia terkena santet. Dan kutegaskan sekali lagi pada kalian, bukan aku pelakunya," Haji Sadeli berkata seraya menyungging senyum.

***

Sepulang orang-orang tak diundang itu, Riswan kembali duduk bersebelahan dengan Ayahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3