Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Putri Tanjung dan Kawan-kawan, Cermin Kewajaran Milenial Menjadi Punggung Negara

24 November 2019   13:25 Diperbarui: 24 November 2019   17:52 246 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Putri Tanjung dan Kawan-kawan, Cermin Kewajaran Milenial Menjadi Punggung Negara
Staf khusus Presiden Joko Widodo yang baru dari kalangan milenial (kiri ke kanan) CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Maruf, Peraih beasiswa kuliah di Oxford Billy Gracia Yosaphat Mambrasar dan Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia menjawab pertanyaan wartawan saat diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11/2019). Ketujuh stafsus milenial tersebut mendapat tugas untuk memberi gagasan serta mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang. (sumber: ANTARA FOTO/Wahyu Putro via kompas.com)

Bagi beberapa orang, melihat muda-mudi berusia 20-30 tahun menjadi bagian dari pemerintahan akan terasa menarik. Bahkan, tak jarang dihebohkan. Namun, jika boleh jujur, fenomena itu seharusnya sudah wajar. Mengapa?

Menemukan orang-orang muda dapat menjadi bagian dari suatu hal yang besar sudah bukan lagi hal baru. Apalagi dalam kurun waktu 2-5 tahun ini. Bahkan, nama-nama yang membanjiri trending topic dalam waktu 1 tahun ini kurang lebih didominasi oleh figur muda.

Dimulai dari politikus muda yang banyak diperbincangkan, seperti Tsamara Amany Alatas bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Di Malang pun ada politikus muda yang sudah terpilih menjadi bagian legislatif daerah, meski masih menjadi mahasiswa. Dilanjutkan oleh sosok rektor muda di Perguruan Tinggi ASIA Malang yang masih berusia 27 tahunan. Luar biasa!

Melalui contoh-contoh itu dan sebenarnya masih banyak lagi. Belum lagi jika harus menyentuh ranah entertainment dan creativity, maka akan lebih banyak lagi orang-orang hebat yang dapat kita kenal yang ternyata masih sangat muda.

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa fenomena muda-mudi menjadi bagian dari punggung pembangunan negara sudah biasa. Bahkan, jika merunut pada sejarah, Indonesia dapat merdeka juga tak lepas dari keterlibatan generasi muda. So, why not to do it again?

Begitu pula jika kita harus melihat nama-nama yang masuk ke daftar staf khusus Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang memang mampu untuk beraksi lebih, khususnya dalam upaya memajukan negeri ini. 

Jika negara ini terbangunkan oleh generasi muda, maka bukanlah suatu keajaiban untuk melihat negara ini termajukan oleh generasi muda. Lagi, pertanyaan yang sama: mengapa?

Generasi muda selalu berani menghadapi kesalahan. Generasi muda juga masih memiliki rentang waktu untuk memperbaiki kesalahan. Generasi muda juga masih sangat optimis untuk masa depan.

Tiga poin ini sangat berguna untuk membuat negeri ini tidak hanya berbicara soal bagaimana cara bertahan hidup. Tetapi, bagaimana pula cara melangkah maju. Situasi ini sebenarnya dapat dilakukan oleh generasi tua yang mana kaya akan pengalaman.

Namun, kita harus mawas diri terhadap apa yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Yaitu, mengulangi apa yang sudah pernah terjadi. Entah sadar atau tidak. Itulah yang biasanya terlihat ketika kita harus bertemu dengan orang-orang lama.

Baca juga: Kebiasaan Kita. (DeddyHS_15/Kompasiana)

Perkenalan staf khusus Presiden RI Joko Widodo. (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Perkenalan staf khusus Presiden RI Joko Widodo. (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Akan menjadi perbedaan, jika itu terjadi pada orang baru. Ketika orang baru melakukan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lama, itu adalah kewajaran. Karena, mereka biasanya masih "buta". 

Namun, ketika itu terjadi lagi pada orang lama, kita akan melihat betapa waktu terasa tidak berguna. Karena, orang tersebut tidak menggunakan banyak waktunya untuk memperbaiki kapasitasnya.

Meskipun kesalahan bisa muncul bersama orang-orang baru. Namun, pembelajaran bagi orang-orang baru tersebut bisa saja berbeda dengan orang-orang lama. Karena, pemikiran orang-orang baru, khususnya saat ini, pasti berbeda dengan orang-orang lama.

Generasi lama tidak memiliki teknologi secanggih saat ini di usia yang sama dengan generasi baru. Sedangkan generasi baru sudah memiliki teknologi canggih di usia yang masih muda. Sehingga, mereka tahu apa yang akan terjadi nanti dan mereka bisa saja menjadi bagian dari itu.

Salah satu perbedaan mendasar antara orang lama dengan orang baru adalah orang baru saat ini cenderung lebih menginginkan kesetaraan. Contohnya, orang zaman sekarang berlomba untuk berbicara. Entah berwujud apa dan melalui media apa.

Pernyataan Jang Hansol di konten videonya beberapa waktu lalu. (Dokpri/tangkapan layar/Youtube/Korea Reomit)
Pernyataan Jang Hansol di konten videonya beberapa waktu lalu. (Dokpri/tangkapan layar/Youtube/Korea Reomit)
Situasi ini jelas berbeda dengan orang zaman dulu yang meskipun memiliki keinginan yang sama, namun mereka tidak memiliki media yang cukup untuk mewadahinya. Sehingga, situasi ini melahirkan orang-orang yang "just wait" bukan "let's do it".

Jika tidak percaya, silakan lihat salah satu contohnya di toko buku, semisal Gramedia. Maka di sana dapat kita temui buku-buku yang dihasilkan oleh penulis-penulis muda yang jumlahnya tidak sedikit. Terlepas dari kualitasnya, ini dapat menjadi bukti bahwa ini memang sudah zamannya mereka untuk berbicara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN