Mohon tunggu...
Denny Yan Fauzi Nasution
Denny Yan Fauzi Nasution Mohon Tunggu... Lainnya - Pembelajar

Yang selalu berusaha bisa bersyukur atas kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Wiji Thukul di TVRI

18 Juni 2020   20:35 Diperbarui: 19 Juni 2020   17:40 432
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(kemasan-kentingen-sorogenen)

(dalam NAR, 2015: 27).

Wiji Thukul memilih ambil bagian. Ia tak mau menghamba pada ketakutan dan menjadi korban keputusan-keputusan. Ia mencatat peristiwa penindasan dan ketidakadilan rezim. Ia bertanya, menggugat, mengucapkan kata-katanya. Puisi-puisinya yang lugas, berani, dan jujur mengungkap realitas yang disaksikannya menghadirkan teror dan membuat gerah penguasa. 

“Thukul,” tulis Munir dalam pengantar NAR, “yang memang lahir dari bagian mereka yang terdepak keras oleh arus alienasi sistem bernegara itu, sadar benar bahwa perubahan dan perlawanan mesti dimulai.”

Pilihan Wiji Thukul untuk berani mengucapkan kata-katanya dan tidak menghamba pada ketakutan membangkitkan semangat perlawanan di kalangan aktivis mahasiswa dan buruh. Puisi-puisi yang ia bacakan memantik api perlawanan itu kepada rezim otoritarianisme Orde Baru. 

Puisi “peringatan” yang ditulis Thukul pada 1986 jadi bacaan wajib demonstran. maka hanya ada satu kata: lawan! yang telah menjadi ikonik ini menuding langsung tabiat kekuasaan “yang omongannya tidak boleh dibantah, yang membungkam kritik tanpa alasan.”

peringatan 
jika rakyat pergi 
ketika penguasa pidato 
kita harus hati-hati 
barangkali mereka putus asa 
kalau rakyat bersembunyi 
dan berbisik-bisik 
ketika membicarakan masalahnya sendiri 
penguasa harus waspada dan belajar mendengar 
bila rakyat berani mengeluh 
itu artinya sudah gawat 
dan bila omongan penguasa 
tidak boleh dibantah 
kebenaran pasti terancam 
apabila usul ditolak tanpa ditimbang 
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan 
dituduh subversif dan mengganggu keamanan 
maka hanya ada satu kata: lawan!

(solo, 86)

(dalam NAR, 2015: 85)

Begitulah Wiji Thukul menjadi simbol perlawanan. Oleh penguasa, ia dianggap berbahaya. Aparat memberinya cap agitator, penghasut. Thukul menjadi ‘musuh negara’

Wiji Thukul dibungkam (baca: diculik) sebelum pemerintahan Soeharto jatuh pada Mei 1998.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun